Kartini dan Spirit Perempuan Damai

Kartini dan Spirit Perempuan Damai

- in Suara Kita
246
0
Kartini dan Spirit Perempuan Damai

Kartini menyorongkan pembacaan yang kritis. Dimulai dari keranjingannya menuliskan segala ide-ide yang menggebrak kala itu, perempuan yang mangkat amat muda di usia 25 tahun itu, juga terbilang memecut kesadaran perihal bagaimana cara yang tepat memahami agama; utamanya pula bagaimana agama memosisikan peran perempuan. Kartini lantas berdialog intensif dengan ulama besar Jepara, Syekh Sholeh Darat. Langkah Kartini ini, bisa dibilang dirinya bak pelopor perempuan yang melakukan pembacaan kritis terhadap teks-teks agama, bukan sekadar menerima dengan nalar dogmatis.

Spirit pembacaan kritis terhadap ajaran agama yang dilakukan Kartini sebenarnya tindakan yang semestinya. Mengapa? Lantaran tanpa pembacaan kritis, dikhawatirkan tergelincir dari semangat damai sebagai benang merah agama. Kita bisa mengajukan argumen tentang urgensi ini mengingat pada hari ini, didapat keterlibatan perempuan telah menjadi aktor dalam tindakan sejumlah aksi terorisme. Celakanya, mereka mendasarkan langkah banal itu dari teks-teks agama yang dipahaminya secara harfiah dan dogmatis. Padahal, dalam pelbagai kajian, perempuan merupakan agen damai dan pelopor anti ekstremisme.

 Peran perempuan terbilang vital dalam ikhtiar menjaga toleransi berbasis pengalaman nilai kehidupan berpancasila serta UUD 1945. Peran tersebut membentang dari lingkup keluarga sebagai entri terkecil hingga tataran sosial-kemasyarakatan. Di lingkup keluarga, perempuan sebagai ibu berposisi berkelindan dengan tumbuh kembang anak. Sosok ibu sebisa mungkin membentengi anak dari ragam potensi kejahatan, termasuk bahaya laten ekstremisme dan sejenisnya.

Perempuan sebagai agen damai

Kajian ilmiah telah digelar; yang membuktikan bahwa perempuan senyatanya lebih toleran dan bernalar damai ketimbang laki-laki. Beberapa waktu lalu, Wahid Foundation bersama UN Women dan Lembaga Survei Indonesia menggelar survei dengan memotret tren toleransi sosial-keagamaan di kalangan perempuan muslim Indonesia. Survei yang melibatkan 1.500 responden di 34 provinsi itu menghasilkan simpulan yang mempertegas tesis di atas. Yakni: sebanyak 80,7 persen perempuan mendukung hak kebebasan menjalankan ajaran agama atau keyakinan masing-masing.

Lanjutan survei itu, dibanding laki-laki, perempuan jauh lebih toleran dan tidak bersedia radikal. Fakta ini hendaknya memberikan dorongan kepada para pemangku kepentingan dan masyarakat luas untuk menyorongkan secara lebih besar kesempatan terhadap kepemimpinan perempuan dalam merajut kohesi sosial serta mempererat ketahanan masyarakat. Masih dalam survei itu, ditemukan hal menarik lain, yakni: sebanyak 93,2 responden mengaku tidak pernah mengikuti pengajian berkonten menjurus ekstremisme. Terakhir, mayoritas perempuan Indonesia juga masih memandang Pancasila dan UUD sekarang adalah yang terbaik bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Imbas dari gelaran survei itu adalah agar sekiranya perempuan turut lebih aktif dalam tataran politik. Maklum, pada hari ini, baru 17 persen perempuan terlibat penuh di ruang Parlemen dari kuota 30 persen. Pun, setimpal dengan sedikitnya kepala daerah perempuan yang tercatat sebanyak 86 orang. Sorongan kepada perempuan macam ini bertujuan agar perempuan kian meneguhkan perannya sebagai penyampai perdamaian (messenger of peace). Sorongan ini dan realitas terhadap survei itu perlu dikemukakan lantaran selama ini, masih terdapat anggapan peyoratif dan bias jender bahwa perempuan dirasa kurang pantas, kurang cakap, dan kurang kapabel untuk menjadi pemimpin atau berpartisipasi di ranah publik.

