Inilah Ayat-ayat yang Dimanipulasi untuk Menjustifikasi Radikalisme Agama!

Inilah Ayat-ayat yang Dimanipulasi untuk Menjustifikasi Radikalisme Agama!

- in Suara Kita
755
0
Inilah Ayat-ayat yang Dimanipulasi untuk Menjustifikasi Radikalisme Agama!

Semua agama tidak mengajarkan radikalisme. Begitu juga agama Islam, justru malah mengharamkannya, bahkan pelakunya mendapatkan ganjaran di neraka. Namun demikian, tindakan destruktif dengan tameng agama marak sekali. Jadi, agama memang tidak mengajarkan bom bunuh diri, namun pemeluk agama-lah yang seringkali memanipulasi ajaran agama untuk menjustifikasi tindakan kekerasan atas nama agama.

Jadi, radikalisme-terorisme yang mengatasnamakan agama, sejatinya itu bukan agama, melainkan kesalahan fatal seseorang dalam memahami agama yang dianutnya. Dengan kata lian, dalam banyak kasus, mereka salah menafsirkan teks keagamaan. Nah, dalam konteks ini, penulis akan menelusuri ayat-ayat yang ditafsirkan secara ‘parsial’ oleh seseorang atau kelompok radikal yang digunakan atau menjadi pemicu radikalisme-terorisme. Karena, ayat-ayat al-Qur’an seringkali menjadi ‘dasar’ dan nilai tertinggi perbauatn terorisme.

Oleh karena itu, gagasan dan kajian mendalam tentang mengenal lebih dalam soal penafsiran ayat-ayat al-Qur;an, terutama yang selama ini dikutip oleh kelompok radikal, menjadi sangat penting agar seseorang atau kelompok tidak melakukan kekerasan atas nama agama dan juga memberikan edukasi kepada masyarakat luas bahwa yang selama ini dipahami oleh kelompok radikal adalah sebuah kekeliruan yang tidak boleh diikuti.

Namun sebelum itu, ada beberapa hal yang pelu penulis tegaskan. Pertama, prinsip ajaran Islam adalah perdamaian dan membawa rahmat bagi seluruh alam. Hal ini ditegaskan dalam banyak ayat dan hadis, salah satunya sebagaimana terdapat dalam QS. al-Anbiya: 107. Hal  juga sekaligus menganulir pendapat sementara kalangan yang menyatakan bahwa Islam adalah agama radikal.

Kedua, radikalisme dan terorisme adalah musuh bersama, tanpa terkecuali agama dan negara. Terorisme termasuk perbuatan ghuluw (berlebihan dalam beragama) dan yang demikian tidak dibenarkan dalam agama. Bahkan, Islam menjadikan sikap dan tindakan seperti itu sebagai ‘musuh’ bersama. Pun dalam konteks kehidupan bernegara, teorisme itu merupakan musuh utama negara. Hadirnya BNPT merupakan salah satu buktinya.

Ayat-ayat yang Disalahpahami

Mantan ketua Jamaah Islamiyah Wilayah Timur dan juga eks Teroris, yakni Nasir Abbas dalam bukunya “Membongkar Jaringan Jamaah Islamiyah” menerangkan beberapa ayat yang sering dipakai kelompok radikalis-teroris untuk melegitimasi kekerasan atas nama agama.

Pertama, QS. At-Taubah [9]: 5.

Ayat ini menjadi salah satu ayat al-Qur’an yang menjadi inspirasi menolak keberagamanan. Fenomena ini tidak hanya sekedar mencemarkan agama Islam, melainkan juga telah melenceng jauh dari diturunkan Alquran dan maskud ayatnya. Berikut bunyi ayat yang sering disalahtafsirkan oleh kelompok radikal:

فَإِذَا ٱنسَلَخَ ٱلۡأَشۡهُرُ ٱلۡحُرُمُ فَٱقۡتُلُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ حَيۡثُ وَجَدتُّمُوهُمۡ وَخُذُوهُمۡ وَٱحۡصُرُوهُمۡ وَٱقۡعُدُواْ لَهُمۡ كُلَّ مَرۡصَدٖۚ فَإِن تَابُواْ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ فَخَلُّواْ سَبِيلَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ 

Artinya: “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.

Jika ayat di atas dipahami secara tekstualis, niscaya seolah-olah ayat itu memerintahkan kepada orang Islam untuk berbuat anarkis terhadap agama lain. Benarkah demikian? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu beberapa kajian yang mendalam, salah satunya menguak penafsiran ulama yang memang sudah mu’tabar, diakui akan otoritas dan kredibilitasnya dalam menafsirkan al-Qur’an.

