Kebencian Itu Tidak Akan Tumbuh, Jika Mengikuti Nasihat Nabi Muhammad SAW

Kebencian Itu Tidak Akan Tumbuh, Jika Mengikuti Nasihat Nabi Muhammad SAW

- in Suara Kita
83
0

Terkadang berawal dari saling sindir, saling menyalahkan, saling merasa paling benar, tersulut api amarah, hingga emosi tidak terkontrol. Tiba-tiba, membuat kita “lupa diri”. Lalu muncullah kebencian, hinaan dan saling mencaci tanpa disadari. Setelah itu, mencari dalih apologies pembenar. Bersembunyi di balik (kebebasan) dan mati-matian membela terhadap segala perbuatannya yang memang jelas-jelas salah.

Contoh di atas, merupakan “skenario akar-rumput” di balik terbentuknya kebencian itu. Hingga, munculnya berbagai macam pembelaan yang sering-kali mengatasnamakan kebebasan demokrasi. Padahal, kalau kita telusuri lebih jauh, tampaknya tidak akan terbentuk kejadian-kejadian yang semacam itu jika kita bijaksana di dalam menjaga lisan kita.

Maka, di sinilah saatnya untuk kita belajar. Memahami nasihat Nabi Muhammad SAW. Perihal pentingnya menjaga lisan kita. Agar tidak terjadi berbagai-macam saling sindir, saling menyalahkan, merasa paling benar  dan munculnya perdebatan hingga berujung pada kebencian itu.

Karena, Nabi Muhammad SAW itu selalu menasihati kita. Betapa pentingnya menjaga lisan itu terlebih dahulu. Sebagaimana, yang diriwayatkan oleh (HR. Tirmidzi). Bahwasanya, Suatu ketika Nabi berbincang-bincang dengan Mu’adz bin Jabal. Lalu, beliau berkata “Maukah kuberi-tahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?”. Lalu, Mu’adz bin Jabal menjawab, “Iya mau Wahai Rasulullah”. Dari situ, Nabi Muhammad SAW seketika langsung memegang lidahnya dan bersabda, “jagalah ini”.

Hadits ini, kita bisa memahami, bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan satu point penting, Bahwa, kunci dari semua perkara itu terletak di lidah atau dalam maksud, terletak dari apa yang (dibicarakan). Sebab, ketika kita tidak bisa menjaga lisan kita, maka di situlah terkadang akan menyakiti orang lain dengan perkataannya. Atau, sebagaimana dalam konteks kita hari ini, yaitu penuh kebencian, hinaan dan cacian yang akan memecah-belah bangsa.

Di hadits lain, yang diriwayatkan oleh (HR. Bukhari). Bahwasanya, Nabi ditanya perihal Siapakah Muslim yang paling utama? Nabi menjawab “Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari perbuatan buruk kepada orang lain”. Oleh karena itulah, kita sebagai umat Islam, jangan membawa ajaran-ajaran agama untuk membenci apalagi menghina agama lain.

Sebab, Nabi Muhammad SAW dalam hadits tersebut menyatakan secara jelas. Bahwa, sebaik-baik atau Muslim yang paling utama, adalah mereka yang mampu menjaga lisan dan tangannya agar tidak berbuat buruk kepada orang lain. Sehingga, ini sangat-sangat penting untuk kita ingat.

Karena, ketika kita tidak bisa menjaga lisan kita, di situlah kadang yang muncul sering-kali memecah-belah, menyulut api emosi dan bahkan berujung pada kebencian itu sendiri. Maka, ini menjadi tamparan keras bagi kita semua. Sebagaimana, lisan kita perlu kita jaga, karena kebencian itu selalu datang dari keteledoran kita sendiri. Bahkan ketika kita tidak menjaga tangan kita, di situlah kita begitu doyan untuk menyebarkan hoax dan membuat cuitan di sosial media yang melecehkan atau menghina agama lain.

Di dalam hadits lain yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah RA. dalam (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Nabi Muhammad SAW Bersabda, bahwasanya “Barang siapa yang beriman kepada Allah SWT dan kepada hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. Hadits ini, memberikan satu pesan penting dari Nabi Muhammad SAW. Bahwa, kita selalu diperintahkan oleh Allah SWT untuk berkata dengan kata-kata yang baik. Kalau tidak bisa, lebih baik diam. Karena, hadits tersebut mengacu kepada kata iman kepada Allah SWT dan hari akhir. Dalam maksud, ketika kita berkata buruk atau penuh kebencian, maka di situ akan ada balasan.

Maka, dari tiga hadits saja ini, kita seharusnya paham betul. Untuk mengamalkan betul, perihal nasihat Nabi Muhammad SAW tentang pentingnya menjaga lisan kita. Untuk berhati-hati, untuk selalu tidak banyak bicara atau kita selalu berbicara atau berucap yang baik. Karena, sebagaimana yang telah saya sampaikan di atas, kebencian selalu tumbuh ketika kita tidak bisa mengontrol lisan kita. Dan kurangnya hati-hati dalam menjaga setiap ucapan kita. Apakah menyinggung, menyakiti atau berpotensi membenci.

Facebook Comments