Islam Nusantara: Islam Ramah dan Santun dalam Dakwah

Islam Nusantara: Islam Ramah dan Santun dalam Dakwah

- in Suara Kita
202
1
Islam Nusantara: Islam Ramah dan Santun dalam Dakwah

Islam adalah agama yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Pada mulanya penyebaran islam di Arab ditolak karena Nabi mengajarkan agama yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran nenek moyang mereka. Islam datang sebagai agama pembebasan atas ketidakadilan, perbudakan dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, dalam hal teologi islam mengajarkan monoteisme. Nabi Muhammad dengan spirit pembebasan berusaha menghapuskan suku-suku dan kabilah-kabilah, tetapi sayangya perjalanan dakwah beliau tidaklah mulus. Mendapat banyak tantangan dan cobaan bahkan dari paman Nabi sendiri sehingga beliau memilih untuk hijrah dari Makkah ke Madinah.

Di Madinah Nabi saw. diterima dengan penuh gembira oleh masyarakat Anshor. Selama periode madinah Nabi lebih banyak berdakwah tentang muamalah. Nabi Muhammad sebagai pendatang bersama kaum Muhajirin hidup damai dengan penduduk asli madinah yaitu kaum Anshor. Satu hal yang bersejarah di Madinah adalah Nabi Saw membuat Piagam Madinah sebagai falsafah hidup antara orang Muslim, Yahudi, dan Nasrani.

Di Indonesia islam datang pada awalnya pada abad ke-7 Masehi. Sayangnya  ketika masuk islam tidak sepenuhnya dianut oleh masyarakat pribumi, hal ini karena masyarakat pribumi sudah memiliki agama sendiri. Menurut buku Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Walisongo ‘’dalam usaha mengislamkan Jawa, Sultan al-Gabah dari negeri Rum mengirim 20.000 keluarga muslim ke Pulau Jawa. Namun, banyak diantara mereka tewas terbunuh, dan yang tersisa hanya sekitar 200 keluarga. Sultan al-Gabah dikisahkan marah kemudian mengirim ulama, syuhada dan orang sakti ke Jawa untuk membinasakan para jin, siluman, brekesan penghuni Jawa’’  Kegagalan Sultan al Gabah dalam mengislamkan Jawa ditengarai karena mereka berdakwah dengan pendekatan syari’at yang  berusaha mengubah agama pribumi dengan islam.

Selama hampir 800 tahun islam mendapatkan penolakan dari masyarakat nusantara. Baru pada pertengahan abad ke-15 datanglah tokoh-tokoh sufi yang dikenal dengan sebutan Wali Songo berdakwah di nusantara. Dengan pendekatan sufistik dan mengakulturasikan budaya nusantara dan islam, dakwah walisongo mendapat penerimaan dari masyarakat pribumi termasuk raja-raja yang ada di nusantara. Sebagai contoh kita bisa melihat dakwah yang dilakukan Sunan Kaliaga.

Baca Juga : Islam, Kemerdekaan dan Keadilan

Dakwah ramah lewat pertunjukan wayang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, hal ini dilakukan karena kanjeng Sunan  menyadari masyarakat yang menganut agama kapitayan gemar akan pertunjukan wayang. Diantara berbagai lakon yang diambil adalah kisah Ramayana dan Mahabharata. Salah satu lakon yang digemari masyarakat adalah lakon Dewa Ruci, yang diambil dari pengembangan naskah kuno Nawa Ruci. Dakwah Sunan Kalijaga berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Dakwah yang anti budaya ala Wali Songo itu kemudian diteruskan perjuangannya oleh para Kiai Nusantara.

Para Kiai Nusantara penerus Wali Songo berusaha melestarikan ajaran dan strategi dakwah para pendahulunya itu secara arif. Pesantren merupakan lembaga pendidikan warisan Wali Songo. Pesantren mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan baik agama, kebudayaan, seni, ekonomi, politik dan sebagainya. Dari pesantren inilah lahir para ulama, para pujangga kenamaan, para bupati, para guru, dan para raja serta pendekar ternama.

Beberapa ulama besar yang lahir dari pesantren adalah KH.Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Faqih Maskumambang, KH Abdurrahman Wahid(Gus Dur) dsb. Perlu kita ketahui bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah pada awalnya belumlah memiliki wadah. Akan tetapi kita perlu bersyukur bahwa K.H Hasyim Asy’ari dan para kiai lainnya atas perjuangan beliau-beliau mampu mendiri Nahdlotul Ulama sebagai wadah dari Ahlusunnah Wal Jama’ah.

Awal mula berdirinya N.U didasari oleh direbutnya kembali kesultanan Hasyimiyyah di Makkah oleh Abdul Aziz bin Sa’ud. Sehingga otomatis wilayah Hijaz dikuasai secara mutlak olehnya. Ketika ia menguasai Hijaz, dia seenaknya-sesuai doktrin Wahabiyyah-melakukan penghancuran kubah, makam para sahabat, auliya’ dan orang shaleh di Makkah dan Madinah. Nyaris semuanya hancur kecuali kabah dan makam Rasulullah.

Menyikapi situasi ini, para ulama jami’ah Nahdlatul Wathan kemudian berkumpul dan berdiskusi peristiwa itu di Surabaya. Dalam musyawarah itu mereka menyepakati membentuk ‘‘Komite Hijaz’’yang diketuai oleh Kiai Wahab Hasbullah.Misi  ‘‘Komite Hijaz’’ini amat jelas untuk meminta kepada Raja Abdul Aziz agar berkenaan menghentikan penghancuran peninggalan peninggalan ulama terdahulu.

Di depan Raja Abdul Aziz, komite ini mengajukan apa yang menjadi misi mereka, dan secara khusus meminta agar sang raja berkenaan mengmbalikan keadaan Masjidil Haram seperti sedia kala-seperti generasi salaf dan khafah. Menanggapi hal ini, sang raja berkata ‘‘Aku sama seperti kalian, penganut empat Madzhab. Hanya saja, apabila kalian wahai para ulama Nahdliyin, pengikut madzhab Syafi’i, maka aku penganut madzhab Hambali. Kalian Syafi’iah dan kami Hambaliyah. Dan kita patut bersyukur atas semua itu.”

Selepas komite ini kembali dari Hijaz tahun 1925M., mereka lantas mengadakan/membentuk lajnah(organisasi) yang secara khusus bertujuan membela akidah  Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan para pengikutnya. Maka disepakatilah kemudian membentuk organisasi Nahdlatul Ulama(NU), dan secara aklamatis KH.Hasyim Asy’ari ditunjuk sebagai Rais Am dan sebagai wakilnya, ditunjuklah Kiai Faqih Maskumambang

Nahdlotul ‘Ulama yang berdiri sejak tahun 1926  merupakan organisasi islam terbesar di Indonesia yang sangat digandrungi oleh masyarakat. Hal ini karena kiai-kiai N.U dalam berdakwah menyuarakan perdamaian, sikap saling menghargai antar agama dan sesama manusia, sikap nasionalisme, menerima budaya lokal, tidak membuang tradisi yang ada. Hal ini karena di NU memiliki empat pilar aswaja yang dua diantanya adalah Tawassuth yang berada dalam ranah pikiran dan tasamuh yang berada pada ranah sikap, sehingga NU dengan spirit dakwah Islam yang Ramah  sangat diterima di Nusantara.

Facebook Comments