Jangan Sekedar Jilbab, Sekolah Harusnya Tanamkan Harkat Martabat Perempuan di Sekolah

Jangan Sekedar Jilbab, Sekolah Harusnya Tanamkan Harkat Martabat Perempuan di Sekolah

- in Narasi
185
0
Jangan Sekedar Jilbab, Sekolah Harusnya Tanamkan Harkat Martabat Perempuan di Sekolah

Bukan hanya karena jilbab pelecehan seksual dan kekerasan perempuan bisa diamputasi. Banyak sekali pelecehan dan kejahatan seksual terhadap perempuan dilakukan kepada korban yang memakai jilbab. Bahkan dunia Pendidikan pernah dihebohkan dengan lembaga Pendidikan yang mengaku pesantren tetapi justru terjadi Tindakan kejahatan seksual.

Bukan pula karena jilbab seseorang bisa menjaga harkat martabatnya. Aurat yang sebenarnya adalah kehormatan dan harkat martabat perempuan yang harus ditutupi dan dijaga. Persoalan jilbab hanya dipahami sebagai kepatuhan beragama bukan sebagai cara agama menjaga harkat martabat perempuan dan untuk kepentingan perempuan. Ketika hanya dimaknai formalitas dan simbolik agama, ia akan menjadi bagian yang harus dipaksakan.

Di lembaga pendidikan kasus pemaksaan jilbab terus menerus berulang. Saya masih beri’tikad baik terhadap hal baik. Bisa saja guru melakukan itu sebagai bentuk kebaikan dari perintah agama. Karena jilbab dianggap sebagai ajaran agama, guru sebagai seorang yang mempunyai otoritas mewajibkan bahkan dengan paksa terhadap peserta didiknya.

Kesalahan berulang yang dilakukan oleh oknum guru sejatinya berangkat dari cara pandang mereka terhadap agama dan metode menyampaikan ajaran agama. Pengajaran doktrinal bahkan dengan paksaan dianggap absah dilakukan atas nama agama. Sekalipun di lingkungan Pendidikan negeri, guru memposisikan dirinya menjadi pemaksa dalam ajaran agama. Akhirnya, niat baik dan ajaran baik yang disampaikan dengan cara buruk melahirkan keburukan.

Lembaga Pendidikan, khususnya sekolah negeri, sejatinya tidak selalu berbicara pada ranah atribut agama tertentu, tetapi mengajarkan dan menanamkan nilai dan subtansi agama. Jilbab mempunyai ruh untuk menjaga aurat atau kehormatan dan martabat perempuan. Sekolah menjadi lembaga Pendidikan yang mampu memberikan ruang bagi penumbuhan sikap yang bisa menghormati perempuan.

Kenapa perempuan selalu menjadi korban pemaksaan? Di ruang sosial yang lebih besar dan di level usia yang remaja dan dewasa nantinya, perempuan akan menghadapi situasi sosial yang belum ramah terhadap perempuan. Pendidikan harus mampu mengajarkan kader perempuan yang Tangguh dan bisa menjaga harkat martabat secara setara dengan laki-laki. Bagaimana hal itu bisa terjadi jika di lembaga Pendidikan perempuan sudah mengalami depresi akibat intimidasi, pemaksaan dan sederet dosa sosial Pendidikan lainnya?

Lembaga Pendidikan sebagai unit sosial dalam mendidik dan membentuk karakter anak seharusnya mengarahkan peserta didik menjadi perempuan yang mampu menjaga harkat martabatnya. Persoalan jilbab hanya bagian cara dari agama menjaga harkat martabat, tentu bukan tujuan. Sebagai cara harus pula ad acara-cara lain yang harus dicari lembaga Pendidikan untuk mendidik perempuan yang mampu menjaga kehormatannya.

Pendidikan agama dalam pembentukan nilai, moral dan karakter merupakan elemen efektif untuk mendidik perempuan yang menghargai kehormatan dan martabatnya. Pendidikan agama bukan menjadi hakim yang kadang mendudukkan perempuan sebagai obyek yang harus ditutupi karena mengganggu pandangan laki-laki. Upaya membangun Pendidikan karakter perempuan yang bermartabat tidak hanya berlaku kepada perempuan tetapi juga kepada laki-laki baik siswa laki-laki maupun guru laki-laki.

Kembalikan ajaran agama yang memiliki tujuan mulia pada koridor dan metode yang benar. Jangan menggunakan metode intimidasi dan pemaksaan dalam menanamkan ajaran yang mulia. Kasus jilbab harus diarahkan bagaimana agama ingin perempuan bermartabat dan terhormat. Bukan sebagai ajaran doktrinal yang menghakimi perempuan yang tidak memakai jilbab sebagai sampah dan orang kotor di sekolah.

Guru agama ataupun guru pembimbing harus mempunyai mindset tentan tujuan luhur agama di tengah keragaman. Mereka harus mempunyai tujuan nilai etis dalam pembentukan karakter, bukan pengetahuan simbolik dan doktrinal keagamaan. Anak-anak peserta didik adalah manusia yang ingin dididik, bukan disidik dan dihardik.

Facebook Comments