Islam Mengharamkan Kearifan Lokal, Benarkah?

Islam Mengharamkan Kearifan Lokal, Benarkah?

- in Suara Kita
211
0

Menendang dan membuang Sesajen yang ada di titik lokasi Erupsi Gunung Semeru yang diiringi dengan dalih “inilah murka Allah SWT”. Tampaknya menghadirkan semacam pertanyaan penting. Apakah kearifan lokal itu bertentangan dengan ajaran Islam? Atau yang haram dalam Islam justru perbuatan kita yang merasa paling benar dan merusak keharmonisan sosial dalam kebhinekaan itu sendiri?

Kalau kita mengambil pandangan Syekh  Abu Bakar Syatha dalam Lanat Ath-Thalibin menyatakan secara jelas. Bahwa, segala perbuatan seperti menyembelih atau melakukan apa-pun itu, selama memiliki niat mempersembahkan untuk (mendekatkan diri) kepada Allah SWT, maka hal yang semacam itu tidak dihukumi haram. Pun, sebaliknya, jika persembahan dalam bentuk menyembelih atau menghidangkan makanan untuk mengundang Jin, hal itulah yang haram dalam Islam.

Dari argumentasi Syekh  Abu Bakar Syatha, sebetulnya akan semakin memperjelas terkait penjelasan Warga setempat. Sebagaimana yang dijelaskan secara terang-benderang oleh KH Ma’ruf Khozin Perihal niat pemembuat sesajen tersebut yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Sebagaimana, pihak warga melakukan hal yang semacam itu, menurut KH Ma’ruf Khozin, sebagai satu kebiasaan masyarakat sejak dulu.

Hal semacam itu sebagai ritual kebudayaan setelah 40 hari erupsi gunung Semeru. Sebagaimana, para warga setelah habis Maghrib membaca tolak bala’, diiringi dengan Yasin bersama dan berdoa bersama. Lalu, di situ ada nasihat seorang Kiyai untuk memasang Sesajen. Sebagaimana dalam istilah Madura disebut tradisi petek’an. Pun, harapannya, Sesajen tersebut agar dimakan oleh binatang apa-pun yang ada di sekitar tersebut.

Dari pendapat ini, sejatinya kita akan memahami betul. Bahwa, kearifan lokal dalam bentuk Sesajen yang dilakukan masyarakat itu tidak ada kaitan-nya dengan praktik kemusyrikan. Sebab, kearifan lokal dalam maksud Sesajen yang dilakukan oleh Warga Lumajang itu sebetulnya telah masuk  ke dalam ranah (tradisi) yang dimasukkan nilai-nilai keagamaan. Karena, niat mereka tidak ada satu-pun untuk mengundang Jin atau-pun berharap kekuatan selain Allah SWT. Karena, mereka melakukan itu diiringi dengan pembacaan tolak-balak, surat Yasin dan diiringi dengan doa-doa secara Islami.

Oleh sebab itulah, kita harus paham. Bahwa, yang haram di dalam Islam itu sejatinya bukan kearifan lokal yang telah dimasukkan nilai-nilai religious itu. Akan tetapi, yang haram di dalam Islam itu sendiri adalah sikap kita dan perbuatan kita yang selalu merasa paling benar dan merusak kebhinekaan di negeri ini.

Facebook Comments