Jihad Puasa: Mengendalikan Hawa Nafsu Kekuasaan

Jihad Puasa: Mengendalikan Hawa Nafsu Kekuasaan

- in Suara Kita
264
2
Jihad Puasa: Mengendalikan Hawa Nafsu Kekuasaan

Kerusuhan yang terjadi di Jakarta akibat menolak hasil Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2019 menjadi catatan sejarah bagi demokrasi di Indonesia. Atas nafsu kekuasaan politik para elit partai, membuat masyarakat berbondong-bondong ke Jakarta untuk menggelar aksi yang mengandung kerusuhan.

Pekikan takbir berkali-kali dengan aksi kerusuhan menjadi kemunduran umat muslim di Indonesia dalam beragama. Agama Islam yang sejatinya mengajarkan umat manusia untuk mempunyai akhlak yang baik, namun atas nama agama justru membuat kerusuhan dan merugikan banyak orang. Narasi yang dikembangkan oleh para demonstran dan kubu tersebut mengatasnamakan rakyat untuk mendelegitimasi hasil pemilu 2019. Pun dengan isu agama, mereka memaksa untuk mewakilkan suara umat Islam untuk perjuangan politik tersebut.

Segerombolan massa yang menyuarakan melalui demonstrasi tersebut, ingin menciptakan narasi bahwa rakyat Indonesia dan khususnya umat muslim menolak hasil pemilu. Kemudian banyak orang yang menolak diwakili paksa suaranya oleh mereka dengan gerakan hastag #TidakAtasNamaSaya. Gerakan tersebut menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh demonstran di Jakarta merupakan bukan aspirasinya, terlebih pada sikap-sikap kekerasan dalam menyampaikan pendapat dan berserikat.

Mengatasnamakan umat Islam, kemudian narasi yang ingin dibangun adalah jihad. Mengatasnamakan ulama, keterwakilan dari umat Islam kemudian klaim bahwa kerusuhan yang dilakukan atas nama Jihad adalah tidak benar. Apalagi perilaku yang ditampilkan tidak seperti akhlak sejatinya umat Islam.

Baca juga : Menahan Amarah dan Fitnah di Bulan Berkah

Logika dasarnya, tidak ada jihad yang membawa kemudharatan terhadap masyarakat luas. Serta tidak ada jihad yang dilakukan untuk kepentingan politik kekuasaan hanya demi memenuhi hasrat hawa nafsunya yang sangat tinggi untuk berkuasa. Jihad di dalam Islam adalah sesuatu yang suci.

Jihad pada hakikatnya adalah upaya yang sungguh-sungguh di jalan Allah dan sesuai dengan syariat Islam. Jihad diupayakan untuk menegakkan dan menjaga agama Allah dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan Rasul dan Al-Qur’an. Dari pengertian tersebut, sudah jelas bahwa Jihad bisa dimaknai secara universal. Jihad tidak hanya sebatas mengangkat senjata, berteriak takbir berkali-kali di jalanan tetapi dengan memukuli banyak orang, itu bukanlah jihad. Catatan yang paling penting adalah jihad harus sesuai dengan garis perjuangan Rasul dan Al-Qur’an.

Apabila di dalam suatu negara tidak ada kezhaliman terhadap umat Islam atau umat manusia yang lainnya, maka jihad mengangkat senjata sangatlah tidak relevan. Kalaupun terindikasi ada ketidakadilan dan kezhaliman yang dilakukan oleh otoritas kelompok masyarakat tertentu, maka hal yang bisa dilakukan dengan mengupayakan penyelesaian masalah melalui jalur hukum yang selama ini telah disediakan.

Narasi jihad di Indonesia ini tidak berdasar. Asumsi-asumsi yang dibangun tanpa adanya konfirmasi dan pembuktian, kemudian menyerukan untuk berjihad adalah pembodohan yang dilakukan para elit untuk kepentingan kekuasaan tertentu. Pemaknaan jihad hanya sebatas perang adalah pemahaman yang sangat sempit. Padahal jihad memiliki makna dalam semua sendi kehidupan manusia.

Saat ini kita menyaksikan ada sekelompok orang yang mengatasnamakan agama Islam, kemudian melakukan manuver politik dan menyerukan jihad kepada para pengikutnya. “Islam” tidak menjadi spirit untuk menolong bagi mereka yang dilemahkan, melainkan menjadi legitimasi untuk merebut kekuasaan dan melemahkan orang. Hal semacam itu mengandung kedangkalan bagi cara kita berislam. Islam yang seharusnya menjadi spirit kita untuk memperbaiki kehidupan sehari-hari, justru dijadikan legitimasi untuk melakukan kepentingan sekelompok orang dengan merebut kekuasaan.

Kalau dahulu, para tokoh bangsa berjuang melawan penjajah yang terang-terang telah merampas hak dan menindas rakyat. Justru saat ini masyarakat Indonesia kini melawan sesama masyarakat sendiri yang memiliki hawa nafsu kekuasaan yang tinggi. Nafsu kekuasaan seharusnya harus diletakkan pada taraf yang lebih arif daripada hanya sekadar mencari jabatan kemudian untuk melanggengkan kepentingan-kepentingan. Kekuasaan harusnya menjadi bekal seseorang untuk lebih luas menyebar kebermanfaatan terhadap masyarakat yang lebih luas lagi.

Pada bulan Ramadhan ini, kita sudah selayaknya tidak hanya sekadar berpuasa secara ritual fisik belaka. Tidak makan, minum dan menjauhi larangan yang menyebabkan batalnya puasa, melainkan juga berpuasa untuk mengendalikan hawa nafsu. Hawa nafsu apabila tidak bisa dikendalikan akan menyebabkan kemudharatan kepada masyarakat yang lebih luas. Peristiwa pada tanggal 21-22 Mei menjadi bukti bahwa hawa nafsu yang tidak terkendali akan menyebabkan kemudharatan bagi masyarakat luas.

Facebook Comments