Ikhtiar Mencegah Intoleransi dan Ekstremisme di Kalangan ASN

Ikhtiar Mencegah Intoleransi dan Ekstremisme di Kalangan ASN

- in Suara Kita
632
0
Ikhtiar Mencegah Intoleransi dan Ekstremisme di Kalangan ASN

Mungkinkah kalangan ASN terpapar radikalisme beragama? Sangat mungkin. Kalaupun tidak tampak terang untuk saat ini, namun untuk menelisik kebenarannya tidak sulit. Tipikal pemikiran keagamaan yang cenderung keras, memonopoli kebenaran, fanatisme dan intoleran secara diam-diam banyak diidap oleh para ASN. Itulah mengapa mantan Menag Fachrul Razi akhir 2019 lalu melempar wacana cadar dan cingkrang. Lalu setahun kemudian dengan istilah good looking. Dengan demikian, radikalisme memapar lingkungan ASN bukan barang baru lagi, tapi sudah lama.

Kilas balik paham radikal telah menyusup ke lingkungan ASN adalah ketika Yudi Zulfahri dan beberapa nama lain terlibat secara nyata dengan jaringan terorisme di Indonesia. Kejahatan terorisme yang dilakukan orang-orang yang pernah menyandang tugas aparatur sipil negara menjadi presiden nyata bercokolnya paham radikalisme agama di lingkungan ASN. Faktor muasal paling signifikan keterlibatan mereka adalah setelah mengikuti pengajian kelompok ekstrem.

Karenanya, mencegah intoleransi dan ekstremisme di lingkungan ASN itu penting dan tugas mulia. Lalu kepada siapa tugas tersebut dibebankan?

Pertama, menjadi tugas semua pemangku kekuasaan dan kebijakan. Dengan cara bagaimana? Dengan cara merumuskan peraturan khusus yang bisa mengawal program pengarusutamaan moderasi beragama. Sebab akar dari radikalisme tidak lain adalah sikap berlebihan dalam beragama (ghuluw) yang diperingatkan oleh Nabi sebagai sikap yang menyesatkan.

Peraturan dalam konteks ini akan lebih baik dan lebih efektif serta memiliki power jika dilakukan secara sinergis antar lembaga pemerintah dan lembaga keagamaan yang berwawasan moderat. Seperti antar kementerian, antar pendidikan, dan antar lembaga yang lain. Membuat aturan bersama dan bekerja sama dalam membendung arus radikalisme supaya tidak menyusup ke dalam lingkungan ASN.

Kedua, jihad ilmiah atau wacana tanding. Siapa yang berkewajiban dalam hal ini? Kaum terdidik, seperti ulama, cendikiawan, kiai, ustad yang memiliki kualifikasi dan berwawasan moderat untuk berjibaku menahan laju radikalisme di tubuh ASN. Mereka harus turun gunung melakukan dan membumikan propaganda moderasi beragama untuk mematahkan propaganda radikalisme beragama. Perang tanding wacana secara terbuka harus dilakukan supaya masyarakat, khususnya ASN, memahami kekeliruan dan kesesatan doktrin radikalisme. Benar kesalahan doktrin radikalisme harus dibuka kedoknya, baiknya di dunia nyata maupun alam maya.

Mumpung jumlah kaum radikal tidak terlalu banyak, kaum mayoritas muslim Indonesia yang sedari dulu berpikiran moderat hendaklah selalu menghembuskan nafas moderasi beragama sehingga selalu menjadi wacana yang menarik untuk diperbincangkan di tingkat akar rumput. NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan dengan basis massa paling besar di Indonesia, mestinya selalu menggaungkan moderasi beragama supaya absolutisme beragama tidak bergerak laju dan tumbuh subur. Terutama dikalangan ASN yang memang semestinya memiliki kesetiaan kepada negara dan ideologi Pancasila.

Harus tegas dikatakan, “Apa yang hendak kita perjuangkan dengan slogan syariat Islam, sementara Pancasila sebagai ideologi bangsa sudah mencerminkan al Qur’an kitab suci kita”. Untuk menumbuhkan semangat beragama tidak perlu dengan kekerasan, apalagi pemberontakan. Formalisasi syariat tidak penting kalau esensi syariatnya sendiri diabaikan.

Yang dibutuhkan untuk membangun Indonesia sebagai negara yang plural adalah semangat kebersamaan merawat keragaman. Bukan ego agama dan kebenaran, apalagi memaksakan kehendak dan pemerkosaan terhadap keyakinan orang lain. Bukankah titah Tuhan mengatakan keragaman itu adalah sunnatullah? Dan yang perlu diingat, kesuksesan Nabi Muhammad dalam berdakwah adalah karena akhlak mulia, lemah lembut dan penuh kebijaksanaan.

Facebook Comments