Indonesia Darurat Kelompok Radikal, Intoleran dan Pemecah Belah

Indonesia Darurat Kelompok Radikal, Intoleran dan Pemecah Belah

- in Suara Kita
174
0
Indonesia Darurat Kelompok Radikal, Intoleran dan Pemecah Belah

Tak lekang perihal kasus penolakan Ustaz Abdul Somad atau akrab dipanggil UAS oleh otoritas pemerintah Singapura, karena ceramahnya dinilai menyebarkan ajaran ekstremis, intoleran, dan segregasi. Kini, negara kita dan khalayak ramai Indonesia dihebohkan kembali dengan aksi Densus 88 Antiteror Polri yang tengah berhasil menangkap satu orang tersangka teroris berinisial IA pada Senin kemarin (23/5/2022).

Ironisnya, IA selaku tersangka teroris ini diketahui merupakan seorang mahasiswa di kota Malang, Jawa Timur. Seperti dilansir dari pelbagai media, bahwa keterlibatan IA terhadap kelompok radikal-terorisme adalah sebagai penyuplai atau pengumpul dana untuk membantu kelompok teroris, ISIS di Indonesia. Bahkan, IA juga disebut tengah mengelola media sosial untuk menyebarkan materi-materi ISIS.

Keterlibatan mahasiswa dalam jaringan terorisme ini sungguh sangat memilukan dan memalukan. Mengapa demikian, mahasiswa yang sejatinya dikenal sebagai agen perubahan, kaum intelektual, dan pewaris peradaban dengan nalar kritisnya, ternyata masih ada kalangan mahasiswa – untuk tidak mengatakan semua – yang merasa tertarik bahkan sudah menjadi bagian atau militansi dari para kelompok radikal-terorisme.

Pun juga, kenyataan ini menunjukkan bahwa kelompok radikal dalam merekrut anggotanya tidak hanya menyasar kalangan orang-orang lemah yang tertindas, kelompok minoritas, dan orang tidak berpendidikan, tetapi juga merambah pada kaum intelektual (mahasiswa) yang digadang-gadang sebagai tonggak dan generasi penerus bangsa.

Inilah yang saya sebut kalau Indonesia dalam kondisi darurat. Bukan hanya dari penceramah-penceramah radikal, intoleran, dan pemecah belah bangsa, melainkan juga aktivitas teror. Karena itulah, pemerintah mesti bertindak dengan cepat untuk menanggulanginya agar tidak semakin bercokol sehingga berimplikasi pada hancurnya negeri ini.

Jika demikian, apa yang perlu dibenahi dan ditindak secara tegas oleh pemerintah untuk menanggulangi semakin merebaknya kelompok radikal, intoleran, dan pemecah belah tersebut?

Menurut saya, yang perlu dibenahi dalam waktu dekat ini adalah dengan mensterilkan konten-konten ceramah keislaman bernuansakan radikal, intoleran, dan memecah belah. Karena dengan konten-konten ceramah demikian, bisa memotivasi orang lain untuk melakukan tindakan kekerasan seperti memaksakan kehendak, klaim kebenaran tunggal, aksi teror hingga bom bunuh diri.

Sudah sekian banyak seseorang yang telah terbukti menjadi radikal disebabkan konten dan ceramah demikian. Apabila hal ihwal dibiarkan kian merebak dan menjadi konsumsi masyarakat, bukan mustahil menjadikan orang berperilaku radikal, intoleran, dan akhirnya memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Karena itulah, konten dan ceramah radikal ini harus pemerintah “sterilkan” terlebih dahulu. Mengingat pengaruh dan dampaknya cukup signifikan dalam kehidupan masyarakat.

Apalagi, Indonesia sebagai negara plural dan multikultural dengan beragam agama, suku, ras, budaya, dan lain-lain. Tentu diperlukan suatu kehidupan yang dibangun atas nilai-nilai toleransi, perdamaian, dan keadilan demi terciptanya keharmonisan antar setiap warga negara dengan tanpa melihat identitas primordial masing-masing dari mereka.

Jadi, cukuplah kasus penolakan UAS dan penangkapan mahasiswa berinisial IA menjadi bukti kepada kita betapa sangat mengancam dan berbahayanya keberadaan para kelompok radikal, intoleran, dan pemecah belah terhadap keutuhan dan kesatuan suatu bangsa. Wallahu A’lam

Facebook Comments