Islam Mangkunegaran dan “Hilangnya” Kauman

Islam Mangkunegaran dan “Hilangnya” Kauman

- in Suara Kita
237
1
Islam Mangkunegaran dan “Hilangnya” Kauman

Malam satu Sura kemarin, ratusan mata tertuju pada Pura Mangkunegaran, Solo. Era teknologi makin maju, tetap saja tak bisa mengusik tradisi kirab pusaka. Ritual tersebut masih menyedot perhatian khalayak ramai. Pusaka diarak ke luar istana diikuti abdi dalem dan tamu dengan tapa bisu (tidak mengeluarkan suara). Upacara tradisional ini bagian dari perkawinan antara Islam dan budaya Jawa yang harmonis.

Sepulang dari menonton kirab, kita bisa memergoki dua plang nama kampung Kauman berdiri gagah di pinggir jalan belakang istana Mangkunegaran. Tapi malangnya, Kauman ini tidak direken dalam memori kolektif wong Solo. Orang-orang di kampung halaman Jokowi lebih mengenal Kauman yang berlokasi di area Kasunanan, dekat Pasar Klewer.

Muncul pertanyaan menggugat, mengapa Kauman Mangkunegaran “sirna” hingga jarang dikenal oleh masyarakat Surakarta? Terdapat enam faktor yang melatarbelakanginya. Pertama, dipindahnya masjid Nagara dari Kauman ke selatan menyeberangi Sungai Pepe, tepatnya di barat Pura Mangkunegaran. Masjid itu kini dikenal dengan nama Masjid Al Wustha. Mengacu buku Sejarah Masjid Al-Wustha, masjid ini dibedol MN IV tahun 1878. Dengan modal kekuasaan dan setumpuk uang dari hasil industri gula Colomadu-Tasikmadu, MN IV mudah menggeser posisi masjid besar tersebut. Perpindahan sarana ibadah ini akhirnya mengakibatkan Kauman kehilangan unsur pokok menopang identitas kampung religi dan markas ulama.

Kedua, tidak memiliki gelar Sayidin Panatagama Kalifatullah yang disampirkan pundak MN I berikut penerusnya. Penguasa Mangkunegaran merasa tidak terbebani secara moral dalam upaya menyukseskan program pengislaman di tanah Jawa. Beda dengan Paku Buwana yang ditemploki gelar pemimpin agama Islam itu, sehingga mau tak mau harus menjaga aktivitas keagamaan di Kauman dan memperhatikan perkembangan fasilitas beribadah di wilayah kekuasaannya. Bukti longgarnya praja Mangkunegara soal agama, yakni program Kristenisasi oleh pemerintah kolonial Belanda melaju kencang di “kampung utara” dibandingkan “kampung kidul” Kasunanan. Pemikiran liberal serta relasi sosial yang dianyam bangsawan Mangkunegaran dengan orang Eropa turut mempengaruhi kondisi itu.

Baca Juga : Memenangkan Kemanusiaan dalam Realitas Maya dan Himpitan SARA

Ketiga, kepentingan ekonomi lebih mendominasi Praja Mangkunegaran ketimbang kepentingan keagamaan. Krisis keuangan yang melanda praja era MN III menyebabkan generasi selanjutnya lebih menitikberatkan urusan ekonomi. Hutang kepada Belanda menumpuk, MN IV lekas berpikir keras demi menyelamatkan roda praja yang oleng. Langkah berani yang ditempuh ialah menarik tanah lungguh sebagai penopang pembangunan pabrik gula. Aksi ini jelas menguras energi serta waktu, sebab ide ini sempat ditentang kerabat Mangkunegaran alias tidak berjalan mulus. Dalam benak MN IV, agama dan kemampuan ulama di Kauman bukan jalan keluar untuk mengatasi persoalan ekonomi. Imbasnya, ruang kekuasaan ulama dan praktik keagamaan di Mangkunegaran tereduksi. Tak ayal, jabatan ulama tidak lagi dominan atau diunggulkan dalam birokrasi istana.