Padahal, kepemimpinan dalam ranah politik dan sosial sebenarnya tidak berkait berurusan gender. Baik laki-laki maupun perempuan mempunyai hak setara. Dalam catatan sejarah Nusantara, justru menguarkan fakta menarik. Nusantara, yang selama ini lebih dicitrakan bercorak patriarki, nyatanya sudah sejak dahulu diketemukan tamsil kepemimpinan perempuan. Menariknya lagi, kepemimpinan perempuan terbilang menorehkan catatan emas. Adalah Ratu Shima, misal; seorang penguasa Kerajaan Kalingga yang terletak di Pantai Utara Jawa Tengah pada 674 M. Banyak riwayat membabar bahwa Ratu Shima merupakan sosok adil dan disukai rakyat. Begitupun hikayat Ratu Kalinyamat, seorang penguasa wilayah Kalinyamat yang sekarang dikenal dengan kota Jepara. Perempuan yang meninggal pada tahun 1579 M itu masyhur dengan lantang melawan kolonialis Portugis.

Nalar feminitas perempuan bakal menunjukkan wajahnya, bahkan mirip sebagai maskulinitas, saat berhadapan dengan bentuk-bentuk kezaliman. Perempuan juga bisa marah dan melawan atas polah-polah yang sewenang-wenang. Simak pula narasi tentang Malahayati. Seorang laksamana perempuan pertama dalam sejarah Nusantara saat Aceh pada kisaran jelang tahun 1600-an M. Malahayati dengan kecakapan dan jiwa leadership-nya memimpin pasukan untuk melawan kolonialis Portugis. Hal sama selanjutnya ditunjukkan oleh Cut Nyak Dien; perempuan pemimpin perang melawan penjajahan.

Maka, perempuan pun nyatanya bisa bertindak “agresif”. Namun, agresivitas yang berkait perlindungan kemartabatan diri dan memperjuangkan hak dan keadilan. M. Zaid Wahyudi dalam Kompas edisi 8 April 2018 memaparkan bahwa, pada dasarnya, perempuan juga memiliki semacam gen untuk agresif –yang selama ini terstigma didominasi laki-laki. Namun, variabel budaya, sosial, hingga genetika dari rentang sejarah panjang perjalanan manusia membuat pihak laki-laki lebih banyak melakukan agresivitas (baca: kekerasan) ketimbang perempuan.

Pada kurun waktu kini, dunia terbelalak oleh sosok Malala Yousafzai. Perempuan Pakistan tersebut bertindak “agresif” sebagai penyampai perdamaian. Ia agresif melawan kezaliman yang menghendaki agar perempuan tidak perlu bersekolah. Malala terus melangkah menuju sekolah. Ia mengajak perempuan-perempuan lainnya keluar rumah, pergi menimba ilmu.

Melek literasi kaum ibu  

Paparan di atas, juga menujukan simpulan bahwa perempuan mestilah berpunya seperangkat kecerdasan alias melek literasi. Luluk Asmawati (2017) dalam Konsep Pembelajaran PAUD menceritakan sosok Agus Salim, tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia itu, menyorot pentingnya kaum perempuan agar berpendidikan. Karena kaum ibu akan mengemban tanggung jawab besar mendidik anak-anaknya. Agus Salim menyorongkan istrinya, Zainatun Nahar, agar memperbanyak membaca. Banyak membaca melahirkan aneka pengetahuan dan tertibnya penalaran. Sehingga berdampak luas yang nantinya ditularkan kepada si anak.

Karena itu, perempuan/Ibu mestilah berada pada pemuliaan dalam pemerolehan pendidikan pula. Apalagi, dalam konteks tersebut, baik laki-laki maupun perempuan hakikatnya mempunyai kesamaan kesempatan dan akses pendidikan. Sabda Nabi, Thalabul ‘ilmi faridlatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin. Term “muslimatin” tersebut mengandung perintah eksplisit bahwa, perempuan berkedudukan setara dengan laki-laki dalam pemerolehan pendidikan. Petuah Nabi Saw tersebut makin menegaskan agama justru menjadi pendorong utama agar perempuan –dan laki-laki—semaksimal dan setinggi mungkin meraih pendidikan.

Kesadaran literasi menjadi titik tumpu para perempuan hebat. Aktivitas membaca dan menulis merupakan stimulus dan modal untuk mendobrak zaman. Kiranya, spirit/ghirah terhadap literasi tetap selalu diaktualisasikan hingga generasi perempuan saat ini. Perempuan Indonesia seyogianya menggandrungi membaca buku; demi anak-anaknya, pemartabatan sebagai manusia, keadaban keluarga, serta untuk kemajuan bangsa. Pungkas kata, spirit Kartini melalui kesadaran berliterasi utamanya pada perempuan, amat penting untuk selalu diwedarkan sebagai ikhtiar ejawantah perempuan damai.

Facebook Comments