Karib

Karib

- in Suara Kita
113
0

Apa makna hari raya kurban di hari ini, ketika caci maki, menang-menangan, aksi-aksi intoleran, bahkan terorisme seperti menjadi santapan harian, dan sayangnya selalu mengatasnamakan “Islam”?

Kurban mengisyaratkan adanya keikhlasan, sebuah laku yang berat tentu saja, atas tugas yang diamanatkan. Pada kasus Ibrahim dan putranya, Ismail, keikhlasan ini berkaitan dengan tugas dari Tuhan. Anak lanang bapak monoteisme itu disuruh disembelih, dikorbankan. Tak jelas apa kemauan Tuhan waktu itu.

Keikhlasan dalam kasus Ibrahim dan Ismail adalah semata keikhlasan tanpa adanya hitungan. Tak ada olah nalar, tapi semata iman yang tak membutuhkan pertanyaan. Pada kasus Ibrahim keikhlasan ini berhubungan dengan “kemelekatan.” Adapun pada kasus Ismail berkaitan dengan “keadilan” yang ternyata bukanlah soal proporsi.

Barangkali, lenyapnya rasa kemelekatan Ibrahim inilah yang menjadikannya, secara sufistik, seorang Bapak monoteisme. Berbicara Tuhan adalah berbicara hijab, sesuatu yang pelik, tersebab pembicaraan atasNya pun merupakan hijab tersendiri. Ada satu bait dari Wedhatama tentang hijab ini.

Tan samar pamoring suksma

Sinuksmaya winahya ing ngasepi

Sinimpen telenging kalbu

Pambukaning warana

Tarlen saking liyep layaping aluyup

Pindha pesating sumpena

Sumusup ing rasa jati

 

Tiada samar kumpulnya suksma

Manunggal dalam keheningan

Dipendam di pusat jantung

Tersingkapnya hijab

Tak ubahnya kantuk

Mimpi yang melesat

Menghunjam rasa hakiki

Pada sepupuh tembang pangkur itu membicarakan Tuhan dilakukan secara via analogia. Tapi pada kasus Ibrahim dan Ismail adalah secara via purgativa. Rasa kemelekatan Ibrahim pada Ismail merupakan sebentuk hijab yang mesti disingkap. Hal ini menyiratkan bahwa Tuhan tak menyukai adanya hijab. Terkadang, manusia sendiri yang justru menghijabNya.

Ada yang menarik pada titik ini saya kira: perihal maqam. Maqam Ismail terkesan lebih unik daripada maqam Bapaknya. Ibrahim perlu untuk menyembelih obyek kemelekatannya demi kekaribanNya, tapi Ismail mengikhlaskan dirinya sendiri untuk disembelih agar tak menjadi hijab antara kekariban Bapaknya dengan TuhanNya. Terlebih, bagi Ismail, hijab teragungnya adalah dirinya sendiri. Ia rela difanakan demi yang baka.

Dengan demikian, pada kasus Ismail, keadilan—dalam hubungannya dengan Tuhan—bukanlah sebentuk keadilan proporsional. Menuntut hak pada Tuhan adalah sebentuk kepongahan, tak tahu adab. Masihkah Ismail pantas menuntut haknya pada Tuhan ketika daya untuk menuntut itu pun adalah kasih dan karuniNya juga?

Facebook Comments