Jilbabisasi, Radikalisasi, dan Pemaksaan Diri

Jilbabisasi, Radikalisasi, dan Pemaksaan Diri

- in Suara Kita
763
0
Jilbabisasi, Radikalisasi, dan Pemaksaan Diri

Radikalisme ternyata adalah juga sebuah problem yang konyol. Ia seperti halnya orang luar yang lazimnya ingin tampil melebihi keaslian orang dalam, sehingga dalam taraf tertentu, mampu menyingkirkan orang-orang yang dianggap sebagai orang dalam tersebut. Atau setidaknya, paham mereka yang diklaim sebagai paham yang sebenarnya mampu untuk menyingkirkan orang-orang yang tadinya dipandang sebagai orang dalam.

Kisah tumbuh dan matinya ideologi, yang tentu saja dalam arti negatifnya sebagaimana Karl Marx memandangnya, adalah kisah bagaimana yang dipandang tak asli ataupun yang luar akhirnya menyingkirkan yang sebermulanya dipandang yang asli ataupun yang dalam. Bukankah Karl Marx pernah menegaskan bahwa seandainya segala pemikirannya itu disebut sebagai marxisme, maka ia bukanlah seorang marxis?

Radikalisme Islam, dalam konteks ini, mulai dari atribut hingga pola pikir, adalah sebuah gejala dimana orang yang non-Arab ingin tampil melebihi orang Arab itu sendiri. Liberalisasi yang terjadi di Arab Saudi kini semakin menegaskan fenomena itu. Visi 2030 Pangeran Salman, yang membuat wajah sangar “wahabi” seakan luntur, seperti menyadarkan orang-orang radikal akan sikap meksa atau memaksakan diri untuk menjadi orang-orang konyol yang mengingkari fitrah mereka yang berhidung pesek, berpostur tak tinggi, dan hidup tanpa peyangga petro dolar yang membuat para wahabi di Arab sana tak perlu harus menjadi tukang bekam demi menafkahi isteri dan anaknya.

Jilbabisasi, yang entah demi waham lautan jilbab atau waham yang lain, yang kembali terjadi di salah satu sekolah umum dan negeri di Yogyakarta, adalah sebuah repetisi atas sikap meksa yang ternyata menjadi salah satu karakteristik dari radikalisasi yang biasanya terjadi di Indonesia. Lewat jalur yang pernah saya sebut sebagai “islamisme birokratik,” yang memiliki gaya yang berbeda dengan “islamisme kerakyatan,” orang-orang atau jaringan yang pada tahun 2017-2018 terbukti bersimpati atau bahkan memiliki afiliasi dengan HTI (Hikayat Kebohongan, Heru Harjo Hutomo, https://islami.co), berupaya memaksakan para anak didik mereka untuk mengingkari fitrahnya sebagai, untuk meminjam lelucon Abdurrahman Wahid, anak-anak yang secara kultural hidup berdampingan dengan Nyi Rara Kidul yang konon tak berjilbab.

Pengingkaran fitrah geografis, kultural, administratif dan yuridis tersebut, dengan dibarengi fakta liberalisasi yang terjadi di Arab Saudi kini, ternyata juga memantik perlunya para pengkaji dan peneliti radikalisme Islam merumuskan ulang tentang sentrum atau pusat yang biasanya menjadi alasan kaum radikal untuk membumihanguskan wilayah-wilayah pinggiran yang konon dipandang tak seislami wilayah pusat yang merujuk pada Arab.

Hal yang konyol lagi adalah bagaimana ketika istilah “Arabisasi” di zaman Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid dulu diterapkan pada konteks sekarang. Visi 2030 Pangeran Salman yang mengubah wajah Arab yang semakin liberal di masa kini, yang otomatis juga menyangkut pembasmian radikalisme Islam, justru akan menjadikan, seumpamanya, kasus pemaksaan jilbab di sekolah umum dan negeri tersebut tak terjadi. Bukankah di Arab, yang dulu dianggap sebagai sentrum kehidupan yang lebih islami, para perempuan tak lagi wajib tampil laiknya lautan jilbab di ruang publik?

Seperti halnya meneladani waham, kondisi atau tokoh-tokoh rekaan yang tak ada di kenyataan, radikalisme dan radikalisasi keagamaan di hari ini ternyata adalah sebentuk “cacat mental” ketika ditilik dari perspektif psikologi. Ia adalah bagian dari abnormalitas, sebuah delusi ataupun psikosis yang menyaratkan seseorang untuk memperbaiki kualitas hidup yang dipandang rendah dan buruk karena berbahaya bagi orang di sekitarnya. Oleh karena itu, pendidikan pada dasarnya adalah sebuah mekanisme untuk menormalisasikan orang. Akan konyol ketika dalam upaya itu sebuah lembaga pendidikan justru menjadikan orang untuk abnormal dengan cara meradikalisasikannya, entah dengan memaksanya untuk berjilbab dimana tak sesuai dengan aturan ataupun azas yang ada, atau juga sebaliknya, memaksanya untuk tak berjilbab yang juga tak sesuai dengan aturan ataupun azas yang ada.

Facebook Comments