Inilah Pintu Masuk Radikalisasi Anak yang Harus Diamputasi

Inilah Pintu Masuk Radikalisasi Anak yang Harus Diamputasi

- in Suara Kita
209
0
Inilah Pintu Masuk Radikalisasi Anak yang Harus Diamputasi

Di era digital seperti sekarang ini, resiko anak terpapar sikap intoleransi yang menjurus kepada sikap radikal memang semakin besar. Banyaknya konten di media sosial yang menanamkan sentimen identitas semakin meresahkan karena bisa diakses secara langsung oleh anak-anak. Tidak mengherankan jika kemudian radikalisasi merambah ke anak-anak dari sikap intoleran menjadi radikal. 

Beberapa dari kita tentunya tidak melupakan kejadian teror yang terjadi di kota Surabaya di tahun 2018 lalu yang juga menyertakan anak-anak kandung pelaku. Kekejian ini menyentak publik Indonesia dan bahkan dunia karena dikenal sebagai aksi pertama yang melibatkan sekeluarga (family terrorism). Pelaku teror di Surabaya tersebut digadang-gadang oleh polri memiliki kaitan dengan organisasi terlarang JAD atau Jamaah Ansarut Daulah.

Beberapa alasan mengapa di Indonesia paham radikal mudah menyebar di lingkungan anak-anak, adalah peran lingkungan yang masih mendukung dalam pembentukan karakter anak. Tentunya kita masih ingat di tahun 2017 pernah beredar di media sosial sebuah video yang memperlihatkan kegiatan anak-anak SD yang tengah membawa simbol agama tertentu yang mirip parade kelompok radikal milisi. Bahkan di ada pula di beberapa sekolah yang ditenggerai lembaga yang melarang anak muridnya hormat kepada bendera kebanggan Indonesia “Merah Putih”.

Berbagai contoh ini menyiratkan bahwa radikalisasi sejatinya dimulai dari bawah sejak Pendidikan dini. Anak-anak sudah dikenal dengan penanaman identitas yang sempit yang bertentangan dengan nilai Pancasila sebagai ideologi di Indonesia, dan kebhinnekaan yang dimiliki NKRI. Tidak jarang murid hanya didoktrin untuk menghormati identitas keagamaan sendiri, tetapi mengajarkan karakter sikap dalam menerima perbedaan.

Meski harus dikaji lebih dalam, kita tidak bisa menutup mata bahwa terdapat sejumlah lembaga pendidikan yang sejak awal telah menyusupkan paham-paham intoleransi kepada siswanya hingga tanpa sadar mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang anti kebhinekaan. Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Jakarta pada Desember tahun 2016 merilis hasil riset yang menunjukkan, banyaknya guru Pendidikan Agama Islam di SD maupun SMP cenderung berpaham eksklusif dan bersikap intoleran terhadap kelompok yang berbeda paham dengan mereka.

Melihat fenomena semacam ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) telah memasukkan intoleransi sebagai salah satu dosa besar dalam dunia Pendidikan yang harus dieliminir. Tentu pandangan yang cukup baik mengingat transformasi intoleransi ke radikal memang cukup potensial.

Harus disadari proses pendidikan yang diajarkan guru seharusnya tidak mengarah kepada proses indoktrinasi atau memposisikan pelajaran agama sebagai penegasan keyakinan buta. Bahaya pembelajaran agama yang bersifat normatif dan ekslusif akan mendorong munculnya doktrin-doktrin keagamaan yang membuat siswa berfikir dalam satu arah saja, sehingga mereka susah untuk menerima masukan dan perbedaan.

Rekaman doktrin ini intoleran sejak dini akan membentuk karakter yang bersifat ekslusif. Bahaya dari sikap ini adalah pembenaran terhadap aksi-aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama. Mereka memandang yang berbeda sebagai ancaman dan musuh yang layak diperangi.

Lingkungan sekolah mustinya mampu menghadirkan model pembelajaran yang mampu menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada di lingkungannya. Penanaman sikap toleransi kepada anak akan mampu membuat anak berpikir terbuka dan melihat suatu masalah dengan beberapa pandangan.

Sekolah harus menyadari bahwa kurangnya toleransi dalam ranah sosial akan berdampak serius dalam keharmonisan hidup antar sesama. Karena itu, mengimplementasikan sikap toleransi sangat diperlukan di usia dini. Pentingnya kesadaran ini harus dilakukan oleh berbagai kalangan yang terlibat dalam dunia Pendidikan seperti pengurus sekolah, guru, peserta didik hingga orang tua yang harus saling mendukung.

Kemajemukan merupakan anugerah atau design Tuhan untuk mengukur seberapa umatnya mampu menghormati apa segala yang diciptakannya. Sektor pendidikan dituntut mampu menerjemahkan sikap yang kondusif dalam menerima kebhinekan sebagai bagian dari sunnatulullah. Pendidikan harus menjadi lembaga yang mencetak kader yang memiliki wawasan terbuka dan siap menerima perbedaan.

Facebook Comments