Idul Fitri; Momentum Kemenangan Melawan Kebencian dan Kekerasan

Idul Fitri; Momentum Kemenangan Melawan Kebencian dan Kekerasan

- in Suara Kita
231
0
Idul Fitri; Momentum Kemenangan Melawan Kebencian dan Kekerasan

Idul Fitri menjadi momen yang selalu dinanti oleh seluruh umat Islam di dunia. Terlebih-lebih lagi di Indonesia. Bagi muslim di Indonesia, Idul Fitri tidak lagi sekadar menjadi peristiwa keagamaan, namun juga hajatan sosial akbar. Tahun ini merupakan perayaan Idul Fitri pertama setelah dua tahun kita bergelut dengan pandemi. Ada semacam ledakan antusiasme dan animo masyarakat dalam merayakan lebaran.

Fenomena itu tentu wajar belaka. Idul Fitri memang didesain sebagai hadiah Allah untuk umat-nya yang berhasil melalui ujian di bulan Ramadan, menundukkan hawa nafsunya, dan menyisihkan sebagian hartanya untuk berbagi pada sesama. Allah menganugerahkan Idul Fitri sebagai hari kemenangan umat Islam. Layaknya hari kemenangan, maka suka cita dan euforia ialah lumrah adanya.

Bagi masyarakat Indonesia, lebaran juga identik dengan tradisi mudik. Yaitu perjalanan pulang dari perantauan ke kampong halaman, tempat asal usul dan tanah kelahiran. Mudik tidak sekadar migrasi manusia dari satu tempat ke tempat lain. Di dalamnya terkandung nilai filosofis yang mendalam. Yakni adanya kesadaran bahwa sejauh-jauhnya kita berjalan, pasti ada titik mula atau awal yang akan selalu memanggil kita untuk kembali.

Tradisi mudik pada dasarnya sangat relevan dengan momen Idul Fitri. Tersebab, Idul Fitri juga mengandung makna kembali ke fitrah, alias kesucian manusia. Sementara mudik juga memiliki arti kembali ke asal-muasal kita, leluhur kita, yang membuka jalan keberadaan kita di dunia. Idul Fitri dan mudik sama-sama mengandung makna; kembali ke jatidiri manusia yang suci dan belum terkotori oleh nafsu-nafsu negatif.

Kehidupan yang penuh dinamika harus diakui kerap menjebak manusia dalam labirin keburukan, kekerasan, hingga kebinasaan. Hal itu pula yang selama beberapa tahun belakangan ini dirasakan oleh bangsa Indonesia. Persaingan politik praktis telah melatari kian parahnya polarisasi. Menguatnya konservatisme agama menyumbang andil pada maraknya intoleransi dan persekusi atas nama agama. Belum lagi, bangkitnya gerakan radikalisme keagamaan yang merongrong falsafah negara yakni Pancasila.

Dalam konteks kekinian, polarisasi politik, konservatisme agama hinga gerakan radikal tentu bisa dikategorikan sebagai wujud dari penyakit-penyakit sosial yang lahir dari hawa nafsu. Polarisasi politik lahir karena nafsu berkuasa yang tidak dapat dibendung. Konservatisme agama muncul karena nafsu merasa paling benar.

Sedangkan radikalisme lahir karena nafsu untuk memaksakan hasil penafsiran keagamannya terhadap orang lain. Pada titik tertentu, baik polarisasi politik, konservatisme agama maupun gerakan radikal sama-sama berpotensi melahirkan kebencian, kekerasan, dan perpecahan. Dalam beberapa tahun belakangan, kita menyaksikan sendiri maraknya ujaran kebencian dan praktik kekerasan sebagai konsekuensi logis dari berbagai penyakit sosial tersebut.

Bila merujuk pada al Quran, kemenangan Idul Fitri itu hendaknya digunakan untuk melaksanakan misi kemanusiaan. Di tengah situasi yang demikian inilah, Idul Fitri yang identik sebagai hari kemenangan idealnya menjadi momentum untuk mensucikan diri dan jiwa dari nalar dan kultur kebencian dan kekerasan. Setelah berhasil melalui ujian ketahanan nafsu selama bulan Ramadan, kita seharusnya juga mampu menundukkan hasrat kebencian dan kekerasan yang mengendap di alam bawah sadar kita.

Idul Fitri idealnya menjadi semacam momen rehumaniasi alias kembalinya kita pada fitrah kemanusiaan kita. Yakni insan yang steril dari anasir kebencian dan kekerasan. Dengan begitu, kita akan mampu membangun peradaban yang berbasis pada dialog, kesalingpemahaman (mutual understanding), toleransi, dan perdamaian.

Facebook Comments