Jihad Literasi untuk Kedaulatan NKRI

Jihad Literasi untuk Kedaulatan NKRI

- in Suara Kita
171
1
Jihad Literasi untuk Kedaulatan NKRI

Berbicara mengenai Indonesia kiranya, tidak bisa terlepas dari Islam. Bukan hanya Islam sebagai agama mayoritas, melainkan pula nilai-nilai keislaman telah banyak diterapkan di Indonesia.

Bahkan kelahiran Negara Republik Indonesia turut dibidani oleh umat Islam, salah satunya melalui ijtihad ulama. Bagaimana ulama-ulama terdahulu berjihad untuk kemerdekaan Indonesia, tentunya perlu dijadikan cambukan bagi umat Islam untuk mempertahankan NKRI.

Namun, realitanya dinamika politik di Indonesia, telah menggeser kesadaran umat Islam untuk melakukan jihad, seperti halnya yang dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu.

Jihad di sini bisa dimaknai sebagai suatu bentuk perjuangan di jalan Allah sesuai dengan syariat Islam. Artinya, jika berada di era perkembangan zaman ini, jihad bisa dilakukan dalam forma yang berbeda, tidak harus seperti ulama dahulu,  yang masih berperang melawan penjajah.

Ironi berinformasi kita

Dunia maya menjelang pemilihan presiden (pilpres) 2019 mengalami kekacauan. Netizen saling berbuat kekerasan virtual dan kekerasan simbolik. Untuk mengukur kekacauan di media sosial, selama bulan April 2019 Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat sebanyak 486 hoaks beredar di dunia maya. Sejumlah 209 di antaranya berasal dari kategori politik.

Baca juga : Saatnya kembali ke 03

Banyak pihak berharap kekacauan ini akan usai seiring dengan berlalunya pemilu. Ironisnya, Pilpres yang telah usai justru menyimpan kebencian di masing-masing pendukung. Tidak peduli meskipun mereka satu agama, bahkan sampai bulan Suci Ramadan tiba. Para pendukung fanatik rela membela pilihannya, meskipun harus mengotori bulan suci ini dengan ujaran kebencian, dan berita-berita bohong.

Adanya kemudahan mengakses informasi ternyata menjadi lahan subur untuk menyebarkan hoaks. Ditambah dengan kondisi masyarakat yang membudayakan share sebelum sharing. Bahkan, masyarakat sekarang bisa dikatakan tidak membutuhkan jurnalisme lagi. Mereka akan lebih mudah percaya dengan persebaran informasi melalui media sosial. Strukturnya cenderung serampangan, rawan disisipi informasi hoaks, serta tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ironis bukan?

Islam dan Spirit literasi

Berbicara mengenai literasi, pada hakikatnya Islam sangat lekat dengan nilai-nilai literasi. Spirit literasi sendiri telah ditunjukkan Allah, dalam wahyu pertama al-Qur’an, bagaimana Allah memerintahkan umatNya untuk berliterasi.

Literasi yang dimaksud di dalam al-Qur’an bukan sekadar proses membaca atau menulis. Melainkan pula mencakup proses memahami dan menganalisis keadaan yang terjadi. Sehingga informasi dan pengetahuan yang didapatkan tidak hanya dicerna sampai pada tataran permukaan saja, tetapi juga dianalisis hingga tahap yang paling mendasar. Kemudian baru menentukan sikap atas permasalahan yang terjadi.

Selain itu, ajaran Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap skeptis dan dewasa dalam intelektual. Artinya, bagaimana muslim bisa berpikir secara responsif dan metodis terhadap apa yang terjadi. Misalnya tidak menjustifikasi atau melabeli orang atau kelompok lain, karena berbeda pendapat.

Semangat literasi dalam Islam, juga ditunjukkan oleh para perawi hadis. Bagaimana ketika mereka mencari sanad sampai ke Nabi Muhammad, bahkan latar belakang dari masing-masing sanad juga harus diketahui dengan jelas. Di tambah lagi untuk menjadi seorang perawi hadis harus memenuhi syarat terlebih dahulu, seperti mempunyai ingatan yang kuat (dhabit), Terpercaya (tsiqqoh), dan lain sebagainya.

Hal di atas menunjukkan bagaimana harus jeli dalam mencari detail informasi sampai akarnya dan berhati-hati ketika mencari atau mendapatkan informasi apapun bentuknya dari siapapun.

Tentunya dengan spirit literasi yang diajarkan Islam, ketidakdewasaan intelektual seharusnya tidak akan pernah terjadi. Realitanya, sebagai muslim masih sering terjerembab dalam pusaran hoaks, bahkan menjadi bagian yang mnyebarkan hoaks. Bagaimana jadinya jika hal ini ini terus menerus terjadi?

Merawat sila ketiga

Baik pra atau paska pilpres, ternyata dinamika politik masih terus berkembang. Tentu kita telah melihat pertunjukan masyarakat dari satu suku, satu ras, satu iman, bahkan satu bangsa saling bertikai dan menghujat karena fanatisme pilihan politik. Hal ini, bukanlah suatu cerminan bahwa Indonesia sebagai negara persatuan.

Jika kita merenungi kembali sila ketiga dari Pancasila “Persatuan Indonesia”. Persatuan di sini juga bukanlah sekedar jargon yang bisa diteriakkan kapan saja, melainkan suatu perilaku yang bisa diterapkan. Apalagi sampai terjebak pada fanatisme yang membabi buta.

Sebab itu, persatuan di sini juga bisa dibangun dengan literasi yang melahirkan kedewasaan intelektual. Di mana literasi bisa berupa suatu sikap yang menentukan tingkah laku sebagai bagsa yang beradab. Bayangkan saja, bagaimana jadinya jika pertikaian terus menerus berlanjut, hanya karena perbedaan pendapat atau bahkan tokoh yang belum berkontribusi apa-apa?

Facebook Comments