Idul Fitri, Tradisi Halal Bihalal dan Ukhuwah Kebangsaan

Idul Fitri, Tradisi Halal Bihalal dan Ukhuwah Kebangsaan

- in Suara Kita
223
0

Halal Bihalal identik dengan Idul Fitri. Tradisi ini hanya ada di Indonesia. Adalah KH Wahab Chasbullah yang menggagas istilah Halal Bihalal. Kisahnya, pasca deklarasi kemerdekaan RI, tepatnya pada tahun 1948, disintegrasi mengancam bangsa Indonesia. Founding Fathers bangsa “bertengkar” tidak bisa akur duduk dalam satu meja untuk kompromi.

Suasana tambah runyam dengan terjadinya pemberontakan seperti yang dilakukan oleh DI/TII dan PKI di Madiun. Dalam situasi pelik dan runyam seperti itu, pada pertengahan Ramadhan tahun 1948 presiden Soekarno memanggil Kiai Wahab Chasbullah untuk dimintai saran pendapatnya tentang situasi politik Indonesia yang semakin memanas.

Ide cerdas muncul dari otak Kiai Wahab Chasbullah dengan memanfaatkan momentum bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Ia mengusulkan untuk menggagas silaturahmi pada hari raya Idul Fitri karena umat Islam diperintahkan untuk mengeratkan silaturahmi pada hari kemenangan tersebut.

Bung Karno masih ngeyel karena silaturahmi dianggap biasa. Ia menganggap silaturahmi merupakan istilah biasa, bukan luar biasa. Kiai Wahab Chasbullah kemudian menjelaskan bahwa istilah yang akan dipakai adalah “Halal Bihalal” bukan silaturahmi. Hal ini mengingat para elit bangsa saling menyalahkan. Saling menyalahkan adalah dosa, karena itu mereka harus duduk satu meja untuk saling memaafkan dan saling menghalalkan. Maka, kita pakai istilah Halal Bihalal, ucap Kiai Wahab Chasbullah.

Maka, pada saat hari raya Idul Fitri tiba, Bung Karno mengundang seluruh elit bangsa dan tokoh politik ke istana negara untuk menghadiri “Halal Bihalal”. Momen ini sukses mempertemukan mereka untuk saling menghalalkan dan hanya berpikir untuk bangsa serta menghilangkan perbedaan yang ada. Momen Halal Bihalal tersebut sukses. Para elit bangsa sepakat bahwa yang paling penting adalah menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Halal Bihalal tersebut mampu mewujudkan rekonsiliasi politik pasca kemerdekaan. Para elit politik dan tokoh elit bangsa sepakat bahwa persatuan dan kesatuan adalah hal utama dan pertama yang harus didahulukan. Halal Bihalal tersebut kemudian bertransformasi menjadi gerakan sosial yang masif di tanah air. Halal Bihalal terbukti mampu mewujudkan ukhuwah kebangsaan, menumbuhkan sikap saling mengasihi dan saling memaafkan antar anak bangsa.

Idul Fitri; Momentum Merajut Ukhuwah Kebangsaan

Hari raya Idul Fitri merupakan momentum mengokohkan silaturahmi. Pada hari itu, agama Islam memerintahkan untuk bersilaturahmi. Silaturahmi merupakan substansi dari ajaran agama Islam. Sebab, persaudaraan, kehangatan, ketentraman dan kedamaian hanya akan terwujud dengan silaturahmi.

Puasa Ramadhan adalah madrasah untuk mendidik muslim bertaqwa dan beriman. Islam menegaskan bahwa prasyarat keberimanan adalah menyambung tali silaturahmi. Silaturahmi bisa mengambil banyak bentuk, termasuk Halal Bihalal.

Silaturahmi sebagai prasyarat keberimanan ditegaskan oleh Nabi: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah mengokohkan silaturahmi”.

Melihat kondisi bangsa kita saat ini, Halal Bihalal menjadi keniscayaan. Umat Islam harus terus mentradisikan Halal Bihalal supaya ukhuwah kebangsaan selalu terjalin indah. Supaya apa yang kita lihat saat ini segera berakhir, dimana disetiap sudut ruang media sosial dipenuhi provokasi, umpatan, cacian, ujaran kebencian, permusuhan dan bahkan kekerasan seperti terorisme.

Akibatnya, nilai-nilai persaudaraan yang selama mengental dalam setiap pribadi anak bangsa tercerabut dan terkoyak-koyak. Bahkan di internal umat Islam sendiri terjadi kekacauan diakibatkan oleh tajamnya permusuhan akibat perbedaan pendapat. Umat Islam terbelah dan menjadikan preferensi pilihan madhabnya sebagai hakim untuk menilai kemudian menyalahkan muslim lain yang berbeda madhab/aliran.

Ada pergeseran identitas bangsa; dari ramah menjadi marah, dari toleran menjadi intoleran, dari persaudaraan menjadi permusuhan. Fanatisme buta mengental dan identitas kubu dan kelompok menebal. Citra dan identitas kebangsaan melemah dan terkoyak. Ancaman disintegrasi diambang mata. Negara kita yang damai dan tentram ada diambang batas kehancuran.

Momentum Idul Fitri selaiknya dijadikan momentum silaturahmi. Dalam konteks negara maka ukhuwah kebangsaan perlu untuk selalu dilestarikan. Halal Bihalal semestinya terus dihadirkan untuk merajut persaudaraan sebangsa tanpa harus dikotori fanatisme yang memang dilarang oleh agama.

Idul Fitri adalah hari dimana kita kembali fitrah, suci seperti bayi yang baru terlahir. Kefitrahan tersebut sejatinya tidak dikotori kembali dengan perbuatan-perbuatan yang selama Ramadhan kita dilatih untuk meninggalkan. Kebencian, adu domba, saling memusuhi, bertengkar dan segala angkara murka dilarang dilakukan pada bulan Ramadhan. Dan, sejatinya itu adalah latihan yang harus terus dipertahankan sampai kapanpun.

Manusia fitrah otomatis juga akan menerima realitas kefitrahan bangsa Indonesia yang plural. Kefitrahan bangsa ini harus disyukuri sebagai nikmat Tuhan dan kehendak-Nya. Kemajemukan adalah sunnatullah, ia tak terbantahkan dan merupakan khazanah kekayaan yang harus dihormati. Kekayaan khazanah budaya, agama, ras, bahasa dan lainnya merupakan keniscayaan. Mempertentangkannya sama saja mengecam Tuhan “Kenapa manusia harus multi agama, ras dan golongan”.

Segera, mari kita berbenah diri. Wujudkan silaturahmi di Idul Fitri supaya kasih sayang, saling menghormati, saling mengasihi dan persatuan serta kedamaian tetap terwujud di negara ini. Mari kita ber “Halal Bihalal” untuk merajut ukhuwah kebangsaan kita yang hari ini telah terkoyak-koyak.

Selamat merayakan hari raya Idul Fitri 1443 H, “Ja’alana al Allah wa iyyakum minal ‘Aidin wal Faizin wal Maqbulin”.

Facebook Comments