Imajinasi Kejayaan Nusantara di Balik Nama Ibu Kota Negara

Imajinasi Kejayaan Nusantara di Balik Nama Ibu Kota Negara

- in Suara Kita
279
0

Ada ungkapan dalam Bahasa Latin yang berbunyi, Nomen Est Omen, yang bermakna “nama adalah tanda”. Artinya, sebuah nama pastilah merujuk pada sebuah simbol atawa penanda atas sebuah obyek. Sedangkan dalam budaya masyarakat kita, dikenal adagium yang berbunyi, “nama adalah do’a”. Dua pepatah itu kiranya relevan dijadikan sebagai kacamata untuk melihat sekaligus membaca fenomena pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) yang sekarang bernama Nusantara.

Penamaan IKN dengan Nusantara ialah sebuah tanda (sign) sekaligus doa atau harapan (hope). Tanda bahwa sebagai bangsa kita harus bangkit dari kondisi ketertinggalan menuju kemajuan peradaban. Sekaligus harapan bahwa di masa depan, imajinasi tentang peradaban bangsa yang unggul, maju, dan jaya itu bukanlah isapan jempol belaka. Penyematan Nusantara sebagai nama IKN yang baru dengan demikian merupakan sebuah titik awal yang baik untuk memulai perjalanan ke depan yang penuh tantangan.

Terma Nusantara tentu bukan hal yang asing di telinga masyarakat Indonesia. Namun, harus diakui belum banyak yang benar-benar mengetahui apalagi meresapi maknanya. Dari segi kebahasaan, Nusantara berasal dari Bahasa Sanskerta, yaitu Nusa yang bermakna pulau dan Antara yang bermakna luar atau seberang. Secara istilah, Nusantara dulunya dipakai untuk menyebut wilayah-wiayah yang berada di luar Pulau Jawa. Pada masa kerajaan Majapahit yang mengalami masa jaya di abad ke-14 dan 15, kata Nusantara merujuk pada wilayah kekuasaan yang membentang dari pulau Sumatera, Kalimantan, hingga wilayah-wilayah yang saat ini masuk Malaysia, bahkan Kamboja.

IKN Nusantara dan Imajinasi Kejayaan Indonesia

Dalam pemaknaan yang lebih filosofis, Nusantara dapat dimaknai sebagai sebuah peradaban dimana manusia di dalamnya hidup dengan menjunjung persatuan di tengah keragaman. Nusantara ialah prototipe ideal tatanan sosial yang berhasil mengelola keragaman kultural dan agama menjadi modal sosial untuk membangun peradaban. Nusantara ialah sebuah catatan sejarah masa lalu, sekaligus cita-cita ideal di masa depan.

Penyematan Nusantara sebagai nama IKN yang baru kiranya bisa dibaca dari setidaknya tiga sudut pandang. Pertama, hal itu merupakan upaya menjadikan istilah Nusantara sebagai semacam jargon politik harapan (political of hope). Tersebab, selama ini Nusantara cenderung tidak mendapat tempat layak dalam kancah perpolitikan tanah air. Seolah-olah wacana sosial politik kita hanya disii oleh diskursus yang berasal dari khazanah atau tradisi pemikiran Barat.

Kedua, penanamaan Nusantara bagi IKN itu merupakan sebuah upaya menerjemahkan kembali kejayaan bangsa di masa lalu agar relevan dengan tantangan zaman sekarang. Di masa lalu, Nusantara merupakan salah satu kekuatan ekonomi dan politik dunia. Tentunya ada banyak warisan Nusantara yang bisa kita adaptasikan dalam konteks kekinian.

Ketiga, digunakannya nama Nusantara ialah sebuah deklarasi terang-benderang bahwa NKRI akan tetap menjadi negara republik-demokratis yang tidak tercerabut dari akar historisnya. Penggunaan nama Nusantara sekaligus menjadi semacam sikap politis yang tegas bahwa Indonesia tidak akan mungkin dan tidak akan pernah menjadi negara yang berdasar pada sentimen agama atau budaya tertentu. NKRI akan tetap menjadi seperti Nusantara yang menaungi kemajemukan dengan menggalang persatuan.

Kebangkitan Peradaban Indonesia

Tantangan ke depan ialah bagaimana menjadikan IKN Nusantara ini tidak terjebak pada romantisme sejarah masa lalu. Yakni sindrom psikologis kerinduan atas kejayaan masa lalu yang biasanya justru menjebak manusia dalam sikap anti-modernitas. IKN Nusantara juga tidak boleh berhenti pada sebatas jargon kosong yang nir-aksi. Sebaliknya, IKN Nusantara harus menjadi simbol kebangkitan peradaban Nusantara.

Bagi publik, yang perlu diperdebatkan saat ini sebenarnya bukanlah nama IKN yang baru tersebut. Lebih penting dari itu ialah bagaimana ibu kota negara yang baru itu dapat berdampak positif pada pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Juga bagaimana pemindahan ibu kota negara ini dapat menjadi semacam momentum untuk membangun kesadaran baru tentang nasionalisme dan imajinasi kejayaan Nusantara.

Pemindahan IKN kiranya bisa menjadi pijakan awal memulai lembaran alias fase peradaban bangsa yang baru. Yaitu peradaban yang berkomitmen merawat kemajemukan dengan nalar persatuan. Peradaban yang menjunjung nilai kemanusiaan dan menganulir sentimen sektarian. Dan tentunya sebuah peradaban yang tidak memberikan tempat bagi tumbuhnya ideologi radikal yang memecah-belah bangsa.

Facebook Comments