Jagalah Lisan dan Jari-Jemari Kita, Agar Tidak Memecah-Belah!

Jagalah Lisan dan Jari-Jemari Kita, Agar Tidak Memecah-Belah!

- in Suara Kita
104
0
Jagalah Lisan dan Jari-Jemari Kita, Agar Tidak Memecah-Belah!

Mengawali tahun 2022 dengan munculnya kasus SARA atau ujaran kebencian sejatinya bukan satu awalan yang baik. Karena, akan berdampak buruk terhadap misi bersama kita di dalam menjadikan tahun 2022 sebagai tahun toleransi. Karena, beginilah ketika kita (kurang hati-hati) di dalam menjaga lisan dan jari-jemari kita. Baik di ruang nyata atau-pun sosial media. Hingga berujung pada ranah hukum dan berdampak pada disentegritas sosial.

Sebagaimana, kasus pelaporan Ferdinand Hutahaean dengan cuitan-nya di jagat medsos yang dianggap bernilai SARA. Hingga, kasus Bahar bin Smith yang melakukan ujaran kebencian terhadap pejabat negara melalui ceramahnya. Maka, dari dua kasus ini merupakan satu bukti nyata. Bahwa, ketika kita kurang mengontrol diri secara emosional dan kurang hati-hati di dalam menjaga lisan atau-pun jari-jemari di media sosial, maka yang terjadi justru membawa “bara api” yang akan memecah-belah tanpa disadari bahwa itu akan menyebabkan masalah.

 Perihal Kebebasan

Pun, kita tidak bisa secara orientasi berlindung di atas kebebasan ekspresi atau-pun berlindung di atas kebebasan ber-demokrasi. Lalu, begitu mudahnya menyebar narasi kebencian, menghina atau-pun melecehkan ajaran keagamaan tertentu. Sebab, kita memang di berikan hak mutlak atas kebebasan berpendapat, mengkritik atau-pun menyampaikan aspirasi. Baik di ruang nyata atau-pun di sosial media.

Kita harus paham. Bahwa kebebasan itu adalah cara kita mempertanggungjawabkan diri secara etika-moral atas apa yang kita lakukan. Kebebasan adalah hak potensial tiap personal untuk tegak sebagai kebaikan. Sebab, kebebasan adalah cara kita bersikap yang benar. Bukan sebaliknya.

Artinya, kebebasan adalah cara memberikan wadah atas pendapat, sikap atau-pun narasi yang membawa esensi baik dari tiap-tiap kita. Jadi, kebebasan bukan sosial kita bebas melakukan apa saja. Termasuk melakukan ujaran kebencian terhadap orang lain di sosial media atau-pun di setiap ucapan di ruang-ruang publik yang akan membawa impact buruk.

Maka, sangat wajar ketika Plato menyatakan bahwa kebebasan merupakan satu kebijakan dan kebaikan dalam demokrasi. Tetapi, demokrasi hanya bisa cocok dengan mereka yang sehat ruhaninya. Sebagaimana, kata (ruhani) selalu mengacu kepada kesadaran seseorang dalam beragama yang bisa memilah benar dan salah dan mengerti baik dan buruk.

Jaga Lisan dan Jari-Jemari

Jadi, point penting dari tulisan ini, di satu sisi kita perlu hati-hati di dalam berucap atau-pun menggunakan jari-jemari kita di sosial media. Karena, khawatir justru akan menjadi “bara api” kebencian karena memiliki unsur SARA. Sebab, kita mungkin tidak menyadari terhadap apa yang telah kita ketik atau apa yang telah kita bicarakan. Setelah kita melakukan itu dengan emosi yang tidak terkontrol. Sehingga, hal itu dapat disadari setelah masuk ke ranah hukum atau pelaporan atas dugaan kebencian dan lain sebagainya.

Selain itu, jangan sampai bersembunyi di atas kebebasan. Sebagaimana yang saya sampaikan perihal hakikat dan hikayat kebebasan itu sendiri. Baik dari fungsi dan substansi. Karena, tindakan kebencian atau SARA yang bersembunyi di balik kebebasan itu sama-saja “mengotori” ruang-ruang kebebasan itu sendiri. Karena, kebebasan Albert Camus selalu menyatakan secara tegas. Bahwa, kebebasan itu perlu didasari oleh rasa tanggung-jawab secara moral-kemanusiaan dan perlu pengetahuan yang objektif.            

Oleh karena itulah, kita di satu sisi perlu hati-hati di dalam berucap atau-pun mengetik sesuatu di sosial media. Jagalah lisan dan jari-jemari kita agar tidak memecah-belah. Hingga berujung pada masalah hukum dan tatanan sosial kita semakin berpecah-belah. Karena, segala sesuatu yang tidak didasari oleh kehati-hatian niscaya akan menyebabkan masalah. Jadi, marilah kita jaga tahun 2022 ini agar tetap menyongsong spirit tahun toleransi, bukan tahun kebencian yang akan menjadi masalah bagi negeri ini.

Facebook Comments