Jihad, Haji, dan Pentingnya Berbagi

Jihad, Haji, dan Pentingnya Berbagi

- in Suara Kita
144
1
Jihad, Haji, dan Pentingnya Berbagi

Ibadah haji menyimpan makna mendalam dan luas bagi umat Islam. Perjalanan ke Tanah Suci menjadi momentum berharga bagi seorang muslim untuk berkontemplasi dan mendekatkan diri kepada Illahi. Ibadah haji juga memerlukan perjuangan lewat perjalanan panjang melakukan berbagai ritual haji yang butuh kesiapan mental, fisik, jiwa, juga spiritual. Rangkaian perjalanan yang melelahkan tersebut mesti diniatkan semata-mata untuk mendapatkan rida Allah Swt.

Perjuangan tersebut kemudian membuat ibadah haji juga sering disebut sebagai bagian dari jihad. Dari beberapa hadis, terdapat keterangan mengenai posisi penting ibadah haji yang juga bisa dipandang sebagai bentuk jihad. Bahkan, bagi kaum perempuan, menjalankan ibadah haji dengan niat yang lurus dan diterima Allah (haji mabrur), menjadi bentuk jihad yang lebih utama. Aisyah r.a. berkata kepada Rasulullah SAW,” Wahai Rasulullah, jihad adalah amal yang paling utama. Bukankah kami harus berjihad?”. Nabi bersabda, “Untuk kalian (kaum wanita) ada jihad yang lebih utama, yaitu haji mabrur.” (HR Bukhari-Muslim).

Umat Islam wajib berjihad sebagai wujud ketaatan kepada Allah Swt. Namun, jihad tak melulu angkat senjata dan berperang. Jihad mengandung makna yang luas. Mengutip keterangan M. Sibromulisi (NU Online 23/5/2019), jihad dalam pengertian bahasa berasal dari akar kata jahd, bermakna “berusaha bersungguh-sungguh dengan mengerahkan segenap kemampuan”. Dalam makna luas, jihad juga berarti menanggulangi musuh yang tampak, setan, dan hawa nafsu. Menurut ulama, jelas Sibromulisi, jihad dalam dimanifestasikan dengan hati, menyebarkan syariat Islam, dialog dan diskusi dalam konteks mencari kebenaran, hingga berkarya memberi kemanfaatan bagi umat dengan melawan kekafiran.

Maka, jihad tak terbatas pada angkat senjata atau berperang. Namun, tak jarang di sebagian umat Islam, kata-kata “jihad” dimaknai secara sempit, bahkan diteriakkan untuk melakukan kekerasan, intoleransi, dan hal-hal yang bisa merusak keharmonisan hidup bersama. Oleh karena itu, di momentum bulan haji ini, menjadi penting bagi kita untuk kembali merenungi makna dari jihad yang memang bermakna luas, salah satunya dengan menjalankan ibadah haji (yang mabrur).

Baca Juga : Memaknai Haji, Ajang Jihad atau Sekedar Eksistensi

Haji dengan penuh ketaatan, niat tulus, ikhlas, dan semata-mata karena Allah Swt, sehingga ibadah haji bisa diterima Allah Swt, menjadi salah satu bentuk jihad yang bisa kita jalankan saat ini. Tapi, bagaimana jika kita belum memiliki kemampuan menjalankan ibadah haji? Bagaimana cara kita berjihad? Kita tahu, ibadah haji memerlukan biaya tidak sedikit, terutama untuk mengadakan perjalanan ke Kota Suci. Sementara itu, tidak sedikit umat Islam yang masih hidup dalam kekurangan.

Mabrur karena berbagi

Ada satu kisah menarik tentang seorang ulama dari Khurasan bernama Abdullah bin Mubarok. Seperti dikisahkan Syahruddin El-Fikri (Republika, 23/10/2012), Ibn Mubarok (118-181 H) adalah seorang umalam darii Marwaz, Khurasan yang mendambakan dua hal dalam hidupnya; haji dan jihad. Dua hal tersebut ia laksanakan bergantian setiap tahun, sesulit apa pun keadaanya. Jika tahun ini berjihad, tahun depan berhaji, begitu seterusnya.

