Jilbabisasi dan Gagalnya Pendidikan Karakter Anak yang Tolerant

Jilbabisasi dan Gagalnya Pendidikan Karakter Anak yang Tolerant

- in Suara Kita
208
0
Jilbabisasi dan Gagalnya Pendidikan Karakter Anak yang Tolerant

Fenomena jilbabisasi secara paksa mulai kembali terjadi. Kasus ini berlangsung di sekolah negeri SMA 1 Banguntapan Bantul Yogyakarta. Dan miris-nya, praktik pemaksaan tersebut dilakukan oleh guru (BK) bimbingan konseling. Maka, praktik yang semacam ini jelas sebagai satu bukti. Gagalnya di dalam mendidik anak yang tolerant.

Karena, pada dasarnya. Sikap pemaksaan atau jilbabisasi anak di sekolah bukanlah solusi. Bahkan, ini masuk dalam kategori (pendidikan virus intoleransi) pada anak sejak dini. Apalagi seorang guru bimbingan konseling (BK). Seharusnya mampu memahami dan bisa memaklumi kondisi anak yang memang secara orientasi, tidak mau menggunakan Jilbab itu.

Pemaksaan Menggunakan Jilbab, Bolehkah dalam Islam? 

Jelas, Islam sangat melarang segala praktik pemaksaan. Sebagaimana di dalam konteks jilbab, seorang guru atau siapa-pun itu tidak berhak memaksa seorang murid untuk menggunakan jilbab apalagi bertindak secara paksa. Karena, ini sangat melanggar nilai-nilai Islam terkait larangan memaksakan kehendak dalam agama dan dalam banyak hal.

Sebagaimana di dalam (Qs. al-Baqarah:256) bahwasanya “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam. Karena sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada berhala dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat, yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi maha mengetahui”.

Dari ayat ini, kita seharusnya bisa sadar. Bahwa, dalam konteks keimanan saja, kita sangat tidak boleh memaksakan seseorang untuk masuk Islam. Apalagi dalam konteks jilbab. Sebab, memaksa seseorang (sekalipun itu baik) pasti akan menyebabkan problem baru. Jadi, jelas di dalam Islam praktik pemaksaan itu sangatlah dilarang dalam bentuk apa-pun.

Maka, langkah etis yang seharusnya dilakukan oleh seorang guru kepada anak didik di sekolah bukan dengan cara memaksa. Misalnya, ketika ada yang tidak mau atau merasa tidak nyaman menggunakan jilbab. Maka, jalan paling penting adalah (membuat anak tetap nyaman) belajar. Dan membimbing anak dengan pendidikan akhlak yang baik sebagai (substansi) penting dari fungsi menggunakan jilbab itu.

Karena, yang kita pikirkan saat ini. Adalah (problem) penting di balik pemaksaan atau jilbabisasi itu akan berdampak buruk bagi perkembangan anak di sekolah. Sebab, cara yang demikian akan membuat anak depresi, takut untuk masuk sekolah dan bahkan membuat psikis anak menjadi terganggu.

Memaksa Menggunakan Jilbab adalah Pendidikan Karakter Intolerant yang harus Dibuang

Seorang guru sejatinya harus sadar betul. Bahwa, memaksa murid didik di sekolah agar menggunakan Jilbab merupakan (kegagalan) di dalam mendidik karakter anak yang tolerant. Sebab, sikap yang demikian akan membangun semacam corak-karakter intolerant pada anak sejak dini.

Karena, sikap memaksa, sikap diskriminatif dan sikap intimidasi dari guru terhadap anak, utamanya dalam konteks memaksa anak menggunakan jilbab. Sejatinya akan menjadi (memori traumatic). Di mana, dia seolah mendapatkan pelajaran sikap yang berkaitan dengan pemaksaan kehendak terhadap sesuatu dan hilangnya sikap menghargai.

Sehingga, di sinilah titik problem penting yang harus kita benahi di lembaga pendidikan. Karena, problem sikap memaksakan menggunakan jilbab sejatinya akan menjadi satu kegagalan pendidikan karakter terhadap anak yang mengarah ke dalam penanaman bibit-bibit intoleransi terhadap anak. Jadi, mari kita bebaskan lembaga pendidikan anak dari sikap pemaksaan yang semacam itu.

Facebook Comments