Berkaitan dengan ayat di atas, ulama kondang klasik—yang juga sering dikutip oleh kelompok radikal secara parsial—yaitu Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa ayat tersebut menjelaskan tentang masa habisnya empat bulan haram yang dinantikan guna diizinkan untuk berperang melawan kaum musyrikin tetapi tidak diizinkan memerangi kaum musyrikin dengan tanpa alasan. Beliau juga menjelaskan bahwa perang yang dilakukan Nabi sebagaimana perintah dalam at-taubah di atas disebabkan karena pemberontakan yang dilakukan oleh kaum musyrikin Arab (Majmu’ Fatawa, juz 7, h. 400-4001).

Ayat di atas sejatinya menyimpang makna perdamaian. Sebab, Serangan yang dihadapkan kepada pihak lain pun hanya dibenarkan andai ada salah satu pihak dari mereka yang termasuk ke dalam golongan nonmuslim itu mendahului peperangan atau secara aktif memerangi atau merintangi dakwah Islam.

Jadi sangat naif jika ayat di atas diterapkan di Indonesia, yang notabene adalah negeri yang damai. Antar golongan dan lintas agama pun sejatinya terjalin hubungan yang saling menghormati. Artinya, tidak ada upaya nonmuslim untuk menghalangi penyebaran agama Islam di Indonesia pun mengamalkan ajaran Islam sangat aman.

Kedua, QS. At-Taubah [9]: 29.

Ayat ini juga menjadi legitimasi kelompok radikal untuk memerangi orang-orang yang tidak beriman kepada Allah (Non-Muslim). Bahkan, kejadian bom bunuh diri yang pernah terjadi di republik ini, muaranya dari pemahaman dangkal atas ayat ini. Sehingga, perlu dan mendesak untuk menguak apakah benar QS. At-Tabuah ayat 29 bisa dijadikan legitimasi tindak kekerasan?

قَٰتِلُواْ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَلَا بِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ ٱلۡحَقِّ مِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ حَتَّىٰ يُعۡطُواْ ٱلۡجِزۡيَةَ عَن يَدٖ وَهُمۡ صَٰغِرُونَ 

Artinya: “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

Ulama nusantara Quraish Shihab menjelaskan ayat di atas sebagai perintah yang erat kaitannya dengan konteks ayat itu diturunkan. Bahwa ayat ini turun bersamaan dengan situasi pada saat itu, yakni saat Romawi mengerahkan pasukannya dan mengumpulkan orang-orang Nashrani yang juga merasa resah pada saat itu untuk menyerang kaum muslimin. Pada saat itu, kaum Muslimin berhasil menguasai Makkah. Untuk itu, Rasulullah langsung mengerahkan pasukannya bersiap berperang menuju Tabuk guna menyiapkan benteng pertahahan yang kokoh (M. Quraish Shihab, Al-Misbah, vol 5, h. 560-574).

Dari uraian di atas dapat ditarik sebiuah kesimpulan bahwa ayat-ayat al-Qur’an seperti QS. At-Tabuah ayat 5 dan 29, serta ayat lain yang berbicara tentang perang, tidak bisa dijadikan dalil untuk berlaku intoleran terhadap pemeluk agama selin Islam juga tidak bisa dijadikan legitimasi aksi terorisme. Sebab, ayat di atas selain turun dalam konteks budaya perang sebagai hal yang ‘lumrah’ terjadi, juga petunjuk bagi kaum Muslimin untuk memerangi kaum Musyrikin yang mengganggu kelangsungan hidup masyarakat Muslim. Itu pun ditempuh setelah langkah damai tidak dapat disepakati.

Dan tak kalah pentingnya juga adalah, selain ayat di atas, ada sekian banyak ayat yang memerintahkan umat Islam untuk menjadi pelopor perdamaian dan sekaligus menjadi garda terdepan dalam menjaga kerukunan dan perdamaian universal. Bahkan kata ‘Islam’ dapat bermakna ‘damai’. Ulama kontemporer seperti Rasyid Ridha, ketika memahami QS. al-Baqarah [2]: 208: “Hai orang beriman, masuklah kamu dalam Islam secara kaffah”, sebagai Allah memerintahkan kaum beriman untuk masuk dalam kedamaian secara total.

Facebook Comments