“Jihad Akbar” Pasca Perang Badar: Melawan (Nafsu) Kebencian!

“Jihad Akbar” Pasca Perang Badar: Melawan (Nafsu) Kebencian!

- in Suara Kita
224
0
“Jihad Akbar” Pasca Perang Badar: Melawan (Nafsu) Kebencian!

Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran akbar. Lalu sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab, “jihad (memerangi) hawa nafsu.”

(Rasulullah Saw)

Pada tanggal 17 ramadan tahun 2 H atau bertepatan dengan tanggal 17 Maret 624 M, terjadi perang besar antara orang-orang muslim dengan kaum kafir Quraisy. Perang itu disebut dengan Perang Badar. Pada perang itu, pasukan kafir Quraisy yang berjumlah 1000 orang berhasil dikalahkan oleh pasukan muslim yang hanya berjumlah 313. Kemenangan besar itu merupakan kemenangan pertama yang diraih oleh umat Islam. Pada perang itu, umat Islam yang gugur berjumlah 14 orang sementara dari pihak kafir Quraisy sebanyak 70 orang, termasuk Abu Jahal. Menurut para sejarawan, kemenangan pada perang badar menjadi pertanda awal kejayaan Islam.

Walaupun pihak umat Islam menjadi pemenang, mereka tidak berlaku semena-mena terhadap kaum kafir Quraisy. Rasulullah Saw., sebagai pemimpin memberikan teladan yang tiada banding. Muhammad Fethulleh Gulen dalam Cahaya Abadi Muhammad  mengatakan bahwa seusai perang, Rasulullah justru memperlakukan kaum musyrik dengan baik untuk memulihkan harga diri mereka yang hancur disebabkan kekalahan Perang Badar.

Padahal bisa saja, Rasulullah memerintahkan pasukan muslim membantai habis kaum kafir Quraisy yang telah menghalang-halangi dakwah Islam selama 13 tahun di Makkah. Akan tetapi, hal itu tidak dilakukan oleh Rasulullah. Satu dari banyak penyebabnya, karena Rasulullah tidak memiliki kebencian terhadap kaum kafir Quraisy!

Seusai Perang Badar, Rasulullah menegaskan kepada para sahabatnya, bahwa mereka baru saja pulang dari pertempuran kecil menuju pertempuran akbar. Para sabahat yang bingung–karena  mereka mengganggap Perang Badar adalah perang besar–kemudian  bertanya perihal pertempuran akbar itu. Rasulullah menjawab bahwa perang besar setelah Perang Badar itu adalah perang melawan hawa nafsu!

Merajalela

Hari ini, bumi Indonesia terasa panas sekali. Bukan karena iklim cuacanya yang memang sedang panas, bukan. Tetapi karena banyaknya hoax dan provokasi yang mengudara di langit-langit Indonesia. Hoax dan provokasi itu disebarkanluaskan melalui akun-akun media sosial dan aplikasi chating. Dan semua itu bermuara pada satu akar, kebencian! Ya nafsu berupa kebencian telah beranak pinak mewujud dalam berbagai bentuk. Memunculkan beragam varian yang kesemuanya sama-sama memiliki daya hancur yang luar biasa.

Baca juga : Mengeliminasi Benci

Parahnya, nafsu kebencian itu dirawat dan dipelihara untuk kepentingan golongan tertentu lalu digunakan untuk menghantam kelompok lainnya. Bukannya dipadamkan, nafsu kebencian dijaga eksistensinya dan diberikan bahan bakarnya. Pemelihara kebencian itu lupa atau memang tidak tahu, bahwa kebencian lah yang menyebabkan perang saudara antara Kurawa dan Pandawa di Padang Kurusetra dalam kisah Mahabharata.

Kebencian juga yang menyebabkan tewasnya tiga khalifah dari Khulafur Rasyidun, yakni Umar, Usman dan Ali. Ketiga orang mulia itu meregang nyawa ditangan para pembenci. Sedemikian hebatnya daya hancur sebuah nafsu yang salah satunya mewujud dalam bentuk kebencian, sehingga Rasululullah pun mengatakan bahwa perang melawan nafsu adalah perang akbar!

Memutus

Kebencian yang terus menerus dipelihara akan sangat berbahaya bagi keberlangsung NKRI. Apalagi, negara ini memiliki “bahan bakar” cukup sebagai pemantik kebencian. Misalnya seperti perbedaan agama, suku dan budaya. Selain menjadi anugerah, kesemuanya itu bisa digunakan oleh orang-orang tak bertanggung jawab sebagai “bahan bakar” untuk memantik dan memelihara kebencian.

Lihat saja beberapa kasus terorisme dengan bom bunuh diri. Itu adalah buah hasil kebencian yang dipelihara dengan menggunakan isu agama! Oleh karenanya, semua elemen harus berjuang bersama memutus rantai kebencian yang sudah berkembang demikian dahsyatnya di negeri ini.

Musuh alami dari benci adalah cinta. Itu bukanlah sebuah kebetulan semata. Maka, untuk memutus rantai kebencian hal yang utama untuk dilakukan adalah terus menebarkan cinta ke seluruh negeri. Terus mengajarkan bahwa berbeda itu sama sekali tidak masalah, bahkan malah indah. Terus memproduksi dan menyebarluaskan konten-konten penuh cinta dan kasih sayang sehingga mampu mengimbangi narasi-narasi kebencian yang disebarkan oleh mereka yang ingin negeri ini pecah.

Strategi melawan kebencian dengan cinta ini sesungguhnya pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah. Ia sama sekali tidak pernah membalas segala kebencian kafir Quraisy yang dialamatkan padanya. Sebaliknya, ia memberikan cinta kasih yang luar biasa kepada mereka. Dan tersebab itulah, mereka kemudian berbondong-bondong memeluk agama Islam.

Seperti rumus alam lainnya, api tidak bisa dipadamkan dengan api. Pun demikian dengan kebencian tidak akan padam dengan kebencian. Momentum bulan ramadan ini sudah selayaknya dijadikan momen yang pas untuk mendeklarasikan “berjihad” melawan nafsu berupa kebencian yang memiliki daya hancur luar biasa. Dan sebelum melakukan “jihad” melawan kebencian, sudah selaiknya, hati kita sendiri terbebas dari sifat benci terhadap siapa pun dan apa pun!

Facebook Comments