Indonesia dan Islam sudah Menyatu, Islamofobia Adalah Musuh

Indonesia dan Islam sudah Menyatu, Islamofobia Adalah Musuh

- in Narasi
201
1
Indonesia dan Islam sudah Menyatu, Islamofobia Adalah Musuh

Tidak ada yang kebetulan. Dalam studi wacana kritis, setiap isu atau wacana yang berkembang di publik mestilah memiliki aktor atau rezim yang menghidupkan sebuah isu. Karena itu, dikatakan, tidak ada yang orisinal dengan sebuah wacana, semuanya mestilah melalui sistem perencanaan yang direncanakan oleh sang aktor.

Tesis di atas berlaku untuk semua isu dan wacana: politik, ekonomi, budaya, dan agama. Dan isu atau wacana islamofobia secara tak terkecuali.

Sebagai sesuatu yang muncul secara terencana, barang tentu kemunculan sebuah isu atau wacana bukan tanpa maksud dan tujuan. Tujuan yang paling umum terjadi dalam setiap isu dan wacana adalah tujuan komunikasi.

Tujuan komunikasi ini setidaknya dimaksudkan untuk sat hal, yakni mempengaruhi dan menggiring objek komunikasi pada ruang yang diinginkan oleh sang aktor untuk menjadi subjek yang diinginkan. Atau, menjadi bagian dari kelompok yang mereka sendiri.

Dalam perspektif studi wacana kritis, tampaknya itu pulalah yang hendak dilakukan oleh rezim intoleran dalam wacana islamofobia yang sedang mengemuka. Dengan memanfaatkan isu dan kebijakan-kebijakan negara yang dianggap merugikan umat Islam, rezim intoleran muncul dengan memproagandakan semua peristiwa itu sebagai islamofobia. Dalam hal ini rezim intoleran berusaha merusak institusi negara di mata umat Islam.

Itulah agenda terselubung rezim intoleran di balik isu islamofobia. Dan, itulah sebabnya mengapa kita perlu membaca isu dan wacana islamofobia ini secara kritis. Sebab, jika kita menelan mentah-mentah isu dan wacana islamofobia itu, khawatir kita akan tergiring ke dalam jebakan yang tengah mereka buat.

Negara [Indonesia] Tidak Fobia Islam

Lagi pula, negara [Indonesia] tidak fobia Islam. Indonesia dan Islam sudah saling menyatu. Keduanya tidak saling menebar ancaman. Yang ada, keduanya menjadi simbiosis mutualisme yang saling melengkapi.

Sejak lama, Islam telah mengakui dan menerima Indonesia sebagai rumah bersama yang harus dijaga. Dan, sebagai satate-organization, Indonesia juga sudah sejak lama mendudukkan Islam sebagai agama yang ramah, yang dapat menyumbang kemajuan bagi Indonesia.

Keduanya tidak saling menebar ancaman. Karenanya, keduanya tidak saling curiga dan menakut-nakuti. Islam tidak pernah menebar ancaman kepada negara, sebaliknya, memberikan sumbangsih. Begitupun dengan negara, juga tidak pernah menebar ancaman dan api permusuhan kepada Islam. Negara [Indonesia] tidak fobia Islam; Islam tidak fobia negara [Indonesia].

Mari kita selalu ingat semua ini. Jika memang negara [Indonesia] fobia Islam, mungkin kini kita tidak akan bisa menjalankan kegiatan keagamaan kita dengan aman dan damai. Faktanya, kita aman-aman saja menjalankan kegiatan keagamaan kita. Syiar-syiar Islam melantun di mana-mana, dan negara sedikitpun tak mempermasalahkan atau bahkan melarang-larangnya. Agama [Islam]  akan membawa para pemeluknya pada puncak spiritualitas, bukan pada kemungkaran. Dan negara, menyadari hal itu. Karenanya negara tidak pernah membatasi aktivitas keislaman kita sepanjang tidak bertentangan dengan kemanusiaan dan amanah konstitusi.

Tidak ada islamofobia oleh negara. Sebaliknya, negara mengayomi dan melayani Islam. Wacana kriminalisasi umat Islam yang kini dibungkus dengan isu islamofobia tak lebih dari sekadar manuver politik rezim intoleran untuk merusak kerukunan Islam dan negara. Mereka hendak mengadu domba antara umat Islam dan negara. Dan kemudian, mereka akan mengambil keuntungan politis dari itu semua. Sekali lagi, inilah agenda terselubung rezim intoleran itu; licik sekaligus picik.

Jangan sampai kita termakan oleh manuver busuk rezim intoleran ini. Kita harus mampu membedakan isu-isu yang memang mensuarakan keislaman-keindonesiaan, dan mana isu-isu murahan yang syarat dengan kepentingan politis. Indonesia tidak memusuhi Islam, Islam tidak memusuhi Indonesia. Mari kita jaga semua ini dalam pilinan tali-temali yang kokoh. Jangan sampai terputus.

Facebook Comments