Jangan Mengotori Kalimat “Allahu Akbar” dengan Melecehkan Ritual Agama Lain!

Jangan Mengotori Kalimat “Allahu Akbar” dengan Melecehkan Ritual Agama Lain!

- in Suara Kita
109
0

Belum lama kita dihadapkan oleh dua kasus penyebar hoax dan ujaran kebencian. Kini, kita kembali dihadapkan oleh kasus pelecehan ritual keagamaan. Di mana, ada satu video yang menampakkan seorang Pria, membuang dan menendang sesajen di lokasi erupsi Gunung Semeru.

Peria itu, menghampiri tempat sesajen tersebut. Lalu berkata “Inilah yang justru mengundang murka Allah, tanpa disadari”. Lalu, Pria itu mengucapkan kalimat “Allahhu Akbar” dan seketika membuang serta menendang sesajen tersebut. Lalu pergi sambil mengucapkan kata “takbir” tanpa merasa bersalah atas apa yang dilakukan itu. Karena telah mengotori kalimat suci kebesaran-Nya untuk melecehkan keyakinan agama lain yang sangat tidak dibenarkan itu.

Karena, Allah SWT sangat melarang tindakan hal yang semacam itu. Sebagaimana (Qs. Al-An’am:108) menyatakan dengan jelas. Bahwasanya “Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas dan tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan”.

Dari ayat ini, kita begitu sangat dilarang untuk (mencaci). Apalagi, berada dalam taraf (membuang, menendang atau menghancurkan) ritual keagamaan. Tentu, ini sebetulnya sangat-sangat tidak dibenarkan dan Allah SWT sangat tidak menyukai hal yang semacam itu.

Bahkan, kiranya, perilaku seorang Pria yang menendang dan membuang sesajen di lokasi erupsi Gunung Semeru itu patut dihukumi oleh ayat (QS. al-Baqarah:114). Bahwasanya “Lalu, siapakah yang tepat dianggap lebih zhalim daripada orang-orang yang berusaha melarang dan menghalang-halangi disebutnya nama Tuhan di tempat-tempat peribadatan serta berusaha menghancurkan tempat-tempat tersebut. Padahal, mereka tidak berhak memasukinya kecuali dalam keadaan takut kepada Tuhan. Kelak, mereka (yang menghancurkan tempat-tempat peribadatan) akan mendapatkan kesengsaraan di dunia dan siksaan di akhirat”.

Ayat Al-Qur’an yang satu ini saya rasa sangat begitu cocok secara kontekstual. Ketika melihat segala perbuatan Pria yang menendang dan membuang sesajen milik ritual keagamaan orang lain itu. Karena, Sesajen kalau kita kuliti dan kita pahami, di sini merupakan kebiasaan masyarakat Hindu sebagai sarana upacara berkomunikasi dengan leluhur hingga kepada Tuhan. Dengan berbagai macam harapan dan pujaan. Sebagaimana konteks-nya di lokasi erupsi Gunung Semeru, yaitu demi keamanan dan keselamatan.

Sehingga, dari sini kita bisa memahami. Bahwa, Allah SWT di dalam (QS. al-Baqarah:114) itu sangat begitu cocok menghukumi Pria yang melecehkan ritual agama lain dalam bentuk membuang dan menendang sesajen. Di mana, di situ Tuhan disebutkan dan sebagai jalan beribadah mereka sesuai apa yang mereka yakini. Lalu, kita begitu mudahnya merusak membuang dan menghancurkan.

Lantas, bukankah tindakan yang demikian sebagai bentuk kezhaliman? Di satu sisi telah mengotori kesucian “Allahhu Akbar” dengan melecehkan ritual agama lain. Di sisi lain, telah melanggar segala larangan Allah SWT. Perihal jangan mencaci sesembah milik agama lain. Apalagi merusaknya. Hal itu justru sebagai sesuatu yang sangat dilarang dan dimurkai oleh Allah SWT.

Oleh karena itulah, kita jangan bertindak benarnya sendiri, merasa paling suci dan merasa paling authentic ajaran keagamaannya. Karena ini di satu sisi akan mencederai keragaman kita. Akan membuat kita tidak pernah harmonis. Serta, di sisi lain, perbuatan Pria yang melecehkan ritual agama lain itu merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Bahkan secara dalil Al-Qur’an, Allah SWT sangat jelas melarang dan melaknat perbuatan yang semacam itu.

Facebook Comments