Kebangkitan Nasional Melawan Ekstremisme-Kekerasan Berdalih Agama

Kebangkitan Nasional Melawan Ekstremisme-Kekerasan Berdalih Agama

- in Suara Kita
232
0
Kebangkitan Nasional Melawan Ekstremisme-Kekerasan Berdalih Agama

Saban tanggal 20 Mei, kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional atau lazim disebut Harkitnas. Dari latar sejarahnya, Harkitnas mulai ditetapkan pada tahun 1959. Adapun tanggal 20 Mei dipilih karena bertepatan dengan hari kelahiran Boedi Oetomo. Pemilihan tanggal 20 Mei sebagai Harkitnas tentu bukan kebetulan belaka. Tersebab, kelahiran Boedi Oetomo di tahun 1908 merupakan tonggak awal munculnya kesadaran kebangsaan (nasionalisme) yang kelak  mengerucut pada perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dalam tinjauan historiografi, peristiwa sejarah idealnya dipahami bukan sebagai monumen yang beku dan statis. Sebaliknya, sebuah peristiwa sejarah hendaknya dilihat dari perspektif yang progresif dan ditafsirkan secara dinamis. Argumen itu kiranya relevan untuk memahami makna peringatan Harkitnas. Seperti kita tahu, Harkitnas identik dengan spirit melawan kolonialisme. Lantas, apa relevansinya dengan kondisi bangsa hari ini yang telah merdeka bahkan selama lebih dari tujuh dekade lampau?

Di masa lalu, lebih spesifiknya pada era dekade 1908-1928-an, kebangkitan organisasi pergerakan nasional lebih berorientasi pada bagaimana melepaskan diri dari kolonialisme dan membentuk negara yang berdaulat dan merdeka. Di era itu, nasionalisme dipahami sebagai semacam imajinasi sebuah bangsa atau negara yang otonom dan independen. Sebuah imajinasi yang dilatari oleh spirit egalitarianisme alias persamaan hak manusia.

Di era itu, spirit nasionalisme mewujud pada kerelaan masing-masing kelompok dan organisasi kepemudaan untuk melepaskan kepentingan sektoral dan ego primordialnya demi memperjuangkan kepentingan nasional. Dalam konteks kekinian, konsep nasionalisme revolusioner yang demikian itu harus diterjemahkan ulang dan diluaskan perspektif pemaknaannya.

Di era sekarang, komitmen kebangsaan idealnya tidak lagi berorientasi untuk melawan kolonialisme, melainkan untuk menangkal ancaman kebangsaan, utamanya yang berasal dari luar. Ringkas kata, nasionalisme harus menjadi senjata untuk melawan ideologi transnasionalisme bertopeng agama yang berkarakter intoleran, radikal, dan ekstrem. Seperti kita lihat dalam beberapa tahun terakhir, relasi keagamaan dan kebangsaan kita merenggang akibat merebaknya paham ekstremisme-kekerasan yang dilatari oleh konservatisme dan fanatisme keagamaan.

Menyuntikkan Spirit Nasionalisme untuk Melawan Ekstremisme-Kekerasan

Merebaknya ideologi transnasional bertopeng agama yang mempromosikan khilafahisme, daulahisme, dan sejenisnya tidak diragukan telah menyumbang andil para lunturnya nasionalisme. Terlebih di kalangan generasi muda kekinian. Janji-janji utopis gerakan Islam transnasional nyatanya mampu menarik simpati kalangan muda muslim milenial. Konsekuensinya, rasa cinta tanah air dan sikap setia pada ideologi bangsa, yakni Pancasila mau tidak mau mengendur.

Kondisi ini tentu membahayakan. Hilangnya nasionalisme di era transnasionalisasi ideologi keagamaan ini ialah jalan menuju kehancuran bangsa. Gerakan khilafahisme, daulahisme, dan sebagainya pada dasarnya tidak lebih dari neo-kolonialisme gaya baru. Jika dimasa lalu, kolonialisme didasari atas motif 3G, yakni Gold (emas), Glory (kejayaan), and Gospel (misi penyebaran agama), maka proyek khilafahisme dan daulahisme hari ini lebih dilatari oleh satu motif yakni will to power alias hasrat untuk berkuasa.  

Proyek mewujudkan berdirinya khilafah atau daulah Islam selama ini telah membidani lahirnya sejumlah tragedi kemanusiaan. Nalar ekstremisme yang mengarah pada kekerasan dan terorisme yang saat ini menghantui dunia erat kaitannya dengan suburnya ideologi keagamaan yang berorientasi pada kekuasaan dan kekerasan. Hampir semua organisasi teroris, mulai dari Jamaah Islamiyyah, Al Qaeda, sampai ISIS memiliki koneksi dan afiliasi dengan ideologi transnasional yang mengusung khilafahisme dan daulahisme.

Maka dari itu, peringatan Harkitnas kiranya bisa menjadi momentum agar kita sentiasa menyuntikkan spirit nasionalisme dan patriotisme di hati seluruh sanubari anak bangsa. Di masa lalu, kaum muda berani membuang ego sektoral dan sentimen primordial demi memperjuangkan kepentingan yang lebih besar, yakni kemerdekaan bangsa. Di era sekarang, kaum muda memiliki hutang kewajiban yang sama. Yakni mempertahankan bangsa dari gelombang neo-kolonialisme atau neo-imperialisme berbaju ideologi keagamaan transnasional.

Facebook Comments