Idul Fitri: Merajut Rekonsiliasi Nasional dan Menjaga Persatuan

Idul Fitri: Merajut Rekonsiliasi Nasional dan Menjaga Persatuan

- in Editorial
556
2
Idul Fitri: Merajut Rekonsiliasi Nasional dan Menjaga Persatuan

Ramadan berakhir dan hari raya kemenangan dikumandang. Takbir, tahmid, dan tahlil membahana sebagai bentuk pujian keagungan Allah di alam semesta. Itulah hari kebahagian dan kemenangan umat Islam setelah selama sebulan penuh berjihad melawan hawa nafsu dan memiliki perisai diri yang handal. Setelah meraih latihan itulah, Rasulullah bersabda: Hiasilah hari rayamu dengan takbir.

Hari raya kemenangan karena umat Islam yang berhasil menjalankan ibadah Ramadan dengan memiliki status sebagai kembali ke fitri (idul fitri). Kembali ke fitri bukan hanya harfiyah bahwa umat Islam bisa kembali berbuka di siang hari. Kembali ke fitri adalah kembali pada kesucian. Rasulullah SAW yang artinya “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alayh). Inilah kemenangan yang diharapkan ketika berbagai dosa telah dilebur dan segala keburukan telah dipagari dengan iman dan ketakwaan.

Jika melalui momentum Ramadan Allah Maha Pengampun melapangkan ampunan dosa kepada umatnya bahkan dosa yang terdahulu agar tidak terbebani kesalahan masa lalu, semestinya di hari yang fitri ini umat Islam dapat merajut hari baru dengan saling memaafkan. Umat Islam dan bangsa ini harus mampu keluar dari kesalahan masa lalu dan terbebas dari hiruk-pikuk kebencian dengan membuka lebar pintu maaf.

Selama setahun ini banyak sekali peristiwa yang memposisikan diri kita dengan yang lain pada dua kutub berseberangan. Ada luapan emosi dalam berbagai tragedi sosial politik yang meretakkan hubungan sosial antar masyarakat. Ujaran kebencian, fitnah, makian, hingga ajakan kekerasan meluas dan mudah viral apalagi dengan sarana digital.

Baca juga : Filosofi Lebaran dan Momentum Kembali Fitri

Kita kadang mudah lupa dan abai bahwa kondisi rentan konflik apalagi chaos adalah ladang subur tumbuhnya kepentingan yang besar untuk meruntuhkan kesatuan bangsa. Kita harus belajar dari banyak negara yang gagal (failed states) di mana kelompok perusuh, radikal dan bahkan terorisme mudah masuk meluluhlantakan negara dalam kondisi masyarakat terbelah, dirasuki kebencian dan mudah tersulut provokasi.

Melalui momentum Ramadan seluruh masyarakat Indonesia telah belajar untuk menahan diri dari upaya yang menanamkan kebencian dan perpecahan. Riak-riak kecil konflik dan benturan dalam kontestasi meraih kebaikan pasti ada. Namun, sebagai bangsa besar kita butuh banyak negarawan yang hadir untuk memilih rekonsiliasi dari pada kompetisi tiada akhir, memilih persatuan daripada perpecahan dan memilih kepentingan nasional daripada kepentingan individual dan kelompok.

Bangsa ini mempunyai momentum yang relevan untuk memperbaiki retakan-retakan sosial tersebut melalui hari kemenangan Idul Fitri. Idul Fitri berarti kembali ke fitrah, suci, awal dan asli. Marilah bangsa ini kembali kepada watak kebangsaan dan cita-cita nasional untuk meraih kesejahteraan, perdamaian dan persatuan.

Idul Fitri adalah momentum untuk mengembalikan cita-cita kebangsaan awal (fitrah) untuk persatuan dan kesatuan. Momentum Idul Fitri juga menjadi sarana saling memaafkan dan membangun rekonsiliasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Idul Fitri adalah kembali kepada komitmen kebangsaan untuk bersama menyamakan visi dalam memajukan negara kita tercinta ini.

Facebook Comments