Kejawen, Moderasi, dan Toleransi

Kejawen, Moderasi, dan Toleransi

- in Kebangsaan
425
1
Kejawen, Moderasi, dan Toleransi

Pada dasarnya “Jawa” tak sekedar sebuah etnis ataupun kebudayaan. Ia adalah sebuah pandangan hidup yang kemudian dikenal sebagai kejawen, atau ketika bersinggungan dengan agama, Islam Jawa, Kristen Jawa, Hindu Jawa, dst.

Sebagai sebuah pandangan hidup tentunya tak hanya orang yang berasal dari etnis Jawa saja yang mempraktikkan kejawen itu. Dalam bahasa keseharian orang Jawa istilah “Jawa” juga merupakan sebuah kategori ataupun tanda kedewasaan seseorang.

Orang yang dikatakan belum atau bahkan tak tahu adab lazimnya akan disebut sebagai “oang yang belum Jawa” (durung njawa). Maka istilah “Jawa” dalam hal ini berkaitan dengan nilai kepantasan dan ketakpantasan yang akhirnya adalah sebuah konvensi.

Tan Khoen Swie adalah seorang yang berasal dari etnis China yang menganut kejawen, dimana kesusastraan klasik Jawa cukup berutang budi padanya yang secara telaten mendirikan penerbitan khusus karya-karya sastra Jawa pada awal tahun 1900-an. Laura Romano dan Paul Stange adalah dua di antara beberapa praktisi dan peneliti hidup (orang dalam) yang berasal dari Barat yang sejak dekade 70-an menjadi orang Sumarah dengan segala kejawaannya.

Ketika sudah menginjak tataran inilah, maka Jawa—atau lebih tepatnya kejawen—sudah merupakan hikmah atau kebijaksanaan perenial yang dapat mengatasi segala sekat biologios dan politis yang tentunya juga bersinggungan dengan hikmah-hikmah perenial yang dimiliki oleh etnis ataupun bangsa lainnya.

Atas dasar hal inilah tak muskil seandainya agama-agama besar yang tumbuh di Nusantara juga dapat berkawinsilang dengannya sehingga melahirkan fenomena Islam Jawa, Kristen Jawa, dst. Taruhlah saat menjelang dan sesudah bulan Ramadan, lazimnya waktu itu tak melulu menjadi monopoli orang Islam.

Banyak pula orang-orang non-muslim yang pergi ke makam-makam leluhurnya untuk bersih-bersih dan berdoa di akhir bulan Ruwah, yang secara kerata basa, berkaitan dengan istilah “arwah.” Demikian pula sesudah bulan Ramadan, ketika Idul Fitri tiba, yang dalam budaya Jawa lebih dikenal sebagai “ariyadi” atau hari besar, tak melulu orang Islam yang merayakannya dengan bermaaf-maafan. Orang-orang non-muslim di pedesaan pun turut pula untuk merayakannya.

Maklum, ketika agama sudah bersinggungan dengan budaya lokal, yang terjadi bukan lagi sebuah penebalan sekat identitas yang berbasis agama. Pada sesama orang Jawa, khususnya yang masih berlaku di pedesaan, kultur tradisional Jawa rupanya mampu menerjemahkan sifat inklusif yang dimiliki oleh agama-agama yang ada.

Bukankah dengan menyebut Idul Fitri dengan istilah “ariyadi” membuktikan bahwa peristiwa yang terjadi di hari-hari itu tak melulu ada atau bahkan dianjurkan dalam agama Islam belaka, namun merupakan sebuah peristiwa kemanusiaan yang mengatasi segala sekat?

Dalam hal inilah kemudian kearifan-kearifan lokal yang ada, sebagaimana kejawen yang hadir dalam bentuk kapitayan atau aliran-aliran penghayat kepercayaan, bukanlah sebuah batu sandungan bagi agama-agama yang ada. Justru, kearifan-kearifan lokal itu dapat menjadikan sebuah agama bersifat auchthonous atau tak asing bagi tempat dimana ia berpijak.

Di samping itu, ternyata kearifan-kearifan lokal, karena berpijak pada akar budaya yang sama, mampu menjadikan perbedaan agama bukan sebagai sebentuk petaka. Penganut Islam Jawa seumpamanya, akan sedemikian mudahnya memahami penganut Kristen Jawa tersebab masing-masing tak meninggalkan kejawaannya sebagai basis pemahaman dan praktik keagamaannya. Dengan demikian, kearifan-kearifan lokal yang ada justru dapat meminimalisir potensi radikalitas dalam beragama sehingga moderasi dan toleransi lebih dapat dimungkinkan.

Facebook Comments