Suatu ketika, Ibnu Mubarok bekerja keras mengumpulkan uang untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Uang pun terkumpul dan ia pun menjalankan ibadah haji. Namun, ketika selesai mengerjalan berbagai tahapan haji, ia tertidur dan bermimpi menyaksikan dua malaikat turun ke bumi.

Dua malaikat tersebut berbincang.“Berapa banyak jamaah yang datang tahun ini?” tanya malaikat ke malaikat yang satunya. “Enam ratus ribu orang,” jawab malaikat yang ditanya.“Tapi tak satu pun diterima, kecuali seorang tukang sepatu bernama Muwaffaq yang tinggal di Damsyik (Damaskus). Dan berkat dia, semua jamaah yang berhaji diterima hajinya,” jelas malaikat satunya.

Ibnu Mubarok terbangun mendengar percakapan tersebut. Ia ingin bertemu Muwaffaq dan mencarinya di Damsyik. Ketika bertemu Muwaffaq, Ibnu Mubarok menceritakan mimpinya. Muwaffaq menangis dan jatuh pingsan. Ketika sadar, Ibnu Mubarok memohon untuk menceritakan pengalaman berhajinya. Ia begitu penasaran apa yang membuat tukang sepatu tersebut menjadi haji mabrur, seperti dikatakan dalam perbincangan dua malaikat.

Muwaffaq pun berkisah. Selama lebih dari 40 tahun, Muwaffaq mendambakan pergi haji. Dengan berdagang sepatu, ia mengumpulkan uang hingga terkumpul 350 dirham. Saat Muwaffaq bersiap pergi haji, jelang keberangkatan sang istri yang sedang mengandung mencium aroma sedap menguar dari rumah tetangga. Muwaffaq pun mendatangi tetangga tersebut dan memohon agar diberi sedikit makanan tersebut untuk istrinya.

Namun, tetangga tersebut menangis dan mengisahkan bahwa sudah tiga hari ia dan anaknya tak makan. Ternyata, makanan tersebut berasal dari seekor keledai mati yang tergeletak dan terpaksa dimasak karena tak punya apa-apa lagi untuk dimakan. “Jadi, makanan ini tak layak buat kalian karena tidak halal,” kata tetangga tersebut pada Muwaffaq. Mendengarnya, Muwaffaq langsung mengambil tabungan 350 dirham—yang hendak ia gunakan pergi haji tersebut—lalu menyerahkannya kepada tetangganya itu. “Belanjakan ini untuk anakmu. Inilah perjalanan hajiku,” kata Muwaffaq.

Kisah tersebut memberi pesan mendalam akan pentingnya berbagi kepada sesama. Kisah Muwaffaq, yang menjadi “haji mabrur” tanpa ke Tanah Suci, namun lewat sedekah kepada tetangganya, menjadi simbol besarnya keberkahan berbagi pada sesama. Bahkan, karena kemuliaan hatinya membantu tersebut, Muwaffaq menjadi penyebab diterimanya haji enam ratus ribu orang lainnya yang berhaji.

Jihad itu penting dan kita bisa berjihad lewat menjalankan ibadah haji (mabrur). Namun, bagi kita yang belum mampu untuk ibadah haji, kita bisa bersedekah, membantu anak yatim, fakir miskin, dan saudara yang membutuhkan. Membantu anak yatim punya keutamaan besar, bahkan mandapatkan tempat begitu dekat dengan Rasulullah di surga. Nabi Saw. bersabda, “Aku dan penyantun anak yatim di surga nanti seperti ini”. Shahabat Sahal bin Sa’ad mengatakan,”Rasulullah memberi isyarat dengan jari telunjuknya dan jari tengahnya” (Hadis Bukhari dan Muslim).

Bagi orang-orang yang punya materi berlimpah sehingga bisa menjalankan ibadah haji setiap tahun, menjadi penting untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Lagipula, Rasulullah Saw, yang punya kesempatan berhaji 10 kali selama hidup, hanya melaksanakan ibadah haji satu kali. Menurut Ali Mustafa Yakub (2015), salah satu alasannya karena Nabi lebih mementingkan ibadah sosial. Seperti membiayai perang kala itu serta menyantuni banyak anak yatim dan janda-janda telantar yang suaminya gugur dalam peperangan. Wallahu a’lam..

Facebook Comments