Idul Fitri, Lebaran Ketupat dan Seni Memaafkan

Idul Fitri, Lebaran Ketupat dan Seni Memaafkan

- in Suara Kita
149
0
Idul Fitri, Lebaran Ketupat dan Seni Memaafkan

Idul fitri merupakan kelanjutan dari ibadah puasa dan zakat (fitrah), yang di dalam esensi ibadah ini mengandung makna pembersihan jiwa bagi seorang Muslim. Idul fitri menjadi momentum umat Islam kembali kepada fitrahnya, yaitu menjadi manusia baru, yang jiwanya bersih suci dan tidak ada dosa.

 Perayaan Idul fitri menjadi momentum membersihkan jiwa dengan jalan memperbanyak bertakbir, bertahmid berhalal-bihalal dan bermaaf-maafan dengan semesta baik manusia dan alam. Sedangkan puasa mengandung dimensi pembersihan jiwa dari godaan hawa nafsu. Kemudian zakat merupakan jalan pembersihan jiwa seseorang dari harta yang dimiliki dengan jalan berbagi kepada sesamanya, (Murtada Muthahari, 2008:19).

Hari raya idul fitri diartikan sebagai wujud kembali pada hati, jiwa dan fikiran yang suci sehingga bisa mencapai puncaknya dengan kembali lagi pada hati dan jiwa yang asli, layaknya seorang bayi yang baru lahir di dunia. Karena manusia pada dasarnya memiliki fitrah sebagai mahhluk yang memiliki semua fitrah yang dimiliki oleh semua yang ada di alam dunia. Misalnya malaikat memiliki fitrah yang baik, karena mereka senatiasa taat, bertasbih, dan tidak pernah melanggar perintah Allah. Sedangkan fitrah syaitan itu buruk dan durhaka.

Lebaran Ketupat

Pasca hari raya idul fitri terdapat tradisi dalam budaya Jawa yang masih dipertahankan hingga kini. Yakni lebaran Ketupat, yang berasal dari filosofi Ngaku Lepat (mengakui kesalahan). Lebaran Ketupat bukanlah tradisi yang keluar dari ajaran Islam sebagaimana banyak dituduhkan oleh sebagian kalangan. Mengingat di dalamnya terdapat dimensi sedekah dan silaturahmi yang bahkan sangat dianjurkan dalam Islam.    

Di dalam lebaran ketupat terdapat dimensi Maqasidus Syariah yang salah satunya misalnya hifdzul mal, mengingat lebaran ini dapat menghidupkan perekonomian warga sekitar, baik yang menjual ketupat atau penjual janur untuk bungkus ketupatnya. Dan terjadi perputaran ekonomi yang cukup besar karena biasanya selain diadakan lebaran ketupat juga dibarengi dengan kegiatan halal-bihalal (reuni) keluarga bahkan lebih dari 5 generasi yang berkumpul. 

Di momen sakral lebaran ini, kita dianjurkan untuk mengakui kesalahan kita sendiri yang telah dilakukan, di samping itu kita juga memaafkan kesalahan orang lain kepada kita (saling memaafkan). Karena dengan cara inilah kita akan kembali ke fitrah kita yang sejati.   

Memaafkan

Dalam konteks ini, mengingat fitrah manusia yang dinamis tersebut, idealnya manusia perlu menjadi manusia yang autentik, yakni manusia yang tidak hanya saleh secara vertikal namun juga saleh secara horizontal. Di momen lebaran, salah satu cara untuk kembali menjadi fitrahnya sebagai seorang manusia, adalah dengan memupuk rasa saling memaafkan, karena banyak di antara kita seringkali masih dominan menyalahkan daripada memaafkan orang lain.

Apalagi dewasa ini terma tentang memaafkan menjadi salah satu diskursus penting dalam disiplin ilmu Psikologi. Karena telah banyak riset tentang memaafkan (forgiveness) ini dalam kerangka pengembangan studi kesehatan mental (mental health). Dalam konteks ini, ada salah satu quote menarik yakni: “memaafkan kesalahan orang lain itu bukan untuk diri orang lain, tapi demi kesehatan mental kita.”

Mengucapkan maaf ini memang sepintas sepele, namun sejatinya ia memiliki makna yang sangat luar biasa dalam proses perbaikan mental seseorang. Kata-kata ini justru menjadi obat diri untuk keluar dari belenggu penyakit mental yang akut. Umummnya orang memahami bahwa memaafkan adalah untuk mengenakkan orang lain. Sehingga banyak orang yang enggan untuk memaafkan kesalahan orang lain. Akhirnya kekesalannya dipendam selama bertahun-tahun bahkan seumur hidup, yang kemudian menjadi “penyakit dalam” kronis bagi manusia.

Padahal, meminjam bahasa Fakhru Riza (2022), bahwa memendam kemarahan kepada orang lain bertahun-tahun itu malah justru menyusahkan batin kita sendiri. Hal itu merugikan dua kali. Pertama, dia sudah bikin sakit hati kita. Kedua, sakit hati itu kita pendam dan rasakan seumur hidup. Psikologi menganjurkan untuk memaafkan orang lain. Kita memaafkan orang lain itu bukanlah demi orang lain itu sendiri, tapi demi mental kita. Setelah kita memaafkan orang lain, beban kemarahan yang ada di batin kita akan hilang. Sehingga pikiran kita pada gilirannya akan lega.

 Ternyata memaafkan seseorang bukan hanya sekedar perintah agama (QS. An-Nur/24:22), tetapi banyak manfaat yang didapatkan bagi kesehatan psikis seseorang, di antaranya adalah dapat mengurangi gejala stress, amarah dan juga gangguan kejiwaan. Psikolog McCullough (2007), mengemukakan bahwa memaafkan merupakan seperangkat motivasi untuk mengubah seseorang untuk tidak membalas dendam dan meredakan dorongan untuk memelihara kebencian terhadap pihak yang menyakiti serta meningkatkan dorongan untuk berekonsiliasi hubungan dengan pihak yang menyakiti.

Memaafkan itu mengedepankan moral kemanusiaan. Jadi, kita semua perlu terus belajar menjadi bijaksana, agar tidak mudah terjebak dalam kemarahan permanen. Pada akhirnya memaafkan menjadi jalan menyucikan diri dari kesombongan yang menjadi bagian integral dari kemanusiaan.

Karena dengan cara inilah kita dapat kembali ke fitrah kita sebagai manusia yang suci dari sifat syaitaniyah yang mampu menjurumuskan manusia ke dalam jurang kesesatan. karena inilah esensi kemenangan yang sejati yang kita rayakan di hari raya idul fitri ini. Wallahu A’lam.

Facebook Comments