Kaum Moderat Harus Berani Bersuara

Kaum Moderat Harus Berani Bersuara

- in Suara Kita
267
2
Kaum Moderat Harus Berani Bersuara

Narasi kebencian, intoleran, dan radikalisme semakin menguat di tengah masyarakat. Catatan Kontras (14/11/2018) menunjukkan, bahwa intimidasi dan kekerasan atas nama agama masih terus meningkat dan berulang-ulang dari tahun ketahun. Budaya damai dan saling memahami menjadi terpinggirkan. Media sosial adalah salah satu lahan subur bersemainya aksi-aksi yang kontra terhadap nilai-nilai persatuan. Sifatnya yang anonymous membuat setiap orang bisa dengan bebas membuat akun-akun penyebar konten intoleran dan penuh permusuhan.

Kaum radikal dan intoleran  sejatinya hanya berjumlah kecil. Mereka sedikit, tetapi berisik. Segelintir, tetapi terorganisir. Dengan membuat akun puluhan bahkan ratusan, mereka sudah bisa membuat wacana anti-kerhamonisan dan kedamaian. Dalam konteks inilah, kaum moderat harus tampil bersuara untuk melawan. Selama ini, kaum mederat lebih banyak menjadi silence moyority, banyak tetapi diam. Suara mereka tidak terdengar.

Sifat diam kaum moderat ini dengan apik sengaja dimanfaatkan pihak lain. Hanya bermodalkan video pendek, meme, foto berkualitas rendah dengan caption yang provokatif, kaum radikalis dan intoleran itu sudah dengan mudah mempengaruhi khalayak ramai. Jurus jitu, yakni dramatisasi dan pemelintiran pun bermunculan. Ingat, kebenaran yang tidak terorganisir bisa dikalahkan dengan kebatilan yang terorganisir.

Di tengah gemerlap media sosial, Indonesia butuh tokoh-tokoh yang berani dengan lantang menyuarakan pluralisme, menghargai perbedaan, dan memenusiakan manusia. Banyaknya tindakan ekstrim tidak lepas dari absennya para kaum moderat menyuarakan keberagaman. Sekaranng sedikit sekali yang berani melawan dan memberikan kontra wacana. Sebagian besar kaum moderat lebih banyak diam.

Baca juga : Moderasi Beragama Dalam Kebhinekaan

Akibatnya, saling asah dalam beragama dan saling asuh dalam kehidupan semakin terkikis dari masyarakat. Tindakan main hakim sendiri, menegasikan liyan, dan meprovokasi pihak yang berbeda semakin menyeruak di setiap lini kehidupan anak bangsa. Kita butuh orang-orang seperti Gus Dur, Cak Nur, Romo Mangun yang berani pasang badan melawan kaum radikal.

Pengarus utamaan toleransi dan mederasi bisa menggunakan media sosial sebagai instrumen. Kaum intoleran dan radikal memberikan pemahaman agama yang sempit yang kemudian diakomodasi oleh media sosial. Selama ini, kaum moderat  masih berfokus pada kerja-kerja formal: seminar, workshop, konferensi, dan sosialisasi ke instansi resmi. Cara-cara itu tentu sangat baik, tetapi belum cukup. Media sosial harus di maksimalkan. Memaksimalkan fungsi positif-konstruktif medsos sebagai wasilah untuk mengampenyekan nilai-nilai moderasi dan toleransi bisa dijalankan dengan menyebarakan konten-konten damai, video, dakwah, tulisan popular, mempromosikan rasa persaudaraan, dan memviralkan hal-hal yang bisa membuat masyarakat guyub dan harmonis.

Media sosial sekalipun bersifat maya, sangat efektif dalam mengampanyekan gagagasan. Pertarungan gagasan dan perebutan wacana adalah hal yang wajib dilakukan dengan kaum radikal. Mereka harus dilawan. Ini adalah jihad akbar dalam konteks sekarang. Melawan setiap upaya yang bisa merongrong kehidupan berbangsan dan bernegara wajib bagi setiap anak bangsa untuk ikut ambil bagian.

Watak asli masyarakat Indonesia adalah moderat dan toleran. Itu sudah dibuktikan dengan sejarah. Baik dalam dasar, falsafah, maupun dalam bentuk Negara. Masyarakat Indonesia tidak ekstrim kanan, mengambil apa saja saja yang datang dari luar, juga tidak ekstrim kiri, menolak apapun, tetapi mederat, yakni bersifat selektif-akomodatif. Adanya tindakan-tindakan anarkis dan radikal lain –baik itu di kehidupan sehari-hari maupun di dunia maya –hanyalah riak-riak kecil. Riak-riak itu membesar, sebab sebagian besar kita membiarkannya. Maka tindakan nyata, tidak ada jalan lain, kecuali lebih berani melawan dan bersuara.

Facebook Comments