Islam Damai, Dunia Maya dan Masa Depan Perdamaian Dunia

Islam Damai, Dunia Maya dan Masa Depan Perdamaian Dunia

- in Suara Kita
230
2
Islam Damai, Dunia Maya dan Masa Depan Perdamaian Dunia

Pada tahun 2013 silam, para ulama Afghanistan–yang  jenuh dengan konflik berkepanjangan–berkunjung  ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta. Mereka ingin belajar kepada NU sebagai organisasi keagamaan Islam terbesar di Indonesia yang konsisten menjaga dan mewujudkan perdamaian dalam bingkai kebhinekaan di Indonesia. NU yang dikenal mengkampanyekan Islam Nusantara dengan prinsip tawasuth (sikap tengah-tengah, tidak ekstrem kanan, tidak ekstrem kiri), tawazun (seimbang), tasamuh (toleransi) dan i’tidal (tegak lurus) kemudian menyambut dengan baik niat para ulama Afghanistan tersebut.

Sepulang dari Jakarta, setahun kemudian, yakni tahun 2014, para ulama Afghanistan itu mendirikan organisasi dengan nama Nahdlatul Ulama Afghanistan. Penggunaan nama itu, tentu saja telah mendapatkan persetujuan dari PBNU. Berbeda dengan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU), secara organisatoris, NU Afghanistan tidak ada hubungannya sama sekali dengan PBNU. PBNU dan NU Afghanistan hanya memiliki kesamaan di ranah ideologi, yakni ideologi Islam wasathiyah, yang tidak ekstrem kanan, apalagi ekstrim kiri. Dan tentu saja, Islam yang juga mengkampanyekan cinta tanah air kepada bangsanya, menolak radikalisme serta menjunjung tinggi rasa tolerasi sesama umat beragama.

Dengan berdirinya NU Afghanistan yang merupakan copas dari NU di Indonesia, konflik berkepanjangan di Afghanistan perlahan-lahan surut. Seperti yang diberitakan oleh NU Online, pada tahun 2016 saja, NU Afganistan tercatat sudah mempunyai kepengurusan di 22 provinsi yang melibatkan lebih dari 6000 ulama berkebangsaan asli Afganistan dari berbagai kelompok dan faksi. Kini NUA sedang mengupayakan pengembangan NU di 34 provinsi di Afghanistan.

Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Asia Pasifik & Afrika di Kementerian Luar Negeri Indonesia Arifi Saiman memberikan apresiasi kepada NU terkait perdamaian di Afghanistan. Ia menyebut Afghanistan sebagai lesson learned atau contoh model bagaimana Nadhatul Ulama menjadi perekat di antara kelompok dan suku di sana.

Kampanye di Dunia Maya

Ketika ulama Afghanistan belajar kepada NU di Indonesia untuk menyatukan bangsa mereka yang telah jatuh dalam konflik berkepanjangan, hal sebaliknya malah dilakukan oleh sebagian orang di Indonesia. Ya, kini muncul sekelompok orang yang ingin negara ini jatuh ke dalam konflik. Mereka ini adalah kelompok yang getol melakukan doktrinasi, provokasi dan menyebarkan narasi kebencian antara satu pemeluk agama ke pemeluk agama lainnya. Term kata kafir pun tak jarang digunakan oleh mereka untuk menyebut orang lain yang bukan seagama dengan mereka. Tentu saja, ini akan berdampak buruk dan membahayakan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca juga : Pendidikan Akhlak Di Era Budaya Digital

Payahnya, mereka melakukan semua itu dengan menggunakan bantuan dunia maya. Maka jangan heran jika dunia maya hari ini dipenuhi oleh provokasi, narasi kebencian dan bahkan haox sekalipun. Mereka ini militan dalam menyebarkan ideologi kekerasan dan kebencian. Alhasil, suara-suara mereka di dunia maya lebih bergaung, menggema dan mencapai sampai pelosok-pelosok desa daripada suara-suara umat Islam yang moderat.

Oleh karena itu, mayoritas umat Islam yang moderat di Indonesia sudah saatnya turun gunung dan memainkan jari-jarinya untuk berperang dan mengkampanyekan Islam damai di dunia maya. Bahwa Islam itu bukan seperti yang selama ini digambarkan oleh kelompok-kelompok radikal yang keras, tidak toleran dan tidak mau menerima perbedaan. Akan tetapi, Islam itu agama yang penuh kasih sayang dan ramah terhadap pemeluk agama lain.

Wes wayahe, sudah saatnya juga umat Islam di Indonesia juga bersatu padu bersama Nahdlatul Ulama untuk terus menggelorakan Islam damai ke seluruh penjuru dunia. Afghanistan adalah bukti konkret bahwa Islam moderat alias Islam Nusantara yang dikampanyekan dan dikembangkan oleh NU bisa menjadi solusi atas konflik di dunia ini. Tentu saja, hal itu adalah secercah harapan untuk mewujudkan perdamaian di dunia ini. Jika Islam moderat ini bisa menyebar ke seantero penjuru dunia, maka tidak akan ada lagi ceritanya bangsa-bangsa saling bertikai karena perbedaan agama. Tak akan ada lagi orang menggunakan agama untuk melakukan kekerasan.

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengutip perkataan Buya Syafi’i Ma’arif yang berbunyi, “mayoritas moderat memiliki kekuatan untuk mengutuk kelompok radikal. Sayangnya kaum moderat lebih senang berdiam diri daripada mengkounter (propaganda) orang radikal.” Mari, jangan lagi berdiam diri. Kita maksimalkan segala kekuatan yang kita punya untuk melakukan perlawanan terhadap propaganda kelompok radikal di dunia maya. Jangan sampai penyesalan datang kepada kita, setelah berkecamuk perang saudara di antara sesama bangsa Indonesia. Sebab, penyesalan itu datangnya belakangan, kalau di depan, namanya pendaftaran! Demikian.

Facebook Comments