Islam Kudet dan Titik-Balik Bahasa

Islam Kudet dan Titik-Balik Bahasa

- in Suara Kita
209
0
Islam Kudet dan Titik-Balik Bahasa

Peristiwa the linguistic turn yang terjadi di Barat pada dekade 60-70an pada akhirnya mampu mengubah, atau setidaknya mampu mempertanyakan, kemapanan ilmu pengetahuan dan bahkan kebudayaan secara umum. Dalam bidang agama, lahirnya hermeneutika dan perspektif-perspektif yang mendasarkan diri pada bahasa, tak urung juga membuat agama dan kehidupan beragama berjalan sesuai dengan konteks yang melingkupinya. Arkoun dan al-Jabiri adalah dua di antara beberapa pemikir muslim yang cukup memiliki pengaruh dalam kajian keislaman kontemporer. Mereka adalah bagian dari apa yang dikenal sebagai strukturalisme dan postrukturalisme Islam yang sempat pula menyisihkan kecenderungan keislaman lainnya seperti Islam kiri atau progresif dan liberalisme Islam yang telah usang.

Dalam kajian keislaman jelas dengan adanya berbagai kecenderungan itu “Islam” tak pernah hadir secara tunggal sebagaimana yang dituntut dan direpresentasikan oleh Islam radikal. Wacana dan praktik keislaman pun pada akhirnya tak tampak kudet karena mampu menyikapi berbagai konteks yang melingkupinya. Tak sekedar konteks sosial dan kebudayaan yang plural sebagaimana yang terjadi pada masyarakat kontemporer, namun juga konteks-konteks lain yang merupakan bagian dari dinamika kehidupan kontemporer. Taruhlah sebuah keabsahan ijazah berbagai wirid ataupun doa yang sekarang cukup diberikan secara online dimana dahulu mesti berlangsung secara tata muka. Konteks dunia digital yang tak mampu lagi dihindari ternyata mampu mengubah konsep barakah yang tentu bersifat metafisis atau seturut dengan keyakinan.

Wacana-wacana keislaman yang dari sudut-pandang kekinian seolah bersifat segregatif dan intoleran, seperti pemilahan antara orang kafir dan orang beriman, yang dalam kehidupan sekarang berpotensi memecah-belah kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang tak mendasarkan diri pada agama tertentu, dapat dengan mudahnya disikapi dengan tanpa takut akan melanggar hukum-hukum agama. Taruhlah seumpamanya istilah kafir yang ternyata sangat beragam pemaknaannya dimana hal ini mengindikasikan bahwa konsep masyarakat dan negara yang tak mendasarkan diri pada agama tertentu menjadi sah untuk diterima dan dilanjutkan tanpa perlu lagi memperhitungkan tingkat kekafahan keislamannya.

Dalam khazanah budaya Jawa terdapat banyak kearifan untuk memaklumi sebuah keadaan bahkan pun ketika bertautan dengan agama. Di antara beberapa kearifan itu adalah konsep “bawarasa” yang merupakan singkatan dari basa-mawa-rasa atau bahwa bahasa tak semuanya bersifat literal, namun adalah sebuah pasemon yang menuntut pengupasan lebih lanjut dimana seringkali adalah fakultas rasa yang lebih berperan untuk memahaminya. Taruhlah pemaknaan istilah kafir yang ketika ditilik dengan konsep bawarasa akan dapat bermakna kalaping pamikir dimana secara ironis ketika seseorang mengkafirkan orang lainnya justru ia sendirilah yang tengah tak berotak atau tak berfungsi nalarnya (kalaping pamikir).

Dengan demikian, wacana-wacana ataupun narasi-narasi keagamaan yang secara sekilas bersifat segregatif dan intoleran, sebagaimana yang tampak dalam pembawaan para muslim konservatif atau utun, tak akan memengaruhi dinamika masyarakat kontemporer yang mau tak mau bersifat plural. Karakter kudet dan utun dari sebuah corak keagamaan pada akhirnya hanyalah serupa, untuk meminjam metafora Foucault yang menggambarkan “kesaktian” dari sebuah wacana atau bahasa, “Guratan wajah di tepi pantai.”

Facebook Comments