Islam Melarang Ujaran Kebencian; Inilah Dalilnya!

Islam Melarang Ujaran Kebencian; Inilah Dalilnya!

- in Suara Kita
95
0
Islam Melarang Ujaran Kebencian; Inilah Dalilnya!

Ujaran kebencian tampaknya masih menjadi problem laten bagi bangsa. Ditahannya Bahar bin Smith atas penyebaran berita bohong dan pelaporan Ferdinand Hutahaen karena cuitan “Allah-mu ternyata lemah” mengonfirmasi asumsi tersebut. Bahar dan Ferdinand barangkali hanyalah puncak dari fenomena gunung es ujaran kebencian di Indonesia. Di level bawah (akar rumput), banyak masyarakat yang juga menjadi pelaku ujaran kebencian, baik disengaja atau pun tanpa disadari.

Ditinjau dari sisi ajaran Islam, ujaran kebencian merupakan perbuatan yang sangat dilarang. Dalam Islam, menyiarkan kebencian merupakan bagian dari akhlak tercela (akhlaqul madzmumah). Islam melarang sekaligus mengancam perbuatan ujaran kebencian. Larangan dan ancaman itu termaktub jelas dalam Alquran.

didalam Surat Al Hujurat ayat ke-11 dijelaskan tentang larangan terhadap perilaku ujaran kebencian, yakni, “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.”

Di dalam ayat tersebut, terkandung tiga istilah yang menjadi unsur pembentuk kebencian, yakni al-Ihshar, al-Maz, dan at-Tanabuz. Al-Ihshar berarti menghina dan menganggap remeh. Sedangkan al-Maz adalah perilaku mencela dan melaknat dengan maksud menyakiti atau dalam bahasa kekinian disebut sebagai kekerasan verbal. Terakhir adalah at-Tanabuz yang berarti panggilan yang tidak pantas atau panggilan yang merujuk kepada sesuatu yang buruk atau jelek.

Ayat di atas menjelaskan bahwa Islam tidak menoleransi perbuatan menghina, kekerasan verbal, dan melabeli orang atau kelompok lain dengan negative stereotype. Selain Surat Al Hujurat, larangan atas ujaran kebencian juga terdapat dalam Surat Al Humazah ayat 1, yang artinya “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,”. Dalam ayat tersebut terdapat lafal wayl, yang oleh Imam al Suyuthi dimaknai sebagai suatu tempat di neraka paling bawah bagi pelaku ujaran kebencian.

Dari ayat tersebut kita belajar bahwa perilaku menyebar kebencian merupakan dosa besar dalam Islam dan mendapat siksa yang pedih. Neraka wayl ialah derajat neraka paling bawah yang dihuni oleh para pelaku dosa besar. Para pelaku ujaran kebencian ialah manusia-manusia hina dan tempat paling pantas bagi mereka ialah neraka Jahanam.

Ancaman hukuman bagi pelaku ujaran kebencian juga terdapat dalam Al Quran surat an-Nur ayat 19. Bunyinya, “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.”

Ayat-ayat di atas kiranya menyadarkan kita betapa pentingnya menjaga lisan kita dari mengujarkan kebencian. Sebagaimana sabda Rasulullah, al-muslim man salima al-muslimuna min lisanihi wa yadihi. Maknanya, orang Islam yang sebenarnya adalah orang yang selamat dari lisan dan tangannya. Di era digital saat ini, tidak hanya lisan yang patut dijaga dari berujar kebencian, namun juga jemari kita. Di era digital, ketika kehidupan manusia didominasi oleh internet dan media sosial, kita perlu menjaga jemari kita agar tidak menyebarkan ujaran kebencian.

Berinternet atau bermedia sosail tentu tidak dilarang oleh Islam. Namun, ada prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh ketika kita berinteraksi di kanal maya. Salah satunya ialah menghindari mengumbar kebencian. Media digital, terutama medsos memang ruang terbuka yang bebas; siapa saja bisa masuk dan bebas berinteraksi di dalamnya. Namun, kebebasan di dunia maya juga ada aturan dan batas-batasnya. Batas kebebasan di dunia maya ialah aturan hukum dan norma sosial.

Maka, barang siapa menyebar kebencian di ruang maya, bersiaplah ia menerima konsekuensi hukum dan sanksi sosial. Dari sisi hukum, ia bisa dijerat UU ITE tentang penyebaran konten kebencian. Dari sisi sosial, ia bisa saja menerima hukuman, mulai dari pengucilan (exclution) sampai penolakan massal.

Facebook Comments