Jangan Jadikan Konsep al Wala’ wal Bara’ Sebagai Alat Justifikasi Kebencian dan Kekerasan

Jangan Jadikan Konsep al Wala’ wal Bara’ Sebagai Alat Justifikasi Kebencian dan Kekerasan

- in Narasi
177
0
Jangan Jadikan Konsep al Wala’ wal Bara’ Sebagai Alat Justifikasi Kebencian dan Kekerasan

Membincangkan ideologi radikalisme, mustahil kiranya tanpa menyinggung konsep al wala’ wal bara’. Doktrin tersebut selama ini telah menjadi semacam fondasi berpikir kaum radikal yang anti-kemajemukan dan menganggap non-muslim sebagai musuh yang wajib diperangi. Jika ditelusuri, konsep al wala’ wal bara’ ini sebenarnya memang berakar dari tradisi dan ajaran Islam. Namun, dalam perkembangannya doktrin itu mengalami semacam penyimpangan makna.

Sejumlah ulama konservatif, mulai dari Ibn Taimiyan dan Abdul Wahab (pendiri aliran Wahabi) memaknai doktrin al wala’ al bara’ sebagai sikap setia pada Islam yang diwujudkan dengan membenci kelompok selain Islam. Makna yang semacam ini jelas telah mengalami semacam distorsi. Tersebab, secara garis besar Islam sangat menjunjung tinggi toleransi terhadap agama lain.

Kaum radikal umunya memahami doktrin al wala’ al bara’ berdasar pada ayat-ayat Alquran yang turun di Makkah (ayat Makkiyah). Dari latar historisnya, kita tahu bahwa di Mekkah dakwah Nabi Muhammad menghadapi tentangan luar biasa dari kaum kafir Quraisy. Tidak hanya dihalangi dakwahnya, Nabi juga berkali-kali terancam nyawanya. Maka, tidak mengherankan jika ayat-ayat yang cenderung menebar sentimen kebencian pada non-muslim banyak turun di periode Makkah.

Sebaliknya, di periode dakwah Rasulullah di Madinah, Alquran lebih banyak berbicara tentang persamaan hak dan kesetaraan manusia. Ayat-ayat Madaniyah yang berkarakter toleran dan inklusif itulah yang idealnya menjadi rujukan umat Islam di era sekarang. Tersebab, konteks zaman kekinian memiliki banyak kemiripan dengan situasi di Madinah. Di era modern ini, kita nyaris tidak bisa lepas dari kemajemukan, dan harus diakui kita (umat Islam) juga mustahil menarik diri dari berinteraksi dengan kelompok non-muslim.

Dalam lingkup kehidupan kenegaraan dan kebangsaan misalnya, hari ini negara-negara muslim menjadikan negara-negara Barat (non-muslim) sebagai mitra strategis dalam bidang ekonomi, sosial, dan politik. Dalam kehidupan individu, hari ini umat Islam juga mustahil lepas dari berinteraksi dengan golongan non-muslim. Harus diakui bahwa sebagian besar produk teknologi yang dinikmati umat Islam hari ini merupakan produk dari non-muslim.

Berkaca dari fakta tersebut, doktrin al wala al bara’ yang dipahami secara kaku kiranya tidak relevan dengan realitas kekinian. Di era digital ini, kita tidak lagi bisa berpikir secara oposisi biner dan dikotomistik yakni mengklasifikasikan manusia hanya dari identitas agamanya (Islam-non-Islam) saja. Dunia kian kompleks, maka dibutuhkan logika berpikir yang rasional dan kritis.

Siapa Musuh Islam Sebenarnya?

Melihat realitas yang ada saat ini, musuh utama umat Islam bukanlah golongan non-Islam. Musuh umat Islam saat ini ialah kurangnya kesadaran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi karena sibuk oleh urusan perbedaan tafsir keagamaan dan rebutan kekuasaan politik. Berabad lamanya umat Islam terlena oleh debat kusir nir-makna tentang fiqih serta diadu-domba oleh para elite politik yang haus kekuasaan. Alhasil, kita terus terjebak dalam keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan, dan kejumudan. Musuh-musuh itulah yang harus dilawan oleh umat Islam hari ini.

Untuk melawan itu semua, umat Islam tentu tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kerjasama dan sinergi dengan kelompok lain untuk mengatasi problem akut tersebut. Maka, doktrin al wala’ wal bara’ idealnya tidak dijadikan sebagai alat untuk membenci, apalagi menjustifikasi tindakan teror dan kekerasan. Di titik ini kita harus berani mengembangkan paradigma baru yang lebih relevan untuk situasi dunia yang majemuk dan terbuka ini.

Di dunia yang diistilahkan Karl R. Popper sebagai open society ini, manusia harus mengedepankan kolaborasi alih-alih kompetisi. Era kompetisi yang menganggap golongan lain sebagai saingan apalagi ancaman sudah berakhir. Inilah era dimana entitas atau kelompok yang berbeda bangsa, etnis, warna kulit, dan agama harus menjalin kolaborasi dan sinergi.

Berangkat dari argumen Popper ini, sudah selayaknya umat Islam meninggalkan doktrin al wala’ al bara’ yang segregatif. Sebaliknya, umat Islam harus mengedepankan sikap inklusif, yakni menempatkan kelompok lain dengan setara tanpa ada tendensi curiga atau membenci. Umat Islam harus mampu membuktikan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, dalam artian memiliki visi yang progresif dalam menyikapi dunia yang kian kompleks dan majemuk ini.

Facebook Comments