Infiltrasi Kelompok Radikal ke ASN Itu Kerap Tak Disadari, Ini 4 Strategi Mengikisnya!

Infiltrasi Kelompok Radikal ke ASN Itu Kerap Tak Disadari, Ini 4 Strategi Mengikisnya!

- in Suara Kita
591
0
Infiltrasi Kelompok Radikal ke ASN Itu Kerap Tak Disadari, Ini 4 Strategi Mengikisnya!

Radikalisme dan intoleransi masih menjadi persoalan pelik bagi bangsa Indonesia. Ironi semakin mendalam ketika radikalisme dan intoleransi merambah dihampir seluruh sendi-sendi kehidupan, tidak terkecuali aspek strategis seperti kalangan aparatur negara (ASN).

Padahal, pola pikir, sikap, dan tindakan yang berbasis pada sektarianisme, fundamentalisme, fanatisme, intoleransi dan radikalisme akan mengkristal menjadi aksi terorisme. Yang demikian ini bukan lagi hoax, melainkan kajian ilmiah atau fakta yang berbicara. Lihat saja serangkaian aksi terorisme yang terjadi, pasti tidak lepas dari faktor tersebut.

Ada banyak tumpukan kasus dan hasil riset yang menunjukkan bahwa infiltrasi kelompok radikal dan intoleran kian mengembang di negeri. Peristiwa ada oknum pegawai plat merah Kimia Farma yang diduga keras terafiliasi dengan organisasi radikalis-teroris adalah buktinya. Bahkan belakangan ibi, sejumlah kalangan, seperti mantan satpam KPK, mengungkapkan bahwa bendera HTI di KPK bukanlah hoaks.

Lantas, bagaimana cara mengikis intoleransi? Jawaban atas pertanyaan ini tidak hanya bernilai penting, namun juga menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak, alias tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sebab, terkikisnya intoleransi sama halnya melanggengkan harmoni di negeri yang heterogen ini.

Faktor Penyebab

Sebelum jauh menguak cara mengikis infiltrasi ideologi radikal dan intoleran untuk Indonesia harmoni, penulis akan (terlebih dulu) membeberkan faktor penyebab mengapa seseorang gampang terpapar paham radikal, termasuk ASN.

Setidaknya ada beberapa faktor penyebab radikalisme dan intoleransi berkembang. Pertama, kaku dan eksklusif. Komarudin Hidayat dalam “Menafsirkan Kehendak Tuhan” (Bandung: 2003, h. 45) menjelaskan bahwa eksklusifisme sebagai salah satu tipologi sikap keberagamaan adalah pandangan tertutup sehingga melahirkan cara berpikir yang sempit, seperti menganggap ajaran yang ia yakini adalah paling benar. Lebih lanjut, Komarudin menegaskan bahwa sikap ini merupakan pandangan yang dominan dari zaman ke zaman. Jadi, sikap seperti ini amat bahaya karena akan membawa paham radikalis-intoleran.

Realitas kehidupan sosial yang harmoni menjadi mungkin (terwujud) jika antar manusia bisa mengakomodasi dan menghargai perbedaan dan keragaman. Sikap menghargai perbedaan dan keragamaan ini tidak akan pernah ada dalam diri seorang yang kaku dan eksklusif. Yang ada dalam diri orang model ini adalah, selalu menaruh rasa benci pada perbedaan dan keragamaan hingga pada waktunya terakumulasi dalam bentuk tindakan intoleran.

Kedua, fanatik buta. Fanatisme yang berlebihan dan tidak pada tempatnya akan membawa seseorang ke lembah hina seperti intoleransi dan ekstrimisme. Amanah Nurish (2019) dalam hasil kajiannya mengenai fanatisme beragama yang berlebihan menyebutkan bahwa eskalasi tindakan ekstremisme bermula dari fenomena keagamaan yang berkembang dalam masyarakat melalui doktrin-doktrin keagamaan yang berimplikasi pada watak fanatisme.

Nurish juga memaparkan bagaimana sikap fanatisme itu bermula. Ia mengungkapkan setidaknya ada dua pintu gerbang yang memungkinkan seseorang terjangkit fanatisme buta keagamaan: (i) gerbang pendidikan yang dipengaruhi oleh guru dan kurikulum yang memungkinkan berkembangnya benih fanatisme dan (ii) melalui gerbang media melalui teks-teks berbau hasutan (provokasi), ujaran kebencian, fitnah dan intimidasi yang bergulir deras sehingga menjadi konsumsi sehari-hari.

