Idul Fitri dan Pentingnya Mempertahankan Khittah Anti-Kekerasan Pasca Ramadan

Idul Fitri dan Pentingnya Mempertahankan Khittah Anti-Kekerasan Pasca Ramadan

- in Suara Kita
201
0

Idul Fitri bukanlah klimaks apalagi akhir dari perjalanan spiritual Ramadan yang harus kita sambut dengan euforia nir-makna. Idul Fitri bukanlah momen pesta-pora apalagi sarana balas dendam dengan melepaskan segala hasrat duniawi. Alih-alih klimaks atau akhir dari perjalanan spiritual, Idul Fitri ialah awal dari babak baru perjalanan spiritual kita. Setelah digembleng selama sebulan penuh di bulan Ramadan, kini kita menapaki fase baru. Perilaku kita pasca-Ramadan ini menjadi penentu apakah kita berhasil naik kelas atau tidak.

Maka, penting kiranya membangun satu kesadaran bahwa Idul Fitri ialah momentum awal untuk membangun spiritualitas baru. Kita harus memiliki cara pandang baru, baik dalam hal keberagamaan maupun kebangsaan. Dari sisi keagamaan, kita perlu memperkuat corak keberagamaan inklusif dan moderat yang bertumpu pada praktik toleransi dan pluralisme. Sedangkan dari sisi kebangsaan, kita perlu memperkokoh rasa persaudaraan dan solidaritas yang dilandasi oleh spirit nasionalisme.

Memaknai hakikat Idul Fitri dari dimensi kebangsaan ini penting mengingat dalam beberapa tahun belakangan bangsa kita didera berbagai ujian sosial. Maraknya ujaran kebencian dan mewabahnya kultur kekerasan di ruang publik kita menandai bahwa bangsa ini tengah ada dalam situasi krisis. Sudah terlalu lama bangsa ini dikuasai oleh nafsu negatif, sehingga individu dan masyarakatnya terjebak dalam labirin kebencian dan spiral kekerasan yang seolah tidak berujung.

Fenomena kebencian dan kekerasan di ruang publik itu pada dasarnya merupakan pengingkaran terhadap fitrah manusia. Tersebab, pada dasarnya semua manusia diciptakan sebagai pribadi yang suci (fitrah). Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai insan yang murni dan memiliki kehendak atau kecenderungan untuk berbuat baik pada sesama makhluk Allah.

Namun, di sisi lain manusia juga dikaruniai beragam nafsu, antara lain nafsu amarah, lawwamah, dan sebagainya. Keberadaan nafsu-nafsu negatif dalam diri manusia ini merupakan semacam ujian agar manusia senantiasa berpegang teguh pada ajaran agama. Maka, bulan Ramadan yang baru saja kita lewati pada dasarnya merupakan sebuah perjalanan spiritual sekaligus madrasah bagi umat Islam untuk menempa diri dalam mengendalikan hawa nafsu negatif. Dalam pandangan tasawuf, nafsu negatif itu mustahil dihilangkan dari diri manusia lantaran hal itu merupakan bagian inheren dari penciptaan manusia. Yang bisa dilakukan adalah mengendalikannya sampai pada batas seminimal mungkin.

Merawat Spirit Anti-Kekerasan Pasca Ramadan

Urusan mengekang hawa nafsu negatif, termasuk di antaranya kebencian dan kekerasan ini tentu tidak hanya dilakukan pada bulan Ramadan saja. Di luar bulan Ramadan, kita harus tetap merawat kultur anti-kekerasan dan kebencian. Di bulan Ramadan barangkali kita bisa dengan mudah mengekang nafsu kebencian dan kekerasan. Namun, bagaimana di bulan-bulan lain? Keberhasilan kita dalam merawat kultur anti-kekerasan pasca-Ramadan menjadi penanda bahwa kita benar-benar menyelami hakikat puasa.

Hakikat puasa sebenarnya bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa ialah sarana untuk melatih diri mengendalikan hawa nafsu negatif, terutama hasrat untuk membenci dan membuat kerusakan di muka bumi. Capaian tertinggi orang yang menjalankan shiyam ialah kembalinya jiwa dan hati ke kondisi fitri alias suci. Dalam terminologi Jawa, suci dimaknai sebagai kondisi suwung atau kosong.

Suwung atau kosong tidak dimaknai sebagai kondisi linglung atau bingung. Melainkan satu kondisi ketika jiwa dan pikiran terkonsentrasi untuk melahirkan ide, gagasan, dan perilaku yang konstruktif. Di bulan Ramadan, kita telah membiasakan otak, hati, dan anggota tubuh untuk senantiasa taat pada ajaran agama. Spirit itulah yang harus kita rawat di bulan selain Ramadan.

Ramadan memang telah berlalu. Namun, jangan sampai ghiroh kita dalam menekan hawa nafsu kebencian dan kekerasan meredup. Adalah tanggung jawab bersama seluruh umat Islam untuk menjaga nyala semangat anti-kekerasan dan kebencian agar tetap hidup sepanjang tahun. Marilah kita jaga agar hari-hari pasca Ramadan ini tidak dinodai oleh virus kebencian dan kekerasan.

Facebook Comments