Inilah Ayat yang Sering Dipolitisasi Kelompok Perusak NKRI

Inilah Ayat yang Sering Dipolitisasi Kelompok Perusak NKRI

- in Suara Kita
359
0
Inilah Ayat yang Sering Dipolitisasi Kelompok Perusak NKRI

Saya sering-kali mengatakan, bahwa kekuatan para perusak NKRI itu sebetulnya hanya terletak pada konteks mempolitisasi agama untuk meracuni umat, dengan segala fitnah dan tuduhannya. Misalnya, NKRI yang dianggap tidak menjalankan hukum Tuhan. Tuduhan ini selalu dijadikan alat untuk menyerang, menggulingkan kekuasaan dan merusak kemajemukan yang dilakukan oleh kelompok perusak NKRI itu sendiri.

Sebagaimana, ada satu surat di dalam Al-Qur’an yang selalu dipolitisasi. Misalnya, dalam surat Al-Maidah:44 dalam potongan ayat, “Wa mal lam yahkum bimaaa angzalallohu fa ulaaa-ika humul-kaafirun” yang artinya, barang siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan oleh Allah SWT, maka mereka itulah orang-orang kafir. Begitu juga dengan (Al-Maidah:45 dan 47) dalam potongan ayat, “Wamal lam yahkum bimaa angzhalallahu faulaika humuzh-zhoolimun”. Juga “Wa mal lam yahkum bima anshalallahhu fa ulaika humul fasikun”.

Dari ayat yang saya sebutkan di atas, sering-kali dan bahkan selalu dijadikan “klaim pembenar” atas segala tuduhan dan gerakan merusak NKRI. Bahwa, NKRI dianggap tidak menerapkan hukum Allah SWT. Sehingga, bangsa Indonesia disebut bangsa kafir, zhalim dan fasik yang (bagi mereka) perusak NKRI perlu dihancurkan. Lantas benarkah seperti itu?

Tentu ini kita tidak terlepas dari konteks (politisasi ayat) yang berkaitan dengan surat Al-Maidah tersebut. Kita harus pahami betul situasi, basis tujuan, konteks dan maksud secara fungsional ayat tersebut. Sebagaimana, secara interpretatif ayat di atas, konteks-nya adalah berkaitan dengan kelompok Yahudi. Tetapi, kita juga harus paham, hampir kalangan mufasir Ahalussunnah Wal Jamaah itu memberikan pemahaman bahwa, ayat tersebut juga berlaku terhadap umat Islam.

Pun, kata (kafir) kata (zhalim) dan  kata (fasik) itu tidak bersifat manipulatif terhadap satu golongan saja. Artinya, ini berlaku terhadap (semua manusia). Karena, kata (tidak menjalankan perintah-Nya) itu bukan berarti mengarah ke dalam identitas formal. Seperti halnya, kelompok radikal-teroris mempolitisasi ayat di atas dengan pemahaman negara yang harus berlabel syariat atau negara khilafah yang sama-sekali tidak ada kaitannya dengan konteks ayat fungsinya

Apakah NKRI tidak Menegakkan Hukum Tuhan?

Lantas, benarkah NKRI tidak menegakkan hukum Tuhan? Tentu, kalau kita membicarakan (hukum Tuhan) tampaknya ini tidak hanya mengacu ke dalam dua ayat tersebut. Bahkan, dua ayat tersebut tidak bisa dijadikan alat penegasian terhadap segala pranata dan etika hukum yang ada di negeri ini. Sebagaimana menurut Prof Quraish Shihab, bahwa kata (barang siapa yang tidak menjalankan atau memutuskan aturan-Nya) itu memiliki substansi dan tata-etika hukum Tuhan yang begitu luas.

Jadi, tidak hanya soal identitas formal layaknya yang sering-kali dipolitisasi oleh perusak NKRI. Memahami ayat di atas sebagai bentuk dari pentingnya menegakkan khilafah atau negara dengan syariat Islam. Maka, dari situlah kita jangan mudah terpengaruh oleh kelompok-kelompok yang berupaya untuk mempolitisasi ayat-ayat yang saya sebutkan di atas.

Sebab, mereka hanya “mengunci” dan “memanipulasi” ayat yang saya sebutkan di atas, untuk menyerang NKRI. Karena dianggap tidak menegakkan syariat Islam. Padahal, kalau kita lebih jauh memahami motif kelompok tersebut. Kata (negara syariat Islam atau negara yang sesuai ajaran-Nya) itu adalah label yang dimanfaatkan. Karena, mereka sejatinya juga tidak pernah menjalankan perintah-Nya dan bahkan melanggar segala aturan-Nya yang berkaitan dengan kemanusiaan, keharmonisan, keadilan, perdamaian dan kemaslahatan.

Lantas, kalau kembali ke pertanyaan awal, apakah NKRI tidak menegakkan hukum Tuhan? Tentu jawabnya salah. Sebab, (hukum Tuhan) di dalam Al-Qur’an itu bersifat interdisipliner. Sebab, NKRI dengan segala misi untuk membangun peradaban yang aman, damai, nyaman, membawa maslahat dan menjunjung tinggi kemanusiaan itu semua (merepresentasikan) hukum Tuhan dengan segala bentuk derivasi-nya. Jadi, sekali lagi saya katakan. Jangan mudah terpengaruh dengan kelompok atau oknum “polititator” agama yang sengaja hanya ingin menghancurkan bangsa ini dengan memanfaatkan ayat tersebut.            

Sebab, ayat yang disering diplotisasi itu, sebagaimana yang saya contohkan di atas, memiliki basis pemahaman, bahwa (yang melanggar dan yang tidak menjalankan). Maka, logiskah jika kelompok polititator agama ini sebagai kegiatan yang melanggar dan tidak menjalankan hukum Tuhan yang mengarah ke dalam (rahmatan lil alamin) ? Karena menggunakan ayat-ayat untuk merusak tatanan, berbuat zhalim dan merendahkan derajat kemanusiaan. Bukankah itu bagian dari hukum Tuhan yang dilanggar?

Facebook Comments