Kearifan Lokal sebagai Deteksi Dini Paham Radikal

Kearifan Lokal sebagai Deteksi Dini Paham Radikal

- in Editorial
1161
1
Kearifan Lokal sebagai Deteksi Dini Paham Radikal

Sebagai negara yang multikultural, Indonesia terkenal dengan kekayaan kebudayaan, bahasa, ras, dan agamanya. Sejak dahulu hingga saat ini, kearifan lokal menjadi nilai yang terus hidup di tengah masyarakat sebagai cara pandang dalam menjaga keharmonisan dalam kebhinekaan.

Di dalam konsep Bhinneka Tunggal Ika terdapat kearifan lokal berupa ajaran hidup gotong royong, toleransi, kerja keras, dan saling menghormati. Dalam banyak prakteknya, kearifan lokal dapat dijadikan panduan dalam penyelesaian masalah perselisihan, konflik, kekerasan termasuk radikalisme.

Kearifan lokal tidak hanya menjadi strategi kultural dalam menyelesaiakan masalah (problem solver), tetapi juga bisa didorong menjadi deteksi dini (early warning system) bagi keberadaan ancaman paham radikal di tengah masyarakat. Hasil survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tahun 2018 menyebutkan bahwa kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat di berbagai daerah di Indonesia diyakini mampu menjadi penangkal serangan radikalisme dan terorisme.

Baca juga : Islam Indonesia: Inspirasi Bagi Perdamaian Dunia

Kearifan lokal tidak sekedar dimaknai secara sempit sebagai perayaan tahunan atau naskah kuno statis yang dimuseumkan. Kearifan lokal dalam bentuk tutur lisan, tata ruang, norma sosial dan seni kebudayaan merupakan cara pandang yang hidup (living paradigm) yang bekerja di ruang sosial sebagai perekat dan sumber kontrol moral masyarakat.

Paham radikal sebagai bibit munculnya kekerasan dan terorisme mudah diidentifikasi oleh masyarakat yang memegang teguh kearifan lokal. Cara pandang kelompok radikal yang mengedepankan intoleransi, anti sosial, doktrin kekerasan merupakan cara pandang yang bertentangan dengan falsafah lokal. Di sisi lain, dapat disaksikan bahwa paham radikal selalu memandang kearifan lokal yang mentradisi dalam masyarakat sebagai sesuatu yang harus dimusnahkan.

Kearifan lokal yang memelihara kebijaksanaan lokalitas merupakan tempat yang tidak nyaman bagi penyebaran paham radikal yang bersifat trans-nasional. kearifan lokal yang mempunyai ciri khas keragaman merupakan tempat yang tandus bagi tumbuhnya paham radikal yang memiliki karakater keseragaman.

Persoalannya adalah sejauhmana kearifan lokal hidup dan menjadi pegangan masyarakat. Di berbagai daerah banyak sekali kearifan lokal yang mulai punah dan dilupakan masyarakat. Menyalahkan masyarakat tentu saja bukan sikap yang arif.

Grand design pembangunan nasional, kalau mau jujur, belum sepenuhnya mampu mendorong optimalisasi kearifan lokal sebagai potensi transformasi sosial dan kultural. Justru sebaliknya, terkadang pembangunan dengan paradigma modernisasi justru memberangus kearifan lokal sebagai penghambat pembangunan.

Karena itulah, upaya membangun deteksi dini paham radikal dengan kearifan lokal harus dilakukan dengan mendorong rekayasa kebijakan yang mampu mengoptimalisasi daya fungsi kearifan lokal di tengah masyarakat. Revitalisasi kearifan lokal dalam arus pembangunan, modernisasi dan digitalisasi merupakan suatu keniscayaan.

Ada keterputusan generasi dalam mewariskan kearifan lokal yang pada gilirannya menganggapnya sebagai naskah kuno dan pandangan ketinggalan zaman. Pemerintah khususnya pemerintah daerah dan masyarakat harus kembali mengkampanyekan dan terlebih penting menghidupkan kearifan lokal sebagai nilai dan norma yang mampu mendeteksi paham dan ideologi yang merusak hubungan sosial masyarakat.

Facebook Comments