Idul Fitri; Mereduksi Nalar Kekerasan, Menumbuhkan Fitrah Kemanusiaan

Idul Fitri; Mereduksi Nalar Kekerasan, Menumbuhkan Fitrah Kemanusiaan

- in Suara Kita
216
0
Idul Fitri; Mereduksi Nalar Kekerasan, Menumbuhkan Fitrah Kemanusiaan

Idul Fitri selalu menjadi momen perayaan keagamaan yang sentimentil dan melankolis bagi sebagian besar umat Islam di Indonesia. Di satu sisi, berakhirnya Ramadan menyisakan sebuah perasaan masygul. Bulan suci nan-mulia yang dipenuhi rahmat dan ampunan itu sudah berlalu tanpa kita pernah tahu apakah akan bersua kembali.

Di sisi lain, Idul Fitri juga menerbitkan suka cita yang tidak terperi. Idul Fitri tidak sekadar hari raya keagamaan bagi umat Islam. Idul Fitri ialah peristiwa teologis, sosiologis, sekaligus kultural yang bersifat massal dan kolosal. Terlebih tahun ini yang merupakan Idul Fitri pertama setelah kita melewati masa pandemi.

Euforia masyarakat merayakan Idul Fitri sudah terjadi sejak beberapa hari sebelumnya. Pasar ramai, pusat perbelanjaan sesak, jalanan macet oleh para pemudik. Semua sibuk dan antusias menyambut hari kemenangan. Meski demikian, kita tidak boleh hanyut dalam euforia Idul Fitri yang kerap menjebak kita pada artifialitas tanpa makna.

Di titik ini, kita perlu meneroka ulang makna dan hakikat Idul Fitri, utamanya dalam konteks diri pribadi secara psikologis maupun dalam konteks masyarakat atau secara sosiologis. Mengutip Komaruddin Hidayat dalam sebuah esainya, Idul Fitri pada dasarnya ialah sebuah simbolisasi dari pembebasan dan kemenangan. Pembebasan dalam artian bahwa Idul Fitri ialah penanda bahwa umat Islam telah bebas dari kewajiban menahan lapar, dahaga, dan syahwat seksual di siang hari.

Ramadan Sebagai Madrasah Ruhani
Kemenangan dalam artian bahwa di hari itu, umat muslim menjalani semacam prosesi “wisuda” lantaran telah lulus dalam ujian Ramadan. Rangkaian ibadah Ramadan, menurut Hidayat bukanlah sekadar ritual nirmakna. Lebih dari itu, rangkaian ibadah Ramadan, mulai dari puasa, tarawih, tadarus, zakat fitrah, sodaqoh dan sebagainya merupakan madrasah ruhani untuk membentuk pola pikir dan perilaku yang humanis.

Dari sudut pandang psikologis, manusia yang humanis ialah manusia yang mampu menekan kehendak destruktifnya ke titik paling rendah. Dalam tinjuan psikologis, manusia selalu memiliki dua kecenderungan, yakni kecenderungan untuk merusak diri sendiri dan orang lain atau diistilahkan sebagai Eros dan kehendak untuk melindungi diri dan orang lain atau disebut Thanatos. Manusia yang sehat, dalam tilikan ilmu psikologi ialah manusia yang mampu mengendalikan hasrat destruktifnya (Eros) dan mengembangkan dimensi imajinasi konstruktifnya Thanatos-nya.

Ramadan sebagai sebuah madrasah spiritual dan sosial menggembleng mentalitas manusia agar senantiasa mengedepankan sikap-sikap humanistik seperti empati, simpati, peduli, dan sejenisnya. Tidak hanya itu, rangkaian ibadah puasa selama sebulan penuh kiranya juga mampu mereduksi, mengeliminasi, bahkan menghapus penyakit individu maupun sosial seperti kebencian, permusuhan, dan kekerasan.

Maka, hakikat kemenangan di hari Idul Fitri ini bukanlah sekadar mampu melewati bulan Ramadan dan mengisinya dengan ritual ibadah dan amal saleh. Lebih dari itu, hakikat kemenangan di hari Idul Fitri ialah manakala kita berhasil menundukkan hasrat destruktif kita mulai dari kebencian hingga kekerasan dan mampu menumbuhkan prinsip kemanusiaan.

Kembali Ke Fitrah Kemanusiaan

Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa fitrah manusia itu pada dasarnya cenderung pada kebaikan, persaudaraan, dan perdamaian. Namun, fitrah itu kerapkali tertutupi oleh kerak-kerak kebencian, permusuhan, dan kekerasan yang sengaja difabrikasi oleh manusia itu sendiri. Ungkapan Al Ghazali ini kiranya relevan untuk membaca situasi kebangsaan kita belakangan ini. Dalam beberapa tahun belakangan ini kita seolah telah kehilangan jatidiri kita sebagai manusia Indonesia yang santun, ramah, dan cinta damai.

Berbagai problem sosial, politik, dan agama yang mencuat ke permukaan telah menimbulkan berbagai patologi sosial, mulai dari kebencian, provokasi, adu-domba, bahkan kekerasan komunal. Maka dari itu, hari Idul Fitri yang menjadi hari raya kolosal bagi masyarakat Indonesia ini kiranya menjadi momentum bersama untuk mereduksi nalar kekerasan dan menumbuhkan fitrah kemanusiaan.

Setelah dosa-dosa kita lebur dibakar di dalam kawah candradimuka Ramadan, kini saatnya kita menelusuri kembali akar kesejatian kita sebagai manusia. Idul Fitri yang identik sebagai hari kemenangan ini kiranya menjadi momentum tepat untuk melakukan rekonsilasi baik secara individual maupun sosial. Rekonsiliasi sosial penting agar bangsa ini lepas dari nalar kebencian dan kekerasan yang salama beberapa tahun ini mirip kanker yang menggerogoti tubuh masyarakat dari dalam. Arkian, mari merayakan Idul Fitri dengan semangat kemenangan melawan nalar kekerasan dan spirit untuk kembali ke fitrah kemanusiaan.

Facebook Comments