Islam dan Revisitasi Makna Persatuan

Islam dan Revisitasi Makna Persatuan

- in Suara Kita
171
2
Islam dan Revisitasi Makna Persatuan

Isu tentang persatuan dan kesatuan, belakangan menjadi salah satu topik yang cukup populer, setidaknya dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir. Fenomena ini—disadari atau tidak—buntut dari ketegangan-ketegangan (tensions) yang terus mengemuka, lebih lagi ketika bersinggungan dengan paham keagamaan dan representasi politik. Bisa dipastikan, persoalan yang sepele sekalipun bakal berbuntut panjang.

Kecenderungan tersebut kian nyata manakala masyarakat mudah tersulut isu-isu murahan, yang—sampai sejauh ini—kerap kali tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Beruntung, sejatinya kita punya pengalaman mengatasi persoalan ini, yakni dengan merawat nilai-nilai persatuan dan persaudaraan antar sesama. Dalam Islam sendiri, keduanya di yakini menjadi salah satu instrument penting dalam menampilkan wajah Islam yang sebenarnya: santun, ramah, dan tidak marah-marah.

Oleh karena itu, sebagai agama rahmat bagi semesta, Islam telah merumuskan bagaimana merawat simpul-simpul kebinekaan ini agar lebih mudah dipahami. Tujuannya tak lain, dapat mewujudkan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dari dan untuk semua elemen masyarakat.

Persatuan dalam Islam

Menelusuri entitas persatuan dalam Islam, kita dapat menemukannya dalam beberapa sumber sekaligus, yang satu sama lain tentunya saling berkelindan. Dalam al-Qur’an, pesan ini tersirat dalam QS. Ali Imran [03]: 103 yang menegaskan, bahwa bagi segenap orang yang beriman di haruskan untuk berpegang pada tali Allah swt. dan untuk tidak tercerai-berai dalam persaudaraan. Dikalangan ulama (mufassir), ayat ini dipahami dengan beragam pengertian, sekaligus menyimpan makna yang berbeda (multitafsir).

Baca juga : Gotong-Royong Viralkan Perdamaian di Medsos

Dalam Tafsir Al-Maturidi misalnya, sahabat Abd’ Allah Ibn Masud menafsiri kata “Hablu Allah” (tali Allah swt.) dengan makna persatuan (Al-Jama’ah), yang artinya berupa perintah untuk meneguhkan persatuan dan menjauhi perpecahan. Pendapat tersebut di kutip oleh beberapa ulama, misalnya, Abu Ja’far Al-Thabari (w. 310), Abu Hayyan Al-Andalusi (w. 745), dan Abu Hasan ibn Muhammad Al-Mawardi (w. 450).

Dalam komentarnya, Abu Mansur Al-Maturidi (w. 333) menegaskan, keharusan menjaga persatuan karena tipikal seorang muslim (ahl al-Islam) tak lain dengan menjaga persatuan (al-Jama’ah), dan mencegah perpecahan. Hal ini selaras dengan pesan dalam QS. Al-An’am [06]: ayat 153, bahwa kita diharuskan mengikuti jalan yang lurus dan tidak sebaliknya, jalan yang dapat mencederai persatuan. Demikian ini perintah Allah swt. agar menjadi manusia yang bertakwa.

Komentar (syarh) yang lebih dialogis dapat ditemukan dalam—diantaranya—kitab Tafsir Al-Mawardi, bahwa larangan tercerai-berai antar sesama tidak lepas dari dua penafsiran: pertama, keharusan menjaga persatuan dalam meneguhkan (ajaran-ajaran) agama. Dan kedua, bersatu dalam meneladani pesan-pesan kenabian Muhammad saw. Penafsiran ini, berdasarkan artikulasi persatuan dalam konteks keberagamaan. Sementara dalam bingkai keindonesiaan lain lagi, yakni upaya merajut tenun kebangsaan dan merawat elan-elan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perbedaan penafsiran ini, tak lain lahir dari ekspresi pemikiran para ulama yang mendasarkan pada analisa dan kerangka berfikir yang berbeda, sehingga menghasilkan rumusan yang berbeda pula. Namun setidaknya mereka sepakat akan satu hal, bahwa perbedaan adalah benalu dalam mewujudkan persatuan dan persaudaraan. Menurut Syamsuddin Al-Qurtubi (w. 671), perbedaan yang tak di benarkan ialah yang berpotensi pada perpecahan dan kehancuran.

Komentar serupa di kemukakan oleh KH. Hasyim Asyari (w. 1366) dalam bukunya Al-Tibyan fi Al-Nahyi an Muqatha’ati Al-Arham wa Al-Aqarib wa Al-Ikhwan, bahwa perpecahan adalah faktor utama dari kelemahan, kekalahan dan kegagalan sepanjang zaman. Bahkan tidak hanya itu, potensi lain dari perpecahan ialah terjadinya chaos, yang merusak tatanan kehidupan berbangsa dan timbulannya kehancuran yang tak bisa di hindari.

Oleh karenanya, lanjut kiai Hasyim dalam Muqaddimah Qanun Al-Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, berapa banyak bangsa-bangsa besar yang hidup makmur, pembangunan merata, kemajuan terasa hingga pelosok negeri, dan pemerintahan berjalan dengan baik, tidak lain berkat terjalinnya persatuan dan kesatuan antar semua element masyarakat. Karenanya, sebagai bagian sunnatullah, manusia selalu hidup berdampingan dan berinteraksi dengan yang lainnya. Sehingga persatuan adalah sebuah keniscayaan!

Pada akhirnya, perbedaan agama, ras, bahasa, atau bahkan afiliasi (pilihan) politik, bukan lagi menjadi legitimasi untuk mengabaikan persatuan. Dan karenanya, Islam mewanti-wanti pentingnya menghargai perbedaan dan merawat persaudaraan. Dalam sepenggal hadis dlaif riwayat Al-Qadha’i ditegaskan, “Persatuan adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab”. Wallahu a’lam.

Facebook Comments