Jangan Takut Imanmu Luntur Karena Menerima Pancasila! Belajar dari Abu Bakar Ba’asyir

Jangan Takut Imanmu Luntur Karena Menerima Pancasila! Belajar dari Abu Bakar Ba’asyir

- in Narasi
246
0
Jangan Takut Imanmu Luntur Karena Menerima Pancasila! Belajar dari Abu Bakar Ba’asyir

Kita tahu bersama. Sejak masa orde baru Abu Bakar Ba’asyir sangatlah memiliki pengaruh besar di dalam mencuci pola-pikir umat. Dia adalah creator ideologis sekaligus perintis gerakan radikal dengan misi dan tujuan menolak Pancasila. Membangun sebuah anggapan, bahwa menerima Pancasila berarti syirik dan mengorbankan imannya.

Namun, itu dulu. Karena, Abu Bakar Ba’asyir yang sekarang sudah tercerahkan. Bahwa, perjuangan menolak Pancasila semasa hidup-nya sebagai kesalahan yang sangat besar. Karena, menolak dan membantah Pancasila sama-halnya membantah dan menolak nilai-nilai luhur agama yang mengakar di dalam tubuh Pancasila itu sendiri.

Jangan Takut Imanmu Luntur!

Maka, dari sinilah korelasi etis-nya. Bahwa, janganlah takut imanmu luntur apalagi goyah karena menerima Pancasila. Sebab, menerima Pancasila bukanlah kesyirikan yang menyekutukan Tuhan. Melainkan, mengajak kita untuk taat dan patuh kepada Ketunggalan Tuhan. Juga, menerima Pancasila tidak akan membuatmu melanggar ajaran agama. Melainkan, diajak untuk menegakkan anjuran-anjuran agama.

Jadi, ikutilah hijrahnya Abu Bakar Ba’asyir itu. Dengan pikiran dan hati yang sangat tulus. Dia mampu memiliki semacam kesadaran. Bahwa, menerima dan meyakini Pancasila sebagai falsafah bangsa adalah bagian dari menjalankan prinsip etis keimanan yang sejati. Di mana, prinsip ketauhidan ada di dalamnya. Prinsip amal makruf nahi mungkar juga membentang di dalamnya.

Apa yang Membuatmu Ragu dengan Pancasila?

Apa yang membuatmu ragu dengan konsep utuh tentang Pancasila? Apakah karena buatan manusia? Lalu kita merasa itu dianggap “kotor” dan tidak layak. Lalu membenturkan dengan nilai agama? Jelas, itu sebagai kesalahan yang sangat besar sekali. Cobalah ikuti hijrah beserta alasan fundamental Abu Bakar Ba’asyir. Mengapa dia bisa menerima Pancasila sebagai pemahaman akhir?

Jelas, ini tidak terlepas dari isi di dalam Pancasila itu sendiri. Sebab, para ulama terdahulu tidak main-main merestui dan menerima Pancasila sebagai falsafah bangsa. Tentu benar jika Pancasila itu ditulis dan digagas oleh (manusia) yang tidak luput dari salah dan dosa. Tetapi kita harus tahu. Bahwa, nilai-nilai Pancasila itu bukan karangan dan hasil pikiran manusia secara organik.

Sebab, nilai Pancasila itu adalah hasil “olahan” nilai keagamaan sebagai basis utama (ruh) yang membentang di dalamnya. Artinya, para ulama terdahulu dan para pendahulu bangsa ini merancang nilai-nilai Pancasila itu tidaklah sembarangan. Melainkan, ada semacam ijtihad, pertimbangan etis keagamaan dan sosial realitas yang ada. Serta mempertimbangkan baik-buruknya bagi realitas sosial masyarakat yang majemuk agar tidak berpecah-belah.

Jadi, tidak ada alasan agamis apa-pun bagi kita untuk membantah, menolak, alergi apalagi mengatakan syirik terhadap Pancasila. Dengan melihat nilai-nilai yang terkandung di dalam-nya itu jauh dari dugaan dan prasangka buruk yang demikian. Maka, sekali lagi ikutilah hijrahnya Abu Bakar Ba’asyir itu. Guna menerima dan menjadikan Pancasila sebagai falsafah hidup berbangsa dan bernegara.

Pancasila Akan Membuat Imanmu Kokoh

Pancasila meniscayakan kita untuk patuh kepada Tuhan yang Esa. Sebagaimana, basis ketauhidan ini mengarah ke dalam wilayah: taat segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Sebagaimana korelasi dari ketaatan secara spiritual juga mengajak kita untuk berbuat baik terhadap sesama. Berbuat keadilan. Bersikap yang baik, tidak merugikan orang lain, saling tolong menolong dan jangan berpecah-belah.

Maka, semua nilai-nilai etis Pancasila yang demikian itu adalah (anjuran keagamaan) yang mengakar di dalam Al-Qur’an. Jadi, ini sebagai kebenaran etis. Bahwa, menerima dan menjadikan Pancasila sebagai falsafah bangsa, maka ini akan menjadikan kualitas iman kita akan semakin kokoh. Oleh karena itulah, jangan takut imanmu goyah karena menerima Pancasila. Cobalah ikuti jejak hijrahnya Abu Bakar Ba’asyir itu.

Facebook Comments