Isu SARA dan Etika Bermedia Sosial

Isu SARA dan Etika Bermedia Sosial

- in Suara Kita
163
1
Isu SARA dan Etika Bermedia Sosial

Indonesia merupakan Negara kaya. Di antara kekayaan yang dimiliki ada suku bangsanya. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa. selain itu, Indonesia juga merupakan negara terbesar ke-6 dalam pengguna internet. Lima besar di atasnya adalah Tiongkok, Amerika Serikat, India, Brazil, dan Jepang. Di Asia Tenggara, sesuai Survei Data Global Web Index, Indonesia adalah Negara yang memiliki pengguna internet terbesar. Bahkan untuk sosial media, Indonesia menduduki peringkat pertama di Asia, mengalahkan Filipina, Malaysia, dan Cina.

Sebagaimana dinukil Evelina (2015), Pengamat social media Iwan Setyawan pernah melakukan studi tentang social media di Indonesia. Hasilnya adalah percakapan terbesar di social media yang utama adalah social expression, seperti perasaan senang, galau, dan sedih. Hal yang kedua adalah membicarakan tentang rutinitas mulai dari bangun tidur sampai mau tidur, seperti tidur, sekolah, makan. Ketiga, adalah orang yang membicarakan hal yang sedikit lebih serius sampai akhirnya orang membicarakan tentang politik.

Kekayaan suku bangsa dan tingginya penggunaan internet, khususnya media sosial, yang ada di Indonesia, menyebabkan dampak positif dan negatif. Dampak positif bisa terjadi manakala media sosial digunakan dengan baik dalam rangka merajut tali persaudaraan antara suku yang satu dengan yang lainnya. Di antara perbedaan yang ada antara satu bangsa dengan yang lainnya dicari persamaan untuk dipersatukan. Selain itu, perbedaan demi perbedaan juga digunakan dalam rangka melengkapi kekayaan Negara Indonesia. Dengan begitu, perbedaan yang ada bisa menjadi rahmat dan berdampak positif.

Salah satu kunci penggunaan media sosial sehingga akan tercapai kerukunan antar satu suku dengan yang lainnya adanya adanya etika. Netizen satu dengan yang lainnya mesti mengerti bahwa adanya perbedaan bisa menimbulkan gesekan hanya karena kata-kata yang tidak pas. Karena, dengan adanya perbedaan, sensitivitas sering kali terjadi di antara satu suku di hadapan suku yang lain. Dan, menghormati suku bangsa yang lain merupakan cara terindah dalam menjalin hubungan pertemanan di media sosial.

Baca Juga : Menjalin Toleransi Melalui Dakwah Yang Santun

Sebaliknya, dalam bermedia sosial di negeri yang penuh dengan kekayaan suku bangsa dianjurkan untuk tidak menebar provokasi ataupun kegaduhan dan berita bohong (hoaks). Jangan sampai hanya untuk kepentingan pribadi ataupun golongan tertentu, terdapat netizen yang memproduksi narasi provokatif terhadap netizen lain untuk menjelek-jelekkan suku bangsa lain. Lebih-lebih kata-kata hoaks juga jangan sampai terjadi di dunia maya. Karena, dengan adanya produksi narasi provokatif, kegaduhan, ataupun hoaks, akan menjadikan suku bangsa yang ada di Indonesia terpecah belah.

Dalam catatan sejarah, Indonesia sudah banyak mengenyam peristiwa pahit terkait dengan perbedaan suku bangsa yang disebabkan oleh kata-kata negative di media sosial. Insiden ini hanya gara-gara kepentingan politik, kepentingan pribadi, dan kurang matangnya pengguna media sosial. Dan, dari semuanya, kekurangmatangan dalam penggunaan media sosial sering menjadi masalah tersendiri. Terbukti, tidak sedikit mahasiswa yang menyatakan penyesalan atas penggunaan media sosial yang tidak pas sehingga menciderai persaudaraan antar-suku bangsa. Mereka baru sadar bahwa cuitan spontan yang dibubuhkan di laman media sosial mampu menciderai persaudaraan.

Dalam pada itulah menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama adalah bagaimana menggunakan media sosial yang beretika. Dengan adanya etika bermedia sosial, diharapkan perbedaan suku, ras, dan antar-golongan yang ada di Indonesia benar-benar menjadi kekayaan. Jangan sampai, karena tidak adanya etika, perbedaan yang ada justru menjadi malapetaka.

Wallahu a’lam.

Facebook Comments