Islamofobia di Indonesia, Antara Ilusi dan Propaganda Kelompok Radikal

Islamofobia di Indonesia, Antara Ilusi dan Propaganda Kelompok Radikal

- in Narasi
886
0
Islamofobia di Indonesia, Antara Ilusi dan Propaganda Kelompok Radikal

Benarkah ada Islamofobia di Indonesia? Dengan gamblang jawabannya adalah ”tidak ada”.

Islamofobia adalah  kecemasan atau ketakutan akan kehadiran Islam dan/atau umat Muslim itu sendiri. Rasa takut dan cemas ini kemudian melahirkan tindakan berupa kebijakan yang membatasi atau bahkan melemahkan, mengerdilkan, dan  eksistensi Islam dan umat Muslim.

Merujuk pada pemaknaan itu, maka jelas tidak ada islamofobia di Indonesia.  Lebih-lebih yang berkaitan dengan kebijakan negara yang dianulir oleh pemerintah.

Malahan, sebaliknya, di Indonesia, Islam dan umat Muslim di perlakukan secara proporsional oleh negara. Bahkan, keberadaannya dilayani dan di ayomi secara baik.

Tak satu pun ada kebijakan-kebijakan negara yang mendiskriminasi Islam dan umat Muslim. Bahkan, sebaliknya, negara memfasilitasi Islam dan umat Muslim itu sendiri.

Sekolah-sekolah Islam, juga ikut dibiayai oleh negara. Masjid-masjid, yang merupakan tempat ibadah pokok bagi umat Muslim, juga dirawat dengan baik oleh negara. Tak ada sedikitpun pelarangan pergi ke masjid untuk beribadah. 

Umat Islam dijamin hak beragamanya oleh negara. Negara tak pernah mengeluarkan kebijakan negara yang diskriminatif pada umat Islam. Para kaum perempuan, tak sedikitpun dilarang menunjukkan identitas keislamannya.

Di Indonesia, Muslim dan Muslimah merdeka menjalani keyakinannya terhadap Islam. Dari negara, sama sekali tak pernah muncul wacana bahwa negara melarang umat Muslim menunjukkan identitasnya.

Yang ada, melalui berbagai kebijakan deliberatif, negara Indonesia kini telah mengakomodasi eksistensi Islam dan umat Muslim ke dalam sejumlah kebijakan negara.

Misalnya, penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN) yang dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 2014 silam, itu adalah bentuk perlakuan pengayoman negara terhadap Islam dan umat Muslim.

Bahkan, pada taraf kebijakan yang lebih serius, sejak 2019 lalu Pemerintah dan DPR juga telah mengesahkan Undang-Undang Pesantren, yang mana kehadirannya diharapkan bisa menjadi payung hukum untuk mengelola pendidikan (Islam) pesantren.

Di manakah islamofobianya? Adakah kebijakan-kebijakan negara yang mendiskreditkan umat Islam? Adakah kebijakan-kebijakan negara yang mempersempit ruang gerak dan partisipasi umat Muslim? Jelas tidak ada.

Karena itu, bisa dikatakan dan disimpulkan bahwa sebenarnya, narasi  islamofobia yang selama ini berkembang di Indonesia tak lebih dari sekadar propaganda  licik yang dihembuskan oleh kelompok radikal.

Tujuannya, adalah meraih simpati dan dukungan umat Islam, dan memperburuk citra negara di mata umat Muslim secara tak terkecuali. Dengan begitu, kelompok-kelompok radikal berharap mendapat keuntungan dari propaganda yang dilakukannya itu.

Jadi, dengan demikian menjadi amat sangat jelas bahwa islamofobia di Indonesia itu tidak ada. Keberadaannya hanyalah bagian dari propaganda dan wacana licik yang dimainkan oleh kelompok radikal itu sendiri.

Tindakan-tindakannya yang bertentangan dengan konstitusi, hukum, dan undang-undang, yang kemudian ditangani secara tegas oleh negara, di mainkan menjadi isu-isu islamofobia oleh mereka. Padahal, negara menindak mereka karena tindakan mereka sendiri yang mengancam NKRI.

Karena itu, dengan demikian kita perlu menarik garis penting dalam isu dan wacana islamofobia di Indonesia.  Dengan meyakini bahwa apa yang dilakukan negara terhadap kelompok-kelompok radikal-intoleran, itu bukankah islamofobia. Melainkan sebatas tindakan dan kebijakan untuk mengamankan dan menyelamatkan negara dari ancaman radikalisme dan terorisme.

Facebook Comments