Infiltrasi Kelompok Radikal dalam Organisasi Keulamaan

Infiltrasi Kelompok Radikal dalam Organisasi Keulamaan

- in Suara Kita
1298
0
Infiltrasi Kelompok Radikal dalam Organisasi Keulamaan

Kelompok radikal gencar di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di mana membawa dampak buruk demi mencapai tujuannya untuk mempengaruhi warga agar mengikuti ajaran yang mereka buat melalui penyamaran sebagai ‘ulama’. Penyamaran tersebut dapat membuat warga lengah, karena ‘ulama’ bagi warga adalah seorang pemuka agama untuk mengayomi dan membimbing umat Islam atau sering disebut sebagai orang yang ahli agama. Aksi infiltrasi (penyusupan) oleh kelompok radikal dalam organisasi keulamaan perlu diwaspadai agar mindset para ulama tidak terkontaminasi oleh pemikiran radikal.

Isu terkini muncul istilah ‘Kriminalisasi Ulama’, karena terdapat kasus pidana atas tudingan terorisme terhadap ‘ulama’. Namun, istilah tersebut tidak dibenarkan seperti halnya ujaran salahsatu tokoh Islam di Indonesia, yakni Abu Bakar Ba’asyir. Beliau mengatakan bahwa “bukan dikriminasisasi, tetapi memang terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan teror serta membentuk organisasi teroris atau radikal.”

Sebagai warga negara Indonesia terutama umat Islam, hendaknya lebih meningkatkan sikap kewaspadaan terhadap isu-isu yang telah menyebarluas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Upaya yang bisa kita lakukan, diantaranya bijak dalam menggunakan media sosial (telusuri terlebih dahulu kebenaran informasi), berpedoman pada ideologi pancasila, mengasah pengetahuan terkait narasi radikalisme, menanamkan jiwa nasionalisme, menanamkan sikap toleransi (menghargai antar sesama), dan memanfaatkan keanekaragaman untuk mempertahankan negara domokrasi, karena Indonesia merupakan negara demokrasi.

Dilansir dari jurnal TAPIs, bahwa Negara Demokrasi adalah negara yang menganut mekanisme sistem pemerintahan dengan mewujudkan kedaulatan rakyat atas negara. Perjuangan menegakkan negara demokrasi merupakan bentuk upaya umat manusia dalam menjamin dan melindungi hak asasinya. Untuk itulah diperlukan pertahanan negara demokrasi.

Munculnya kelompok radikal menjadi fenomena krusial yang mendapatkan perhatian dari berbagai negara, dan organisasi di seluruh dunia. Penyebabnya yakni mereka memiliki ‘niat’ untuk merubah negara demokrasi menjadi negara Islam sehingga menyusun atau melakukan berbagai cara guna mencapai tujuannya tersebut. Aksi kelompok radikal seperti pemboman, kekerasan, narasi radikal yang disebar pada media digital, dan pemaksaan kehendak tanpa memikirkan dampak kedepannya, telah merugikan banyak pihak.

Isu radikal tidak melulu soal kekerasan, namun juga ada berbentuk ‘penyusupan’ yang bertopeng isu agama, di mana menyebarkan mindset yang bertentangan dengan ideologi pancasila dan undang-undang dasar 45 dibarengi dengan ‘dalih’ agama. Kita tidak diperbolehkan membenarkan agama sendiri, tetapi diwajibkan untuk mensyiarkan agama.

Organisasi Keulamaan disusupi kelompok-kelompok radikal maupun teroris yang dapat melunturkan ‘kepercayaan’ masyarakat terhadap para ulama jika tidak ditindak lanjuti. Karena sejatinya orang yang terbukti membawa paham radikal hanya ‘mengakui’ dirinya ulama, bukan ‘diakui’ ulama.

Saat ini marak berita terkait MUI (Majelis Ulama Indonesia) disusupi kelompok radikal. Pasalnya terdapat peristiwa penangkapan tiga orang yang diduga terlibat jaringan radikal. Peristiwa tersebut membuat publik ‘geger’. Ketiga orang yang ditangkap densus 88 diantaranya Farid Okbah, Anung Alhamat, Ahmad Zain Annajah, ada nama anggota MUI. Dikhawatirkan MUI ‘terhasut’ paham radikalisme yang bertopengkan agama. Dengan begitu, ulama perlu dibela dan diselamatkan dari infiltrasi kelompok radikal.            

Oleh karena itu, infiltrasi kelompok radikal dalam organisasi keulamaan harus dilawan agar tidak semakin ‘menjadi-jadi’. Peristiwa penangkapan yang katanya ‘ulama’ sebagai warning atau peringatan bagi WNI (warga negara Indonesia), untuk selalu waspada akan paham-paham radikal yang lambat laun ‘menguasai’ pemerintahan Indonesia. Persatuan dan kesatuan dapat dijadikan tameng agar negara Indonesia tetap berdiri kokoh walaupun diguncang oleh siapapun dan kapanpun.

Facebook Comments