Idul Kurban: Mengorbankan Naluri Kekerasan dan Mengobarkan Kasih Sayang

Idul Kurban: Mengorbankan Naluri Kekerasan dan Mengobarkan Kasih Sayang

- in Suara Kita
121
2

Usianya ketika itu sudah tak lagi muda. Geraknya pun tak leluasa karena harus menjaga sang bayi tercinta. Namun, beliau tetap tegar, ikhlas, dan tawakal tatkala harus ditinggal sang suami di tengah padang gersang tak berpenghuni. Inilah sepenggal kisah seorang pejuang perempuan yang hidup ribuan tahun silam.

Beliau tak lain adalah Siti Hajar. Ia harus rela berlari-lari antara Safa dan Marwah demi menemukan sumber kehidupan, yakni mata air. Meski akhirnya, Allah pun menjawab perjuangan Siti Hajar dengan ditemukannya sumur Zam-zam. Sebagai wujud penghargaan, hingga kini momentum tersebut terus diamalkan dalam ritual ibadah haji jutaan manusia dengan melakukan sa’i. Air Zam-Zam pun tetap menjadi saksi bisu yang terus memancarkan air berlimpah.

Karena ketegaran dan keikhlasan sosok Siti Hajar lah, Ismail tumbuh menjadi anak yang shalih dan penuh keikhlasan. Puncaknya, dengan begitu mantap Ismail rela disembelih sang ayah demi wujud ketundukannya pada Sang Khaliq. Inilah momentum yang kemudian diperingati setiap tahunnya dengan Idul Adha.

Naluri Kekerasan

Beragam hikmah dapat kita petik dari seri perjalanan hidup Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Ismail AS. Ada pesan pengorbanan, ada pesan sosial, ada pesan kasih saying, ada pesan spiritual, dan sebagainya.

Sikap Ibrahim meninggalkan  Hajar dan Ismail adalah wujud ketundukan atas perintah-Nya. Tentu hal ini tidak termasuk dalam bentuk penelantaran terhadap istri dan anak. Alloh pun segera memberikan bantuan solusi guna melindungi Hajar dan Ismail.

Baca juga : Kurban untuk Menghargai Nyawa Manusia

Hajar yang ditinggal berdua dengan batinya pun terus bersabar. Ia tidak lantas emosional dan menelantarkan Ismail. Susah payah ia berupaya mencari sumber kehidupan.

Potret di atas menggambarkan keluarga dengan tingkat penghambaan dan kesabaran sangat tinggi dari masing-masing personilnya. Manusia sebenarnya dibekali oleh nafsu yang bisa mendorong munculnya naluri kekerasan.

Tanpa kesabaran tinggi, Hajar bisa saja emosi dan berlaku kekerasan atas bayinya Ismail. Demikian pula Ibrahim, jika tidak sabar dan tawakal bisa juga menyembelih Ismail dengan nafsu menyegerakan. Namun atas kesabarannya, hingga ia tidak sadar bahwa yang disembelih telah diganti domba oleh Allag SWT.

Kekerasan menjadi problem kontemporer. Mulai dari kekerasan lingkup rumah tangga, masyarakat hingga munculnya tindak radikalisme dan terorisme. Pihak yang rentan adalah anak dan perempuan. Komnas Perempuan (2019) melaporkan jumlah kekerasan terhadap perempuan sebanyak 406.178 kasus pada 2018.

Bentuk kekerasan yang mendominasi adalah kekerasan seksual sebanyak 64%  lalu kekerasan psikis sebanyak 20%, kekerasan ekonomi sebanyak 9% dan kekerasan fisik sebanyak 7%. Angka ini akan semakin tinggi jika mengikuti pendapat Ayu Utami (2013) bahwa kekerasan seksual tidak hanya dimaknai sempit secara fisikal namun hingga emosional dan psikilogis.

Kasih Sayang

Sikap Ibrahim, Hajar dan Ismail semuanya mengajarkan kasih sayang. Mereka menjalankan perintah Allah dengan penuh kasih sayang. Tanggung jawab sebagai suamai, ayah, istri, ibu, dan anak dijalankan masing-masing dengan spirit kasih sayang.

Kasih sayang memiliki makna yang tidak terbatas. Rasa kasih sayang kepada makhluk lain merupakan fitrah yang dimiliki manusia. Muslim harus menempatkan rasa kasih sayang ini sesuai kodratnya dan tidak melewati batas-batas hukum Islam.

Islam adalah agama yang sejak keberadaannya selalu menebarkan kasih sayang di muka bumi. Dalam Surat At Taubah ayat 128, Allah SWT berfirman, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. Dari ayat tersebut kita bisa mengetahui bahwa Islam sendiri diturunkan dengan penuh kasih sayang kepada semua umat manusia.

Rasulullah bersabda, “Barang siapa tidak menyayangi manusia, Allah tidak akan menyayanginya” (HR. Turmudzi)Hadis tersebut menyebutkan ‘manusia’ bukan hanya saudara muslim. Kita bisa mengetahui bahwa Islam mengajarkan kita untuk menyayangi semua manusia di bumi.

Dalam hadis lain juga diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Sekali-kali tidaklah kalian beriman sebelum kalian mengasihi”. Kemudian Sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, semua kami pengasih”. Rasulullah bersabda kembali, “Kasih sayang itu tidak terbatas pada kasih sayang salah seorang di antara kalian kepada sahabatnya (mukmin), tetapi bersifat umum (untuk seluruh umat manusia” (H.R. Ath Thabrani).

Momentum Idul Kurban memberikan refleksi kepada muslim untuk mengorbankan dan menyembelih naluri kekerasan. Kekerasan hanya digunakan ketika melawan kekejaman. Senyampang aktualisasi itu, maka rasa kasih sayang mesti dikobarkan dan dibuktikan dalam kehidupan umat Islam.

Facebook Comments