Ketiga, kesiapan mental yang belum matang. Kondisi ini menjadikan seseorang belum bisa menerima perbedaan sebagai rahmat. Alih-alih bisa menyikapi perbedaan dengan hati lapang, justru kelompok ini malah menolak keberagaman. Celakanya, kesiapan mental yang belum matang ini justru adalah mereka yang berada dalam lingkaran pemerintahan.

Padahal, kelompok radikal begitu massif melakukan infiltrasi ideologinya ke lembaga atau instansi pemerintah secara terselubung sehingga hal itu seringkali tidak disadari oleh pimpinan instansi tersebut. Akibatnya, penanganan dan pencegahannya cenderung terlambat.

Jadi, kesiapan mental sebagian aparatur negara yang belum matang dan infiltrasi secara terselubung oleh kelompok radikal, menjadikan salah satu faktor utama ASN mudah terpapar paham radikal-intoleran.

Strategi Mengikis Ideologi Radikal- Intoleran

Merujuk pada faktor munculnya radikalisme dan intoleransi sebagaimana dijelaskan di atas, maka terdapat beberapa cara untuk mengikisnya secara massif dan keberlanjutan sehingga para penjaga dan pengabdi bangsa ini benar-benar dalam koridor yang lurus, sesuai dengan sumpah jabatan yang diucapkan, antara lain, setia pada Pancasila dan siap menjaga persatuan Indonesia.

Pertama, membangun sikap inklusif. Membangun masyarakat terdidik dan umat beragama yang berpikiran terbuka (inklusif) merupakan prasyarat untuk mencapai kehidupan harmoni, bebas tindakan intoleran. Dalam bahasa lain, inklusifisme dan pluralisme akan membawa keragaman ke tahap dialogis harmonis (Casram, 2016).

Jika para ASN sudah menerapkan sikap yang moderat dan inklusif, maka sejatinya ia sedang membentengi diri dari infiltrasi kelompok radikal-intoleran.

Kedua, menjauhi fanatisme beragama secara berlebihan. Ilmuan kharismatik Indonesia seperti Quraish Shihab, dalam beberapa kajian online, selalu mengatakan bahwa keyakinan atau keterikatan terhadap agama (fanatisme) adalah hal yang sangat bagus. Tapi jangan sampai berbuat tidak adil terhadap orang lain.  Jadi, perilaku fanatik bisa dinilai baik atau buruk, buruk jika sudah berlaku tidak adil kepada orang lain.

Seorang ASN adalah pengabdi negara, yang harus bersikap baik kepada semua orang dan golongan. Fanatisme dalam beragama bukanlah hal yang layak dirawat oleh seorang ASN. Apalagi sikap itu menjadi penyebab sikap tidak adil.

Ketiga, mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dengan baik dan mendalam. Sudah bukan rahasia lagi bahwa nilai-nilai Pancasila mampu menangkal sekaligus mengikis segala bentuk intoleransi, radikalisme dan terorisme. Hal ini senada dengan apa yang pernah ditegaskan oleh sosok yang sangat concern mengkaji Pancasila, yakni Yudi Latif. Ia menjelaskan bahwa Pancasila merupakan kehendak rasional bangsa dan sebagai jawaban terhadap pluralitas, kemajemukan dan multikulturalisme bangsa Indonesia.

Seharusnya, seorang ASN adalah mereka yang paling terdepan dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila. Apalagi dalam sumpah jabatan yang diucapkan, pastilah seorang ASN wajib menjadikan Pancasila sebagai gaya hidupnya. Jika sudah demikian, tentunya kelompok radikal akan mental dengan sendirinya.

Keempat, dewasa dalam beragama. Mengingat radikalisme dan intoleransi lebih banyak disebabkan karena pemahaman yang salah terhadap nilai agama, maka untuk mengikisnya, seorang harus bisa menjadi sosok yang dewasa dalam beragama.

Ideologi radikal dan intoleran itu sejatinya bertentangan dengan nilai-nilai agama. Oleh karena itu, dengan sikap dewasa dalam beragama, bisa menjadi perisai diri dari infiltrasi ideologi radikal yang masuk secara tak disadari itu. Inilah beberapa cara untuk mengikis infiltrasi ideologi radikal dan intoleran di kalangan ASN untuk Indonesia harmoni.

Fenomena masuknya ideologi radikal-intoleran ke aparatur negara yang kerapkali tak disadari perlu sikap dan tindakan yang melibatkan semua pihak. Hal ini dimaksudkan untuk mendeteksi lebih dini bibit-bibit radikalisme yang menyusup ke ranah isntansi pemerintah sehingga bisa dengan segera ditangani.

Facebook Comments