Inilah Kesalahan Memahami Ukhwah Islamiyah!

Inilah Kesalahan Memahami Ukhwah Islamiyah!

- in Suara Kita
1134
0
Inilah Kesalahan Memahami Ukhwah Islamiyah!

Belakangan, ada sebagian pihak yang mereduksi makna ukhwah islamiyah. Seolah-olah ukhwah islamiyah itu maknanya hanya sekadar  persaudaraan sesama atau antara orang Islam saja. Akibatnya, jika ada saudara muslim di wilayah/negara lain yang diusik, maka dengan segera mereka teriak, atas nama ukhwah islamiyah, kita wajib bersatu untuk melawan, atau minimal memperkuat solidaritas untuk membantu.

Benarkah ukhwah islamiyah itu hanya sebatas persaudaraan sesama orang Islam saja? Tentu jawabannya adalah tidak. Pemaknaan itu adalah kesalahan besar. Sebab, dari segi bahasa saja, ukhwah islamiyah tidak bisa diterjemahkan seperti terjamah di atas. Sebab, struktur kalimatnya adalah sifat-mausuf, kata sifat dengan kata yang disifati.      

Oleh sebab itu, menurut Quraish Shihab, ukhwah islamiyah jika diterjamahkan maknanya bukanlah persaudaraan sesama/antara orang Islam, melainkan persaudaraan dengan dasar nilai-nilai Islam. Nilai-nilai Islam yang dimaksud adalah perdamaian, keadilan, dan kesetaraan.

Ukhwah islamiyah artinya, bersaudaralah dengan siapa pun, tetapi harus tetap berpegang kepada prinsip perdamaian, keadilan, dan kesetaraan. Kita bersaudara dengan pihak lain demi mewujudkan perdamaian. Kita bersaudara dengan agama lain harus berpegang pada keadilan. Dan, tentu dalam pergaulan persaudaraan itu, kita tak boleh membeda-bedakan, semuanya adalah sama dan setara.

Makna  yang kedua (persaudaraan dengan dasar nilai-nilai Islam)  tentu jauh lebih luas dan lebih terbuka dari pada makna yang pertama. Sebab, makna ini tidak tersekat oleh dinding-dinding perbedaan primordial, baik agama, etnis, suku, maupun aliran politik. Selama masih dalam sinaran nilai-nilai Islam, maka kita boleh bersaudara dengan siapa pun, tak pandang bulu.

Ini tentu berbeda dengan makna yang pertama (persaudaraan sesama/antara orang Islam), yang lebih sempit, tertutup, dan hanya sebatas orang-orang Islam saja. Makna ini, masih tersekat oleh dinding-dinding perbedaan. Seolah-olah jika beda agama, keyakinan, atau etnis, kita tak boleh bersaudara dengan mereka. Dalam makna ini tak ada gerak keluar, hanya fokus gerak ke dalam (intenal agama saja).

Salah Kaprah

Yang sering diutarakan oleh para ustad/muballig dan beredar di masyarakat justru makna yang sempit itu, yakni ukwah islamiyah adalah persaudaraan sesama/antara orang Islam. Seolah-olah, jika berbeda agama dan keyakinannya dengan kita, maka kita tak boleh bersaudara dengannya.

Ini adalah salah kaprah. Salah tetapi karena sudah kaprah, sudah umum dianggap begitu, menjadi seolah-olah benar. Pamaknaan ukhwah Islamiyah yang sempit inilah –sedikit banyaknya –mengakibatkan tindakan intoleransi. Sebab, orang yang berbeda agama dengan saya, itu bukanlah saudara saya. Saudara saya hanyalah orang yang seagama dengan saya. Titik!

Praktek seperti ini mudah kita lihat di lapangan dan di media sosial utamanya. Ketika konflik Palestina-Israel memanas misalnya, bebarapa pihak dengan lantang menyatakan atas dasar ukhwah Islamiyah, kita harus turun ke jalan.

Ketika Kaum Rohingya mendapat perlakakuan tidak adil, dengan segara mereka teriak, kita harus ikut bersuara atas nama ukhwah islamiyah. Ketika Muslim Uighur terzalimi, dengan segara meraka membagikan poster di media sosial untuk menggalang dana. Semua dilakukan atas nama ukhwah islamiyah.

Tetapi coba jika ada ada perusakan rumah Ibadah. Seperti yang dialami Jemaah Ahmadiyah di Sintang. Adakah yang teriak atas nama ukhwah Islamiyah, atau yang membagikan poster penggalamngan dana untuk membangun kembali rumah ibadah Jemaah Ahmadiyah? Tidak ada, sebab mereka bukan seagama dengan kami.

Pemaknaan ukhwah islamiyah yang sempit dan hanya sebatas orang-orang Islam saja, perlu diluruskan. Sebab, dalam agama Islam sendiri, tidak ada larangan untuk bergaul dengan siapa pun, dengan agama mana pun, dan dengan suku atau etnis apa pun. Selama itu di bawah sinaran nilai-nilai Islam, kita boleh bergaul dan bersaudara.

Facebook Comments