Keempat, kesadaran keagamaan dalam diri MN IV relatif rendah dibanding kepiawaian dalam bidang ekonomi dan spiritual Jawa. Fakta ini tersirat dalam penggal Serat Wedhatama: “Nanging enak ngupo boga, reh ne ta tinitah langip, apata/ suweting nata, tani tanapi agrami/ Mangkono mungguh mami, padune wong dahat cubluk/ durung wruh cara Arab, Jawa-ku wae tan ngenting/ parandene paripaksa mulang putra. Artinya, tetapi seyogyanya mencari nafkah, karena diciptakan/ sebagai makhluk lemah, apakah mau mengabdi/ kepada raja, bercocok tanam atau berdagang// Begitulah menurut pemahamanku, sebagai orang yang/ sangat bodoh, belum paham cara Arab, tata cara Jawa saja tidak mengerti. Namun memaksakan diri mendidik anak.

Informasi ini melukiskan seberapa tinggi pemahaman keagamaan MN IV. Tersirat pula betapa tujuan duniawi mengalahkan tujuan akhirat di lingkungan Mangkunegaran. Bahkan, pewarisan pengetahuan ekonomi terhadap anak-cucu lebih diutamakan oleh MN IV ketimbang menyalurkan pengetahuan agama lewat ulama Kauman seperti model raja Kasunanan yang rela mendatangkan guru agama dari luar daerah untuk menggembleng buah hati dan kerabatnya.

Realitas sejarah ini diperkuat dengan pitutur MN IV yang tersurat dalam Serat Wedhatama Jinarwa Pupuh 2 Sinom. Berikut ini terjemahan bebasnya: Kepada yang memberi makan (tuannya), jika terlalu lama (melakukan sembahyang) dimarahi, sehabis tafakur setiap hari hatiku rasanya seperti kiamat, berat Allah apa Tuan, sesalku tidak karuan, lama-lama aku paham, karena aku ini anak priayi/bangsawan, apabila nekat menjadi ulama akan sengsara.

Kelima, kejayaan pabrik gula Colomadu (1861) dan Tasikmadu (1871) kian meyakinkan MN IV untuk getol menggeluti sektor ekonomi, bukan menekuni agama. Dalam pemikirannya, industri gula yang dikembangkan dengan sungguh-sungguh ternyata berhasil menciptakan “surga” di dunia nyata. Para pembesar Mangkunegaran kadung asyik bermain dengan butiran gula sebagai komoditas ekspor kala itu. Tujuan duniawi berhasil diraih hingga mampu menjadikan Mangkunegaran menduduki urutan paling kaya ditelatah Jawa. Praja Mangkunegaran merupakan satu-satunya kerajaan yang melahirkan penguasa pribumi moncer di sektor wirausaha. Namun, sektor keagamaan kurang tergarap.

Keenam, masyarakat Kauman Mangkunegaran tidak sanggup merespon perubahan zaman serta tidak memiliki pekerjaan sambilan untuk menopang hidup, selain menjadi abdi dalem istana. Padahal, dari waktu ke waktu, pekerjaan ulama dan kegiatan keagamaan di lingkungan praja mulai menyusut. Program Islamisasi di wilayah kekuasaan Mangkunegaran juga tidak terlalu signifikan. Hal tersebut mengindikasikan kurangnya keterlibatan ulama, atau tidak laris dari masa ke masa. Kenyataan ini berimbas pada krisis identitas kampung, dan kondisi keuangan warga Kauman kurang sehat atau hidup pas-pasan.

Berbeda dengan Kauman Kasunanan dan Kasultanan, dimana masyarakatnya memiliki pekerjaan sambilan yang dapat menguatkan pilar ekonomi keluarga. Siapa sangka, warga Kauman di Kasunanan dan Yogyakarta memiliki keserupaan dalam aktivitas ekonomi rumah tangga. Mereka bekerja sambilan sebagai pengrajin batik untuk mempertebal kantong. Dan uniknya, profesi sebagai pengusaha batik ini tidak serta merta meluruhkan identitas kesantrian. Pasalnya, dalam perubahan sosial yang terjadi di sana terdapat sesuatu yang agaknya tidak berubah, yakni nilai (agama). Tatanan nilai Islam yang dianut masyarakat Kauman tetap berjalan dan menjadi nafas hidup warga setempat.

Dari paparan aneka faktor inilah, Kauman Mangkunegaran dimaklumi kehilangan denyut, kemudian hilang identitasnya sebagai kampung religi. Hal ini merupakan pilihan dilematis bagi petinggi Mangkunegaran. Kauman Mangkunegaran tidak lagi menjadi museum hidup Islam Jawa seperti di Kasunanan dan Kasultanan Yogyakarta. Aktivitas keagamaan yang masih tampak di Kauman adalah adanya sekolah islam.

Facebook Comments