Kekerasan Atas Nama Agama Bermula dari Fanatisme

Kekerasan Atas Nama Agama Bermula dari Fanatisme

- in Suara Kita
723
0
Kekerasan Atas Nama Agama Bermula dari Fanatisme

Saat ini, isu kekerasan yang mengatasnamakan agama merupakan fenomena transnasional yang mampu menghasilkan tragedi kemanusiaan yang paling sadis. Banyak sentimen mengatasnamakan agama dan kebenaran bahkan mengatasnamakan Tuhan sebagai pembenaran terhadap tindakan yang mengingkari kemanusiaan. Fakta sejarah telah membuktikan berapa korban berjatuhan akibat tragedi yang menjadikan agama sebagai justifikasi kebenaran.

Banyak manusia yang menyajikan panggung kekerasan mengatasnamakan agama selalu memainkan sentimen atas nama perbedaan. Kekerasan dianggap absah sebagai hukuman paling yang bertindak sebagai pengadilan di muka bumi. Bertingkah seolah sebagai wakil Tuhan yang bisa mengalirkan darah atas nama “tugas suci”.

Saya sejatinya menjadi setuju dengan pernyataan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Brijen Pol R Ahmad Nurwahid yang menegaskan kejahatan yang paling dibenci adalah kejahatan yang mengatasnamakan agama. Kejahatan mengatasnamakan agama bisa membuat pelaku menjadi merasa benar dengan tindakan yang dilakukan. Bahkan seseorang bisa menjadi lebih brutal dengan tindakan yang dibenarkan. 

Padahal jika ditilik lebih dalam, agama adalah jalan damai yang memberikan arah dan panduan kepada manusia di tengah keragaman. Perbedaan dalam bentuk pemahaman keagamaan bisa menjadi kekuatan dalam membangun kebersamaan demi kemajuan dan kekuatan umat manusia. Kegagalan dalam mengelola perbedaan menyebabkan sentiment agama. Kegagalan dalam mengatasi sentiment agama akan melahirkan kekerasan atas nama agama.

Munculnya sentimen dalam beragama ini karena banyak didominasi karena unsur ketidaksukaan terhadap yang berbeda dan unsur egoisme mayoritas. Apabila manusia tidak bisa mengelola sentimen dengan baik, akan banyak kekerasan yang mengatasnamakan agama yang akan merugikan dan merusak citra agama.

Sentiment beragama sejatinya lahir dari fanatisme yang berlebihan dalam beragama. Fakta sejarah membuktikan bahwa sentiment dan fanatisme keagamaan telah memberikan andil besar dalam sejarah tragedi kemanusiaan yang memakan banyak korban. Sentimen dan fanatisme agama merupakan penyakit yang merusak tujuan esensial agama. Karena tidak ada satupun agama yang membenarkan kekerasan.

Mengobati Fanatisme dan Sentimen Agama

Mengobati fanatisme agama akan mengurangi sentiment agama. Sementara mengurangi sentiment agama akan mereduksi perilaku kekerasan yang sering mengatasnamakan agama. Lalu, bagaimana mengobati fanatisme. Ada dua hal yang perlu menjadi kesadaran bersama dalam beragama.

Pertama, bersikap pertengahan. Nabi bersabda : ”khairul umuri awsathuha” (sebaik-baik urusan adalah pertengahan). Berlebihan dalam mencintai sesuatu termasuk fanatisme beragama adalah hal yang dapat menghantarkan keburukan. Beragama tidak boleh berlebihan. Fanatisme buta melahirkan kebencian terhadap yang berbeda.

Karena itulah, sikap pertengahan adalah dengan tidak bersikap abai terhadap keyakinannya, tetapi tidak juga benci terhadap yang berbeda. Bersikap pertengahan dengan cara menjadikan agama sebagai jalan bersama dalam kebaikan.

Kedua, beragama harus menjadikan seseorang untuk menjadi manusia terbaik. Kriteria manusia terbaik adalah seperti sabda Rasulullah : Khairun nas anfa’uhum lin nas (sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi sesamanya). Bukan umat beragama jika justru menjadikan agama untuk berbuat buruk dan merugikan orang lain. umat beragama harus menjadi pribadi yang baik yang dapat memberikan manfaat kepada yang lain.

Jadi, hal terbaik dalam beragama adalah selalu bersikap adil. Dan hal terbaik dalam diri umat beragama adalah ketika ia mampu mendatangkan manfaat bukan mudharat bagi yang lain. menjadi pribadi terbaik tidak akan menimbulkan kerugian kepada siapapun tanpa melihat latar belakang yang berbeda.

Facebook Comments