Idul Fitri, Halal bi Halal dan Rekonsiliasi Nasional

Idul Fitri, Halal bi Halal dan Rekonsiliasi Nasional

- in Suara Kita
337
3

Pemilihan presiden memang telah usai, tapi dampak yang ditimbulkan belum benar-benar hilang. Aroma perpecahan di antara sesama bangsa karena berbeda dukungan masih tercium sangat kuat. Di sana-sini masih terjadi debat kusir antar masing-masing pendukung. Persebaran hoax, fitnah dan ujaran kebencian juga masih ada. Jangankan reda, malah semakin menggila! Kanal-kanal media sosial dipenuhi caci maki dengan bahasa kasar dan rasis. Sungguh, sama sekali bukan pribadi bangsa Indonesia yang lemah lembut seperti pernah disebut Multatuli.

Elit-elit politik juga belum menujukkan i’tikad baik untuk bersatu. Mereka hobi sekali memantik perpecahan di antara sesama pendukung. Mempertontonkan akrobat-akrobat politik yang tak elok sama sekali, saling sindir, saling tuduh dan lain sebagainya. Belum lagi isu referendum kembali muncul. Adalah Ketua Partai Aceh Muzakir Manaf yang mencetuskan isu agar Aceh melakukan referendum. Jika isu tersebut dibiarkan liar, maka akan berpengaruh pada daerah-daerah lain di Indonesia. Di saat kondisi seperti ini, isu referendum sangat berbahaya sekali bagi keutuhan NKRI.

Sejarah yang Berulang

Dalam keilmuan sejarah, ada sebuah teori bernama teori siklus dalam memandang gerak dan arah sejarah. Teori tersebut menyebutkan bahwa peristiwa sejarah akan selalu berulang, hanya aktornya saja yang berbeda. Kata pepatah dari negeri Menara Eifel, “i’histoire se repete” yang berarti sejarah akan berulang.

Sesungguhnya yang terjadi hari ini sudah pernah terjadi di tahun 1948, tiga tahun setelah republik ini merdeka. Pada tahun itu, perpecahan sudah menghantui negeri yang baru lahir ini. Para elit politik saling bertengkar dan tidak mau duduk bersama dalam satu forum. Sementara itu, pemberontakan terjadi di mana-mana, di antaranya pemberontakan DI/TII dan PKI Madiun. Kondisi tersebut membuat khawatir Bung Karno.

Masih pada tahun yang sama, di pertengahan bulan Ramadan, Bung Karno memanggil Rais Aam NU KH. Wahab Hasbullah ke Istana Negara.  Bung Karno bercerita kepada Kyai Wahab tentang kondisi perolitikan di tanah air dan meminta saran untuk mengatasi permasalahan tersebut. Kyai Wahab lalu memberi saran agar Bung Karno menyelenggarakan silaturrahim karena sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri akan tiba. Bung Karno masih belum setuju, karena istilah silaturrahim sudah biasa. Bung Karno meminta istilah yang spesial, beda dari yang lain.

Bukan Kyai Wahab namanya kalau tidak bisa memberikan jawaban. Kyai Wahab dengan cerdas lalu menjelaskan bahwa para elit politik saat itu tidak mau bersatu karena saling menyalahkan. Dan saling menyalahkan itu dosa. Dosa itu haram. Agar mereka tidak punya dosa (haram) maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk bersama dalam satu forum, saling memaafkan dan menghalalkan. Makanya, istilah silaturrahim besar itu diberi nama halal bi halal. Mendengar penjelasan tersebut, Bung Karno tersenyum, tanda setuju.

Baca juga : Rekonsiliasi di Hari Fitri

Bung Karno kemudian menyelenggarakan silaturrahim besar saat idul fitri yang disebutnya dengan halal bi halal. Bung Karno mengundang semua elite politik untuk menghadiri acara itu di Istana Negara. Lewat acara tersebut, mereka mau duduk bersama dalam satu meja dan mau berdisuksi untuk kebaikan negeri. Sejak saat itu, tradisi halal bi halal terus diselenggarakan oleh instansi-instansi pemerintah yang kemudian diikuti oleh masyarakat secara luas. Akhirnya halal bi halal menjadi tradisi rutin di Indonesia yang diselenggarakan saat Hari Raya Idul Fitri tiba.

Pelajaran Penting

Kisah tersebut tentu memberikan pelajaran penting bahwa halal bi halal telah sukses menjadi media rekonsiliasi nasional bangsa Indonesia pada tahun 1948 dan tahun-tahun sesudahnya. Halal bi halal  mampu menyelamatkan bangsa Indonesia dari perpecahan. Elite-elite politik yang awalnya gontok-gontokan akhirnya bersatu kembali. Dan bersatunya elite-elite politik adalah kemaslahatan untuk bangsa dan negara ini. Jika tidak ada halal bi halal di tahun tersebut, tentu akan lain ceritanya.

Sebentar lagi, Hari Raya Idul Fitri akan tiba. Itu adalah momentum besar yang bisa digunakan untuk melakukan rekonsiliasi nasional lewat acara halal bi halal. Sudah selayaknya kita juga bisa menggunakan tradisi halal bi halal untuk menjadi lem yang merekatkan kembali retakan-retakan dalam rumah besar bernama Indonesia ini. Jangan sampai momen ini lewat begitu saja.

Semoga para elite-elite politik segera menunjukkan i’tikad baik demi kemaslahatan bangsa ini. Dan menggunakan acara halal bi halal  sebagai media untuk bertemu sekaligus media pemersatu. Agar para pendukung di akar rumput melihat kesejukan, bukan bara panas yang bisa membakar dan menghancurkan. Tentu saja, semua itu tidak akan terjadi tanpa adanya sifat lapang dada di dalam diri masing-masing petinggi negara ini. Lapang dada untuk menerima, sekaligus memaafkan sesama saudara sebangsa sendiri.

Seperti kata Bung Karno, “negara ini, Republik Indonesia, bukanlah milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik satu kelompok etnis, bukan juga milik suatu adat istiadat tertentu, tapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!” Oleh karenanya, mari kita semua bersatu jangan mau diadu. Mari gunakan momen halal bi halal menjadi media rekonsiliasi nasional untuk Indonesia maju di masa depan. Kyai Wahab sudah memberi arahan, saatnya kita melakukan!

 

 

Facebook Comments