Inilah Empat Etos Akhlak dalam Menjaga Keutuhan Bangsa

Inilah Empat Etos Akhlak dalam Menjaga Keutuhan Bangsa

- in Suara Kita
998
4
Inilah Empat Etos Akhlak dalam Menjaga Keutuhan Bangsa

Bangsa ini tak mungkin ada jika para pejuang dan pendiri bangsa (founding fathers) tidak memiliki etos akhlak dalam menjaga keutuhan bangsa yang bhineka ini.Mereka adalah orang-orang yang berjuang serta rela berkorban demi bangsa dan negara dengan menyingkirkan semua pamrih pribadinya. Tentunya banyak nilai-nilai akhlak dari para pendiri bangsa yang bisa kita teladani bagi generasi saat ini. Dan etos akhlak tersebut bukanlah sesuatu hal yang asing dalam Islam. Elemen ini telah menjadi sikap dasar yang ada pada diri Rasulullah, sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para ulama.

Dalam Islam sendiri, sebagaimana disebutkan Nugraha (2019) paling tidak ada lima etos yang bisa kita amalkan untuk menjaga keutuhan bangsa, yaitu pertama, Ikhlas. Berkorban dengan ikhlas merupakan ruh utama dari amal perbuatan manusia. Ikhlas merupakan sebuah bentuk ketaatan dan kemurnian hati yang bersih untuk melakukan segala sesuatu semata-mata karena perintah Allah SWT.

Dan keikhlasan dengan hanya mengharapkan keridhaan Allah SWT ini menjadi barometer atau patokan utama seseorang mencapai derajat pahlawan dan bukan sebagai pecundang. Hal ini juga kembali ditegaskan dalam QS. Hud (11): 15, yang artinya, “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.

Kedua, cerdas atau fathonah adalah refleksi dari manusia yang memiliki kecerdasan komprehensif, meliputi kecerdasan intelektual, emosional, sosial, spiritual dan kreatif (Alivermana Wiguna, 2014). Seorang pahlawan hendaknya memiliki sikap cerdas dalam menentukan pilihan baik dan buruk. Mereka juga biasanya adalah insan yang berani memilih dalam situasi pilihan yang sulit. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 269 yang artinya, “Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

Ketiga, teguh pendirian (istiqomah). Sikap teguh pendirian akan melahirkan kesabaran, semangat pantang menyerah, gigih dalam berjuang menghadapi tekanan. Pentingnya sikap istiqamah ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam QS. Hud ayat 112, yang artinya, “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.

Keempat, berani (syaja’ah) yang diartikan sebagai keteguhan hati dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Berani tidak hanya bergantung pada kekuatan fisik, melainkan juga kekuatan hati dan jiwa yang bersih. Orang yang berani, akan melalui, menjalani dan menghadapi apa yang ditakutinya. Termasuk menegakkan kebenaran terhadap siapa saja dan dalam kondisi apapun. Keberanian akan melahirkan pribadi yang bertanggung jawab dan amanah.

 Abdullah bin Ahmad dan Al-Allaf Al-Ghamidi (2007: 116) menyebutkan: Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mati terbunuh karena membela hartanya, maka ia adalah syahid.” Dalam riwayat lain, “Barang siapa yang hartanya hendak dirampas orang tanpa ada alasan yang benar, lalu dia memeranginya dan akhirnya dia meninggal, maka dia adalah syahid” (H.R. Al-Bukhari).

Kelima, cinta tanah air (hubb al-wathan/al-wathaniyah). Cinta tanah air merupakan bagian paham nasionalisme untuk mempertahankan kedaulatan sebuah negara. Ali Maschan Moesa (2007: 180) menyebutkan bahwa secara historis, K.H. Syaifudin mendasarkan makna nasionalisme pada sabda nabi bahwa cinta negara adalah sebagian daripada iman (hubb al-wathan minal iman). Nilai dasar cinta tanah air turut melahirkan nilai-nilai dasar lainnya seperti; toleransi, menghargai orang lain, mencintai negeri, dan berupaya semaksimal mungkin untuk melindunginya dari serangan-serangan musuh. Mereka yang mencintai negerinya akan mengenal identitas bangsanya. Dari identitas bangsa sini pula, maka tercipta rasa nasionalisme, patriotisme dan heroisme. 

Itulah etos akhlak dalam menjaga keutuhan bangsa yang patut kita jadikan landasan untuk diamalkan dalam kehidupan kebangsaan. Mengingat tugas azali manusia sebagai khalifah fil ardh yang bertugas memakmurkan bumi. Maka kita semua ini pada dasarnya ditugaskan untuk menjaga keutuhan dan rela berkorban untuk bangsa dan negara Indonesia.

Facebook Comments