IKN Nusantara, Simbol Rekonstruksi Kejayaan NKRI

IKN Nusantara, Simbol Rekonstruksi Kejayaan NKRI

- in Suara Kita
161
0

Sejarah masa lalu itu sejatinya bukan benda mati. Ia masih hidup dan bisa dihidupkan sebagai modal rekonstruksi masa depan. Tidak mengherankan, banyak bangsa/negara di dunia ini yang membasiskan diri mereka kepada masa lalu bangsanya. Pendek kata, histori adalah basis legitimasi yang sangat valid untuk menatap masa depan.

Pemilihan Nusantara sebagai nama Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia adalah bentuk dari rekonstruksi masa lalu itu. Ini adalah modal utama –jika dikonstruksi dengan tepat tentunya –untuk menatap masa depan NKRI. Kejayaan Nusantara di masa lalu bisa dihidupkan kembali untuk kemajuan NKRI.

Kejajayaan Nusantara itu tentu harus disikapi dengan bijak. Jangan sampai justru terjebak pada romantisme sejarah masa lalu, yang itu justru membelenggu dan membuat individu-individu di dalamnya jadi pengkhayal. Berhenti pada kejayaan masa lalu adalah tindakan destruktif yang berbahaya. Ia tidak akan menghasilkan kerja-kerja kreatif-rekostruktif.

 Jika terjadi seperti ini, apa bedanya dengan remontisme khilafah, yang mengidolakan masa lalu kejayaan Islam. Mereka teriak dengan lantang tentang kejayaan khilafah pada masa lalu, tetapi mereka lupa bahwa mereka hidup pada masa sekarang. Jika terjadi seperti ini, pada titik inilah, romantisme Nusantara tidak ada bedanya dengan romantisme khilafah.

Gerak Ganda

Bagaimana agar tidak terjebak pada romantisme Nusantara? Jawabannya adalah kita perlu gerak ganda. Gerak pertama ke masa lalu dan gerak kedua adalah ke masa depan. Gerak ganda (double movement) adalah istilah yang saya ambil dari pemikir muslim ternama dari Pakistan, Fazlur Rahman.

Rahman menyatakan memahami suatu teks perlu gerak ganda. Gerak pertama adalah ke masa lalu, melihat sebab-sebab turunnya/datangnya teks, melihat historitas teks, kondisi ekonomi, politik, sosial, dan budaya ketika lahirnya teks. Setelah mendapatkan “pesan moral/makna universal” dari teks masa lalu itu, baru kemudian kita melakukan gerak kedua ke masa sekarang, dan melakukan konstektualisasi.

Gerak yang sama juga harus dilakukakan ketika mau merekonstruksi sejarah masa lalu. Kita kembali ke masa lalu, mencari makna universal dari kejayaan itu. Setelah itu baru kemudian direkonstruksi ke masa sekarang dengan kerja-kerja kreatif.

Pertanyaannya, makna universal apa yang kita dapatkan dari kejayaan masa lalu Nusantara? Jika diamati dari paparan para sejarawan, bahwa modal utama dari kejayaan Nusantara terletak pada mentalitasnya. Mentalitas yang tidak cepat puas, mental pejuang, dan mental yang mau membuka diri.

Kejayaan Nusantara masa lalu menunjukkan bahwa tidak ada kata berhenti untuk memperluas wilayah; tidak ada kata puas untuk menebarkan rasa aman terhadap rakyatnya; dan tidak ada sikap menutup diri terhadap bangsa atau pihak luar.

Sumpah Gajah Mada adalah bukti konkrit dari sejarah itu. Dengan lantang ia menyatakan akan mempersatukan wilayah-wilayah kepulauan yang kemudian kita sebut Nusantara. Mentalitas pejuang, tidak cepat puas, dan terbuka kepada dunia luar, mewujud dalam dirinya.

Kerja Kreatif

Mentalitas pejuang, tidak cepat puas, dan mau terbuka dengan dunia luar, perlu ditarik ke masa sekarang dan masa depan, sebagai gerak kedua. Mentalitas inilah yang harus ditanamkan pada anak bangsa. Para leluhur kita dulu bisa maju, bisa jaya, sebab memiliki mentalitas ini.

Penamaan Ibu Kota Negara (IKN) itu merupakan simbol yang selalu mengingatkan kita, bahwa tak ada kemajuan tanpa perjuangan, tak ada kejayaan tanpa keterbukaan, dan tak ada masa depan yang cemerlang, jika cepat merasa puas.

Sikap menutup diri yang menggejala pada sebagian anak bangsa, ini produk barat, ini musuh agama, ini membahayakan akidah, tentu bertolak belakang dengan mentalitas para pendahulu kita.

Untuk itu merekonstruksi kejayaan masa lalu untuk kemajuan masa depan butuh kerja-kerja kreatif dan kolektif. Kejayaan itu tidak bisa hanya digapai dengan slogan semata, atau tenggelam pada masa lalu.

Kerja kreatif yang dibutuhkan sekarang adalah menanamkan mentalitas tadi. Jangan menutup diri, jangan merasa rendah diri, jangan cepat puas.

Facebook Comments