Jadilah Haji Mabrur, Bukan Haji Mabur

Jadilah Haji Mabrur, Bukan Haji Mabur

- in Suara Kita
152
1
Jadilah Haji Mabrur, Bukan Haji Mabur

Animo masyarakat Indonesia yang sangat antusias mengamalkan rukun Islam kelima, ibadah haji, semakin mematahkan tesis sebagian kalangan, bahwa betapa pun masyarakat kini dilingkupi oleh pandangan serta praktik-pratik bercorak sekularistik, namun unsur religius tetaplah ada dan rasanya tak mungkin lenyap begitu saja.

Perintah haji oleh Tuhan dibebankan kepada hamba yang ‘mampu’ melakukannya (Q.S Ali Imron: 97). Kata ‘mampu’, tentu bukan hanya persoalan materi (biaya pemberangkatan) dan kesehatan, namun juga secara batiniah bermakna pada kesadaran diri, kalau haji yang ia tunaikan memerlukan niat yang suci dan hati yang bersih. Inilah yang oleh Allah dan rasul-Nya disebut sebagai haji ­mabrur.

Haji mabrur

Istilah ‘mabrur’ berasal dari bahasa Arab, yang akar katanya dari ‘barra, artinya berbuat baik, patuh, mendapatkan kebaikan atau menjadi baik. Jadi al-haj al-mabrur (haji mabrur) berarti haji yang mendapatkan birrun, kebaikan. Sering juga kita artikan sebagai ibadah haji yang diterima Allah Swt. Dengan kata lain, haji mabrur adalah haji yang mendapatkan kebaikan atau haji yang (pelakunya) menjadi baik. Itu sebabnya, dalam sebuah HR. Bukhari dan Muslim disebutkan, “… tidaklah ada balasan bagi haji mabrur, kecuali surga”.

Pertanyaanya, bagaimana cara meraih predikat haji mabrur itu? Di banyak kitab-kitab fiqih ada banyak keterangan yang menjawab pertanyaan ini. Namun secara sederhana, dapatlah disimpulkan bahwa cara untuk meraih haji mabrur, di samping perlu menata niat dan hati yang bersih, juga tidak kalah pentingnya agar setiap individu wajib mengerti betul tentang makna serta tujuan haji itu sendiri, yang di dalamnya menyangkut setidaknya dua hal. Pertama, memahami setiap apa yang diucapkan/dilafadkan, baik doa maupun bacaan-bacaan lainnya; dan kedua, melakukan internalisasi diri terhadap situs-situs suci yang dikunjungi di banyak tempat.

Baca Juga : Memaknai Haji, Ajang Jihad atau Sekedar Eksistensi

Ka’bah dan ‘Arafah, misalnya, adalah dua simbol yang turut mengaitkan Islam dengan agama monoteis sebelumnya, yang dibawa nabi Ibrahim dan Nabi Adam as. Ka’bah dibangun atas perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang merupakan nabi dari agama-agama monoteis (Q.S al-Haj: 78), yang oleh banyak ahli sosiologi dan perbandingan agama sekarang disebut sebagai ‘western religious’, yakni agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Sedangkan ‘Arafaf adalah simbol dari pertemuan kembali Adam as. dan Hawa setelah mereka terlempar dari surga karena tergoda bisikan Iblis. Wuquf di ‘Arafah, dengan demikian sekaligus merupakan simbiosis dari penyatuan kembali nenek moyang manusia dan keturunannya di bawah naungan bukit kasih sayang (jabal al-rahmah) (Azra, 2001).

Haji mabur

Refleksi terhadap perjalanan haji ini sangat penting dinternalisasi bagi setiap insan yang sedang di tanah suci maupun yang sedang menunggu jadwal pemberangkatan pada tahun-tahun berikutnya. Sebab, jika kita gagal memahami makna filosfis dari ibadah haji itu, maka sungguh rugi tenaga, materi, waktu, dan lain sebagainya.

Kegagalan dalam memaknai haji, dan tidak menjadi haji mabrur, mengantarkan pelakunya hanya pada apa yang dalam istilah bahasa Jawa disebut “mabur” (terbang), atau “haji mabur”, yang artinya orang yang beribadah haji sekadar terbang menggunakan transportasi udara (pesawat). Artinya, pelaksanaan haji sekadar ritual saja, yang tak memberi bekas atau pengaruh ke dalam kehidupannya.

Sama seperti orang yang terlihat rajin shalat lima waktu, tapi di saat bersamaan, juga rajin mengerjakan perbuatan-perbuatan yang justru dilarang oleh Islam, misalnya korupsi, suap, dan lain-lain. Karena itu, perjalanan haji sejatinya tidak berhenti pada pemenuhan ritual-ritual yang hampa makna, tapi yang jauh lebih penting adalah internalisasi terhadap apa yang dilakukan selama berhaji.

Hakikat haji mabrur adalah haji yang menjadikan orang setelah melakukannya, atau sepulangnya ke kampung, dia memiliki komitmen sosial yang lebih kuat. Jadi meningkatnya komitmen sosial itulah sebetulnya yang menjadi indikasi dari kemabruran.

Maka jadilah haji mabrur, bukan haji mabur!

Facebook Comments