Jadilah Intelektual yang Agamis Tanpa Mengkafirkan Sesama

Jadilah Intelektual yang Agamis Tanpa Mengkafirkan Sesama

- in Suara Kita
797
3
Jadilah Intelektual yang Agamis Tanpa Mengkafirkan Sesama

Sekarang lagi trend seorang anak mengurui orang tua ataupun tetangga soal agama. Awalnya anak ini santun, tetapi setelah kuliah di kota malah tambah brutal menjustifikasi dirinya paling benar. Padahal agama tidak mengajarkan begitu, kasus seperti ini tidak patut ditiru. Sejatinya dalam melakukan kebaikan tidak dibenarkan dengan kebatilan. Walapun serendah apapun pendidikan orang tua tidak patut anak mengurui, apalagi sampai mengkafir-kafirkan orang tua.

Hal seperti ini menjadi pelajaran orang tua dalam menyekolahkan anak, mengkuliahkan anak dan mempondokkan anak. Sekarang banyak sekolah, kampus dan pondok pesantren yang dinaungi Islam garis keras. Islam garis keras ini sering melakukan kebaikan tetapi malah dengan cara kebatilan. Keselektifan orang tua dalam pendidikan ini sangat menentukan anak mendapatkan cahaya atau malah dapat kegelapan. Jangan sampai anak-anak terpapar ideologi ISIS ataupun HTI.

Di era digital ini banyak kasus kafir mengkafirkan sesama Umat Islam  (takfiri). Fenomena seperti ini bisa dipengaruhi oleh guru, ustadz, teman, golongan atau pengaruh media sosial (Medsos).  Pengaruh medsos juga sangat menonjol dalam penyebaran ideologi, menginggat penduduk Indonesia sangat aktif dalam medsos. Penyebaran ideologi via medsos terkadang tanpa disensor tingkat kelayakannya.

Pada bulan Januari 2019, Indonesian Digital Report 2019 merilis bahwa pengguna mubile unik di Indonesia mencapai 355,5 juta dari total jumlah penduduk 268,2 juta jiwa, bearti orang Indonesia banyak yang memiliki lebih dari satu mobile unik. Dari penduduk 268,2 juta jiwa pengguna internetnya mencapai 150 juta dan semua aktif di medsos. Adapun 4 besar medsos yang paling digemari masyarakat Indonesia yaitu Youtube 88 persen, Whatsapp 83 persen, Facebook 81 persen, Instagram 80 persen.

Kafir mengkafirkan saat ini banyak dilakukan via medsos, jadi di medsos harus cerdas, teliti dan selektif dalam memperoleh informasi. Kafir mengkafirkan banyak untuk menyerang suatu tokoh yang berbeda organisasi keagamaan. Pelaku takfiri secara intelektual keagaaman itu dangkal, tetapi mereka berani mengkafirkan tokoh, Kiai atau Guru. Orang yang mengkafir-kafirkan sesama muslim bisa diragukan ketahuhidannya.

Baca Juga : Melawan Takfirisme dengan Teologi Cinta

Berbicara takfiri tentu berbicara keimanan seseorang. Standar keimanan yang konkrit itu ada 6, imam kepada Allah, imam kepada Malaikat, imam kepada 4 Kitab Suci, imam kepada Rosul, imam kepada Hari Kiamat dan imam kepada Qodo dan Qodar. Semua Muslim pasti perpegangan ini, walapun berbeda mahzab, berbeda organisasi keagamaan ataupun beda partai. Jadi, sesama muslim tidak usah mengkafirkan sesama kalau rukun imamnya masih 6 ini.

Takfiri banyak dijadikan senjata perebutan kekuasaan. Memang begitu keras perebutan kekuasaan. Sejak zaman khalifah kekuasaan banyak diperebutkan dengan cara bertolak belakang dengan ajaran Islam. Misalnya tragedi karbala yang menggakibatkan terbunuhnya Sayyidina Husein bin Ali, jelas kasus karbala bermuatan politik kekuasaan Khalifah Yazid bin Mu’awiyah, hanya karena kekuasaan Cucu Nabi Muhammad SAW dikorbankan. Menyikapi kasus karbala jangan sampai menjelekkan Mu’awiyah, biar bagaimanapun juga Mu’awiyah banyak para sahabat Nabi Muhammad SAW.

Dari kasus karbala bisa dipahami kekuasaan itu panas dan sengit. Jadi sangatlah wajar seorang pemimpin pasti banyak serangannya, salah satunya dengan  takfiri. Padahal intinya tauhid itu ada di dalam 2 kalimat syahadat, dimana dalam 2 kalimat syahadat muslim dituntut untuk tidak menyekutukan Allah dan menyakini Nabi Muhammad itu utusan Allah. Misalnya ada orang tahlilan, ziarah kubur dan sholawatan jangan dihukumi kafir. Sebab tahlil dan ziarah kubur itu untuk mengagungkan Nama Allah, sedangkan sholawat sebagai penyanjungan dalam mengakui Nabi Muhammad itu utusan sekaligus kekasih Allah.

Kaum takfiri sangat mencoreng Islam. Islam adalah ajaran santun dan ramah buat siapapun, Islam bukan untuk menghakimi, Islam itu agama yang ringan bukan malah menyulitkan, apabila ada orang yang membuat sulit ajaran Islam, bearti mereka menyulitkan agama Allah. Gus Baha’ (KH. Ahmad Baha’uddin Nursalim) dalam ngajinya selalu menjelaskan Islam itu agama yang tidak memberatkan penganutnya. Gus Baha terkenal hafidzul Qur’an beserta tafsirnya, serta hafal kitab-kitab dan hadist.

Gus Baha pernah menceritakan zaman sahabat Nabi, kala itu ada sahabat Nabi. Sahabat ini pernah mengalami telat berjamaah, sebab ketika iqomah sahabat ini sudah berangkat kemasjid, lalu pas mau sholat untanya lepas, sahabat ini lari mengejar untanya, setelah unta diamankan sahabat ini melakukan sholat sebagai makmum masbuq karena telat. Setelah sahabat ini selesai sholat, apa yang terjadi? Ada seorang tabi’in yang mengkomentari sahabat ini cinta dunia, sebab sholatnya terganggu karena untanya lepas. Setelah mendengar komentar dari tabi’in sahabat ini menangis, sebab kala Rosullulah kasus seperti itu tidak dipermasalahkan, kenapa zaman tabi’in jadi dipermasalahkan kata sahabat.

Cerita ini mengajarkan bahwa seorang intelektual yang agamis tidak perlu mengkafir-kafirkan sesama. Masalah ibadah orang per-orang memiliki cara dan tingkatan masing-masing. Islam itu ajaran yang memberikan cahaya dan rahmat buat alam semesta dan mahluk-Nya. Jangan sampai kita Muslim tetapi malah mengadu domba, memfitnah, bersikap rasisme ataupun menebar kebencian yang berbeda aliran dengan kita. Persoalan cara amalan-amalan keagamaan yang berbeda jangan sampai merusak kerukunan, sebab inti dari Islam adalah memanusiakan manusia.

Facebook Comments